Judul: Gay Pilihan Jalan Hidupku
Penulis: Sucipto
Penyunting: Amen Budiman
Penerbit: Mimbar Media Utama, Semarang
Cetakan: I, 2009
Tebal: 235 halaman
ISBN: -

Photo Gay Pilihan Jalan HidupkuGerakan LGBT Indonesia patut berterimakasih pada Amen Budiman karena menemukan naskah ini. Naskah langka di Museum Nasional Indonesia, disunting, lalu diterbitkan menjadi buku ini. Cerita Sucipto, priyayi Jawa awal abad XX, yang dituturkan autobiografi. Bisa jadi, inilah cikal sastra homoseksual modern Indonesia berlatar penjajahan Belanda.

Kehidupan Indonesia di tahun 1920-an adalah pergulatan orang-orang Belanda, Tionghoa, Arab, dan Pribumi. Dinamika sosial carut-marut oleh tarik-menarik kepentingan. Irisan di dalamnya, hubungan homoseksual lintas profesi, seperti pejabat pemerintah, polisi, tentara, pedagang, dokter, guru, dan sebagainya. Di sisi lain, hukum mengatur homoseksual sebagai tindak pidana. Kasus Residen Batavia, Mr Fiever de Malinez yang bersetubuh dengan lelaki muda di hotel Tionghoa, Bandung, membakar jenggot pemerintah Hindia Belanda. Bergulir, tahun 1938 terjadi penangkapan homoseksual di berbagai daerah: Batavia, Semarang, Surabaya, Bandung, Cirebon, Cianjur, Salatiga, Magelang, Yogyakarta, Malang, Pamekasan, Medan, Belawan, Padang, Palembang, Makasar, dan kota kecil lain.

Sucipto, salah satu yang selamat dalam penangkapan ini. Lalu menuliskan kegundahan hatinya dalam bentuk cerita autobiografi, dari kecil sampai beranjak dewasa. Ia yang berasal dari priyayi Jawa harus terlempar dari keluarga karena Ayahnya menikah lagi. Hidup bersama Ibu dan Ayah tirinya yang kejam. Lalu keluar rumah lagi, hidup bersama neneknya. Tak kuat, lalu menggelandang dari satu kota ke kota lain tanpa arah tujuan. Ketegaran jiwanya diuji konflik keluarga terus-menerus, cinta pertama yang kandas, pencarian jati diri, dan tekanan bertahan hidup mengisi perut.

Titik-titik pergolakan menguat saat bercinta kasih dengan pemuda beda sekolah, yang dipujanya habis-habisan, terpaksa pindah ke Malang. Kehidupan jalanan, menyambung hidup menjadi juru parkir di Surabaya. Membaik dengan uluran tangan seorang Belanda, yang menghidupinya. Tubuhnya diserahkan setiap malam demi kelanjutan hidup. Tak kuat. Menggelandang lagi di jalanan, menjajakan tubuhnya untuk lelaki yang sudi memberinya uang. Perkenalannya dengan Sukran mengakhiri cerita ini, yang dituturkan sebagai lelaki terakhir yang dicintainya.

Penting menyimak cerita Sucipto sebagai pembanding dengan kehidupan homoseksual sekarang. Ternyata, jejak sejarah berulang. Kasus diskriminasi penangkapan, perkara pekerja seks, cinta kandas, dan kerentanan hidup dalam konflik sosial seolah putaran tak putus. Di sisi lain, buku ini mengungkap fakta tak terbantahkan, kehidupan homoseksual mengakar kuat sejak zaman penjajahan Belanda.

Madiun, 15.12.2014, 10.41 WIB

Judul: Ini Dia, Hidup
Penulis: Ezinky
Penerbit: Kebun Ide, Jakarta
Cetakan: I, Desember 2004
Tebal: 228 halaman
ISBN: 979-99082-0-5

Photo Novel Ini Dia HidupDua pasangan kekasih mencoba meyakinkan diri, selalu ada harapan cinta. Pada prosesnya, kehidupan gay bukan semata masalah pilihan, juga kesiapan melakukan pengorbanan. Mengungkapkan kebenaran, berkaitan penderitaan. Pada akhirnya, setiap jiwa mengepakkan sayap, mencari relung terjujur di lekuk kedirian, menyatakan eksistensinya. Inilah kisah pencarian itu: Haikal Azad dan Adam Krisanto; Kilby Delizea dan Seth.

Di Jakarta, Haikal Azad, seorang manager produksi di Futuristica, jatuh cinta pada Adam Krisanto, satpam di perusahaan tersebut. Haikal Azad mendobrak pandangan keluarganya yang menganut Islam konservatif. Lebih dari itu, Haikal Azad dituntut meyakinkan Adam Krisanto yang sempat putus asa dengan menikahi Tiwi, perempuan yang sama sekali tidak dicintainya.

Di Inggris, Kilby Delizea, seorang guru lulusan Oxford University, menjalin hubungan dengan Seth, seorang penderita HIV & AIDS. Kilby Delizea berusaha bertahan dari cercaan masyarakat yang homophobia, pelecehan pada pasangannya, tekanan di tempat kerja, sekaligus meyakinkan Seth untuk terus berjuang melawan penyakitnya.

Meskipun perjuangan keduanya berhasil, ternyata harus dibayar pengorbanan yang berat. Haikal Azad harus memutuskan hubungan dengan ayahnya dan Kilby Delizea harus ikhlas saat Seth meninggal dunia. Novel ini diakhiri momen mengharukan saat Haikal Azad dan Kilby Delizea bertemu di Jakarta.

Hampir dua tahun saya tinggal di Madiun. Selama itu pula saya hidup dalam kenyataan ganda. Tubuh di Madiun, tetapi hati dan pikiran mengembara di Surabaya. Seperti meninggalkan kekasih, tetapi terperangkap masa lalu dan tak ada daya menghadapi masa depan. Sesak dan perih sekali.

Saya telah melepas pekerjaan sembilan tahun di pabrik, mengabdi menjadi aktivis dan penulis, lalu terlempar ke kampung halaman, pengangguran. Di Madiun, saya jungkir-balik mempertahankan hidup, demi perut. Mimpi besar, cita-cita tinggi, idealisme kuat, bak bintang di langit. Indah, mengecoh, tak terengkuh jemari. Lunglai.

Setiap malam saya tak bisa tidur nyenyak. Sesuatu mengacaukan jiwa. Saya merasa tugas di Surabaya belum selesai. Tugas apa, sejujurnya saya tak tahu. Pilihan saya terjun menjadi aktivis dan penulis bukan untuk kepentingan pribadi. Melainkan kemajuan LGBT dan sastra Indonesia. Saya telah melakukan semua kegiatan pergerakan. Bikin majalah, pagelaran buku, diskusi, sampai demonstrasi. Seharusnya saya puas dan bilang cukup. Namun suara dari dalam jiwa menyerukan: tugas belum selesai, belum apa-apa, perjalanan masih panjang.

Seringkali saya menghibur diri sendiri. Sudahlah, Antok. Kamu telah mempertaruhkan separuh hidup untuk gerakan. Sekarang saatnya putar haluan menata hidup. Jualan cilok atau dagang sembako. Bukankah perut harus diisi, tuntutan hidup kian banyak. Hidup akan lebih mudah kalau kamu menyembah uang, bukan menyembah kemanusiaan. Tetapi, suara dari dalam jiwa kembali melarang. Antok, tugas belum selesai, belum apa-apa, perjalanan masih panjang. Jadilah saya pesakitan tanpa tahu arah tujuan. Mimpi kembali hidup di Surabaya. Namun terperangkap di Madiun.

Saya paham, rindu berkarat bisa berimbas ke kesehatan. Saya tak mau jatuh sakit. Sebagai obat rindu, saya memantau kehidupan Surabaya. Kegiatan teman-teman aktivis, berbagai acara, juga dinamika pergerakan LGBT dan sastra. Saya lega, sisa-sisa sejarah, di mana saya terlibat di dalamnya, masih hidup di sana. Taman-taman, warung kopi, para gay dan penulis baru bermunculan. Saya terharu mengenangkan indahnya kumpul-kumpul di Taman Bungkul atau diskusi di Taman Apsari. Atau sekedar menongkrong di Pataya. Percakapan tiada putus, hidup, sekaligus penuh harapan.

Akar saya di Madiun. Tetapi batang, ranting, daun, dan bunga di Surabaya. Sekarang, saya hanya bisa berharap, kelak bisa kembali ke sana. Batang, ranting, daun, dan bunga perlahan layu. Izinkan saya terus menyirami. Sungguh, saya tak ingin lunglai lalu mati. Sia-sia.

Madiun, 10.11.2014, 09.50 WIB

Judul: Biarkan Aku Memilih
Penulis: Hartoyo dan Titiana Adinda
Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: 134 halaman
ISBN: 978-979-27-4528-3

Biarkan Aku Memilih Pengakuan Seorang Gay yang Coming OutLahirnya aktivis LGBT di Indonesia masih misteri. Aktivis dalam arti memperjuangkan kesetaraan, punya idealisme, dan mempertaruhkan hidupnya untuk gerakan. Bukan aktivis pekerja yang menjalankan program dengan dana tertentu, yang ketika uang habis berhentilah tindakannya. Misteri, karena tidak dapat diciptakan atau menciptakan, tetapi terciptakan. Pengalaman di lapangan, berbagai pelatihan tidak lantas membentuk para aktivis militan. Ibarat menabur benih, hanya sedikit yang terus tumbuh dan berbuah manis. Lainnya mati.

Sebetulnya, ini terkait hal mendalam, yakni jiwa manusia. Pemicunya dari dalam manusia itu sendiri. Menghidupkan jiwa aktivis berpijak pada kesadaran, kekuatan batin, dan keyakinan mimpi besar, mewujudkannya menjadi kenyataan. Tanpa itu, hanya dijumpai para aktivis dengan segepok kepentingan bagi dirinya sendiri. Dan gerakan LGBT hanya berpindah dari satu keadaan ke keadaan. Bukan dari satu tujuan ke tujuan.

Maka, proses berat harus dilalui. Jatuh-bangun. Hal itu tercermin dari pergolakan hidup Hartoyo dalam buku ini. Ia mendadahkan separuh hidupnya dalam irama cerita indah, getir, sunyi, marah, sekaligus harapan. Inilah perjalanan jiwa. Dari benih, lalu tumbuh dan berkembang menjadi pohon harapan, yang dalam prosesnya terantuk duri dan leluka, terus menggapai mimpi besar perubahan.

Lazim, gay berproses dari perkara pencarian jati diri, penerimaan diri, terbuka, mengambil sikap, lalu menetapkan tujuan hidup. Tidak semua gay mampu melewatinya. Ada yang berkutat di pusaran pencarian jati diri, terjebak ketakutan terbuka, jalan di tempat tanpa sikap, menyerah menikah, atau hidup gentayangan melampiaskan selangkangan. Takhluk pada norma sosial, tak mampu berpijak kemerdekaan diri, menjadi manusia seutuhnya, yang bermartabat.

Hartoyo berhasil melewati semua proses itu. Titik puncak, dorongan jiwa mengabdikan hidupnya untuk gerakan, diwujudkan dengan membentuk lembaga Our Voice. Pertanyaannya, mengapa Hartoyo lahir sebagai aktivis sedangkan gay lain terlena dalam hidup pribadinya? Analisa bisa dilekatkan pada sejarah panjang, pengalaman pahit diskriminasi, yang melontarkan jiwanya menjadi pejuang kemanusiaan.

Kasus kekerasan Hartoyo dan Bobby yang dihakimi massa. Pemukulan, penganiayaan, pelecehan seksual, dan tindakan lain yang tak bisa diterima akal, menjelma mimpi buruk sepanjang hayat. Pun proses peradilan timpang, bak ludrukan, guyonan yang mengerikan. Hartoyo mengalami langsung yang terburuk sebagai gay dan tak ingin LGBT lain mengalami nasib serupa. Maka, jalan harus ditempuh. Memantapkan diri, bikin organisasi, terus bergerak bikin perubahan.

Tentu, tidak harus mengalami diskriminasi untuk menjadi aktivis. Idealisme yang utama. Kesadaran, LGBT layak menikmati kesetaraan hidup di berbagai bidang, di Indonesia. Untuk itu, yang utama bukan dana, melainkan bagaimana menghidupkan jiwa-jiwa penggerak LGBT sendiri. Maka, kebangkitan LGBT secara keseluruhan bisa berdampak luas. Ini senyatanya pergerakan.

Buku ini menjadi cermin tempat berkaca. Bagi LGBT sendiri, juga masyarakat luas. Zaman telah berubah. Suara LGBT layak didengarkan. Setia pada cita-cita, di masa depan, keberagaman dan kesetaraan mewujud nyata dalam kehidupan manusia Indonesia yang bermartabat. Hartoyo telah bersuara melalui buku ini. Menunggu suara-suara lain meneriakkan yang adil bagi LGBT. Kehidupan pelangi.

Maka, hakikatnya, para aktivis tidak meminta keadilan untuk dikasihani. Tetapi menuntut keadilan untuk dipenuhi haknya sebagai manusia beradab. Satu pertanyaan, berani ambil bagian?

Madiun, 10.11.2014, 09.38 WIB

Judul Buku: Janji Sepasang Kekasih dari Dinasti Ming
Penulis : Ernest JK Wen
Penerbit: Enerjik Kharisma, Surabaya
Cetakan: I, 2008
Tebal: 130 x 200 mm, 486 halaman
ISBN: 978-979-25-2072-9

Photo Novel Janji Sepasang KekasihDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, reinkarnasi artinya penjelmaan kembali, penitisan roh makhluk yang sudah mati ke dunia. Reinkarnasi dapat dipahami dengan dua perspektif. Pertama, iman. Reinkarnasi dipandang sebagai sebuah kepercayaan atas eksistensi jiwa manusia tanpa pernah mengalami secara langsung. Di sini, reinkarnasi hadir sebagai sebuah konsep tak tersentuh karena manusia masih berjarak dengan prosesnya secara langsung. Sebuah kepercayaan bahwa jiwa manusia tidak akan pernah mati, meskipun jasad manusia sudah berkalang tanah. Ketika jasad manusia mati, jiwa manusia akan mencari jasad baru agar eksistensinya tidak terputus. Analogi reinkarnasi menyerupai lingkaran di mana tidak ada awal dan akhir, ujung dan pangkal, atau dunia dan akhirat. Seluruhnya mengacu pada satu konsep kehidupan jiwa. Konsep kehidupan jiwa ini diyakini oleh penganut agama non monotheisme, seperti agama Buddha. Kedua, pengalaman. Reinkarnasi dipandang sebagai realitas yang melingkupi manusia karena terlibat prosesnya secara langsung. Di sini, manusia menyadari sepenuhnya bahwa jiwa di dalam tubuhnya adalah reinkarnasi dari jiwa manusia di kehidupan masa lalu.

Bagaimana manusia tahu bahwa jiwa di dalam tubuhnya adalah reinkarnasi dari jiwa manusia di kehidupan masa lalu? Ernest JK Wen, penulis novel Janji Sepasang Kekasih Dari Dinasti Ming (selanjutnya disingkat JSK) berusaha mengungkap fenomena reinkarnasi dengan pendekatan ilmiah modern, yakni teknik hipnotis regresi. JSK yang direncanakan terbit dalam bentuk trilogi merupakan karya masterpiece Ernest JK Wen setelah sukses meluncurkan novel best seller Bukan Putri Angsa dan Sepasang Remaja Lesbian Di Persimpangan Jalan.

Novel JSK berusaha mengaitkan dua simpul perspektif yang berbeda, yakni iman dan pengalaman. Alkisah, Julian Wong dan Erika Zhang, dua perempuan heteroseksual yang hidup di abad 21 saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Keduanya seolah merasakan dejavu, berjumpa dengan seseorang yang telah dikenal sebelumnya. Logika pikiran modern keduanya menolak mentah-mentah kenyataan tersebut. Julian Wong dan Erika Zhang merupakan perempuan modern yang lebih berpijak pada rasionalitas ketimbang kepercayaan pada agama. Di samping itu, profesi Julian Wong sebagai lawyer dan Erika Zhang sebagai ahli IT seolah menunut keduanya selalu berpikir sistematis. Tapi, di sisi lain, keduanya tidak mampu berkelit dari perasaan cinta yang mengikat begitu dalam. Bagaimana mungkin dua perempuan heteroseksual bisa saling jatuh cinta? Kontradiksi antara realitas hidup dan pergulatan batin mendorong Julian Wong dan Erika Zhang berusaha menyingkap rahasia di balik fenomena tersebut. Kondisi psikologis yang semula tertata rapi, kini goyah oleh pengalaman yang tak terduga sebelumnya. Julian Wong dan Erika Zhang tertantang untuk merumuskan kembali hakikat reinkarnasi berdasarkan pengalaman hidup mereka sendiri.

Suspense-suspense bermunculan ketika Julian Wong dan Erika Zhang memiliki ketertarikan yang sama pada guci Ming. Ada misteri apa dibalik guci Ming? Petualangan demi petualangan bergulir dengan lincah di setiap bab novel. Berawal dari konsultasi dengan Madam Mok (seorang paranormal), cerita bergulir pada proses pencarian asal-usul guci Ming, lalu dilanjutkan dengan menjalani terapi hipnotis regresi dengan bantuan Doktor Stewart untuk mendapatkan kepastian. Proses terapi hipnotis regresi dituturkan dengan sangat apik. Dalam keadaan trance (tidak sadar), Erika Zhang ditarik mundur sampai ratusan tahun. Erika Zhang diupayakan mampu melihat dirinya sendiri di kehidupan sebelumnya. Meskipun berulangkali gagal, akhirnya proses terapi hipnotis regresi dapat berhasil sempuna. Erika Zhang dapat mengetahui bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari Ying-ying dan Julian Wong adalah reinkarnasi dari Wang-yue. Di kehidupan masa lalu, Wang-yue dan Ying-ying adalah pasangan suami istri (laki-laki dan perempuan). Wang-yue dan Ying-ying meninggal dunia saat mempertahankan guci Ming dari kejaran prajurit pada zaman Dinasti Ming, lantas jiwanya menitis dalam tubuh Julian Wong dan Erika Zhang, tujuh abad lampau sebelum Julian Wong dan Erika Zhang bertemu.

Ernest JK Wen, penulis novel JSK tidak sekedar menawarkan reinkarnasi sebagai sebuah gagasan, tapi menukik tajam dalam kajian ilmiah mutakhir. Meskipun masih kontoversial, teknik hipnotis regresi dipercaya sebagai salah satu cara mengungkap ingatan manusia puluhan tahun, bahkan ratusan tahun dari kehidupan manusia sekarang. Hal ini dituturkan Ernest JK Wen dalam salah satu bab novel JSK. Julian kembali memusatkan perhatiannya pada pembicaraan Doktor Stewart yang sedang menjawab pertanyaan pancingannya,”…mengungkap kehidupan lalu dilakukan dengan teknik hipnotis regresi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk membantu pasien-pasien phobia. Saya tahu sebagian besar yang hadir di sini adalah psikiater, psikolog, dan mahasiswa psikolog, karena itu saya yakin anda tidak asing dengan teknik regresi. Oh, tentu saja tidak hanya membantu pada penderita phobia, mengungkap kejadian atau pengalaman kehidupan lalu juga terbukti telah membantu pasien mengatasi masalah tingkah-laku. Sebagai contoh, pasien yang kegemukan dan tidak sanggup mengendalikan nafsu makan. Ternyata di kehidupan lalunya, ia meninggal disebabkan mati kelaparan…” (halaman 126).

Setelah berhasil mengetahui jati diri masing-masing, Julian Wong dan Erika Zhang dihadapkan pada sikap hidup selanjutnya. Julian Wong dan Erika Zhang akhirnya menyadari bahwa ketertarikan yang muncul dalam diri masing-masing bukan sekedar ketertarikan seksual belaka, tapi perasaan cinta yang mengikat begitu dalam. Julian Wong mengambil sikap tegas dengan memutuskan hubungan percintaan dengan tunangannya, Kent. Pada malam Tahun Baru Imlek, Erika Zhang diajak Julian Wong untuk coming out pada keluarga besar Julian Wong. Keluarga besar Julian Wong menerima Erika Zhang dengan lapang dada. Akhir cerita bahagia terajut dalam kisah percintaan Julian Wong dan Erika Zhang tepat dalam malam Tahun Baru Imlek. Satu poin lebih dalam novel JSK yang menempatkan pasangan lesbian dalam porsi seimbang, berbeda dengan novel lesbian lain yang cenderung menghadirkan isu lesbian dalam ruang gelap.

Dengan bahan riset dan observasi yang rigid, novel JSK tampil memukau dengan kisah percintaan sepasang perempuan yang dibalut latar sejarah Tiongkok. JSK berdimensi sangat luas. Komposisi di setiap babnya kaya dengan pengetahuan sosio-kultural. Aspek kebudayaan Tiongkok, aspek sosial tentang kerusuhan 14 Mei 1998 yang mengakibatkan banyak korban bagi etnis China, isu-isu LGBTIQ yang dituturkan dengan seimbang tanpa unsur homophobia, kajian terkini tentang reinkarnasi, dan transendensi rasa cinta yang berujung pada eksistensi diri masing-masing tokoh saling memperkuat satu sama lain. Struktur cerita dibangun dengan kokoh. JSK mengingatkan pembaca pada novel Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Roh cerita yang kuat membuat pembaca tidak lagi berjarak dengan naskah novel, namun terseret masuk ke dalam konflik cerita setiap tokohnya.

Di tengah minimnya novel berlatar belakang kebudayaan China, JSK seolah mata panah yang membidik keriuhan khasanah sastra Indonesia yang didominasi novel popular, novel islami, novel sejarah Indonesia, atau novel bertema seksualitas. JSK tampil cemerlang dengan kekhasan cerita yang unik. Sangat pantas dimiliki dan dijadikan bahan referensi. Selamat membaca!