GS 1 – Ozak, Mengangkat Gay Indonesia ke Pentas MrGayWorld 2014

Ozak MrGayWorldNama Ozak asing di blantika gay Indonesia. Tidak terlibat aktivitas pergerakan. Tumbuh sebagai pribadi mandiri. Eksistensinya hidup di lingkungannya sendiri. Ia contoh dari jutaan gay lain di Indonesia yang mengharapkan kehidupan lebih baik. Ia bukan tipikal aktivis yang bersuara lantang meneriakkan kesetaraan atau berlindung di balik organisasi tertentu. Independen.

Tahun 2014 ini, ia maju ke perhelatan MrGayWorld 2014, delegasi Indonesia. Patut diacungi jempol. Pertama kali, dalam sejarah pergerakan LGBT Indonesia, seorang gay muncul di pentas dunia. Mengagumkan. Darimana tumbuh keberanian itu? Ia menulis di blognya, alasannya kepentingan pribadi. Ia terpacu melihat LGBT Indonesia hidup di bawah permukaan. Ada tetapi tak diakui. Ia memanfaatkan MrGayWorld sebagai komunikasi pada dunia, LGBT Indonesia yang tertekan stigma negatif, benturan nilai-nilai sosial dan sebagainya. Tentu, banyak gay yang berpikir seperti itu. Namun hanya Ozak yang nekad bertarung sendiri. Salut.

Tanpa sumbangan dana lembaga donor, ia melenggang percaya diri. Bertaruh nasib didukung teman-teman dekatnya, yang berbaik hati membuatkan kostum nasional. Ia berdiri di panggung megah Roma, Itali, di antara 32 delegasi lain. Mencuri perhatian dunia, membawa identitas Indonesia. Lihatlah, gay Indonesia mampu bertindak progresif. Ia membuka jalan baru. Gemilang majunya kehidupan LGBT Indonesia di masa depan.

Meski pulang tanpa piala, ia layak diapresiasi. Terobosannya luar biasa. Gelar juara diraih Stuart Hatton Jr dari United Kingdom. Apalah artinya gelar apabila ia telah berhasil menyalakan lentera dalam gelapnya kehidupan LGBT Indonesia?
***

Fenomena Ozak bisa dilihat dengan banyak cara. Ia jenis gay modern, jengah pada diskriminasi yang menghimpit LGBT, masuk ke pentas kapitalisme, membalik dengan nilai-nilai baru: kesetaraan. Ia peka, melakukan strategi mandiri, muncul sebagai inspirator. Memanfaatkan peluang emas, meskipun sadar betul, resikonya berat apabila ditolak orang-orang Indonesia yang homophobia. Syukurlah, hal itu tidak terjadi. Acara sukses. Namanya dan Indonesia tercatat dalam sejarah MrGayWorld.

Atau, semacam kritik tajam, mandulnya organisasi LGBT Indonesia melahirkan kader mumpuni. Ke mana ratusan gay yang mengaku aktivis itu? Alih-alih mengirimkan wakilnya, dukungan ke Ozak nyaris tak ada. Sebetulnya, momentum MrGayWorld bisa jadi titik penting, menyuarakan kepentingan LGBT Indonesia melalui corong dunia. Sayangnya, kesempatan ini lewat begitu saja.

Bisa jadi, pagelaran ini tak ada artinya, jauh dari misi idealisme. Ya, sekedar panggung hiburan. Mengumpulkan gay dari seluruh dunia, dipamerkan, dimintai pendapatnya biar terlihat pintar, dilindungi pemodal besar demi mengeruk keuntungan. Selesai.

Apapun itu, Ozak telah membuktikan pada dunia, ia juara bagi dirinya sendiri.

Madiun, 12.09.2014, 14.10 WIB

Lebih jauh tentang Ozak, silakan klik DI SINI.

Celoteh 1 – Reog (Bukan) Ponorogo

Reog PonorogoJangan terkecoh nama. Meski tertulis PONOROGO, tapi bukan berasal dari sana. Obrolan saya dengan panjak Reog mengabarkan dari Kincang Wetan, Jiwan, Madiun. Hal lumrah, sebetulnya. Pamor Reog Ponorogo memang bersinar di kota sekitarnya, menembus Surabaya dan Jakarta, bahkan Suriname. Kata “Reog Ponorogo” seolah frase tunggal pagelaran dadak merak, singo barong, jathilan, ganong, dan atraksi penekan.

JathilanPatut dipuji kesetiaan seniman menjaga akar budaya. Padahal, para panjaknya asli Madiun, bukan Ponorogo. Kecuali sesepuh, yang jadi ketuanya. Beberapa titik di Madiun, bahkan kampung saya sendiri, ada paguyupan kesenian ini. Ada yang bersinar terang; ada yang mati suri. Saya kira, nasib kesenian sama saja. Lelaku hidup menggubah tradisi, seterjal hidup itu sendiri. Pasang-surut, bangkit-jatuh, hidup-mati, seteguh nafas perjuangan empunya.

Sebetulnya, ada kesenian khas Madiun: Dongkrek. Sayangnya, mati suri. Warga Madiun, saya kira, kurang bangga. Terlihat dari minimnya paguyupan, yang secara konsisten mengembangkannya. Hanya hidup kala acara tertentu. Contohnya, saat peringatan hari jadi Madiun kemarin. Patut dipuji semangat pemerintah setempat yang bikin lomba lintas sekolah, Dongkrek disuguhkan di hadapan masyarakat. Setidaknya, upaya telah dilakukan, agar tak mati terlindas zaman.

Memang, kesenian tidak untuk dibandingkan, melainkan saling belajar, menggali makna di dalamnya. Reog Ponorogo dan Dongkrek, menghimpun sejarah panjang filosofi, nilai-nilai kehidupan. Salut untuk para penjaga budaya, yang hidup di ambang idealisme dan urusan perut. Saya paham beratnya menanggung lelaku tradisi di tengah gempuran kapitalisme. Jiwa-jiwa penggugah rasa yang bertahan dari rayuan mal dan sebagainya.

Dongkrek MadiunDi puncak Agustusan ini, di kampung saya, Madiun, pagelaran Reog (bukan) Ponorogo menghipnotis semua orang keluar rumah. Berkumpul, menyaksikan berbagai atraksi. Saya ikut berdesak-desakan, asyik mengambil foto, selfie berulangkali, ganjen. Bangga menjadi penikmat, bukan pelaku. Layakkah saya menuntut kesenian Dongkrek hidup di Madiun? Sedangkan saya sendiri hanya penonton, tak terlibat memperjuangkannya.

Ah, semoga kabar tulisan ini semacam bentuk kecil kontribusi seni.

Madiun, 11.09.2014, 10.21 WIB

Dunia Sastra 1 – Cerpen Homoseksual Membantah Homophobia

Buku GantengSepuluh cerpen homoseksual lahir dari tangan Antok Serean, yang disatukan dalam buku GANTENG. Sekilas sinopsis buku tersebut:

Buku ini mengangkat sepuluh cerita pendek bertema gay. Cerita cinta beda kelas sosial, cinta pada kekasih yang HIV+, traumatik pelecehan seksual Bapak pada anaknya sendiri, pergulatan hidup pekerja seks gay, kegirangan orangtua tatkala anaknya coming out gay, kritik pada interpretasi agama yang ambigu, dan teropong jiwa aktivis pergerakan LGBT.*)

Buku ini tidak bicara self stigma lagi—kebencian gay pada dirinya sendiri—, melainkan keberanian menantang dunia luar yang menekannya. Seorang gay yang tangguh, percaya diri, dan bangga pada orientasi seksualnya.

Berikut ini wawancara saya dengan penulisnya:

Lina Kelana:
Berapa lama proses kreatifnya?
Antok Serean:
Lima tahun. Setiap cerpen saya kerjakan dalam waktu berbeda. Contohnya cerpen Lelaki Terbakar Api, sekali tulis langsung jadi. Sedangkan cerpen Kartu Nama butuh waktu dua minggu. GANTENG merupakan kompilasi sepuluh cerpen terbaik yang saya tulis tahun 2008 sampai 2013.

Lina Kelana:
Apa tujuan Anda membukukan cerpen-cerpen tersebut?
Antok Serean:
Pertama, setelah bikin lima buku antologi bersama penulis lain dan dua ebook, tahun ini saya ingin bikin karya tunggal. Kedua, sebagai penanda dan kontribusi nyata pada pergerakan sastra dan LGBT, di mana lima tahun terakhir saya mengabdikan diri. Ketiga, ingin mengangkat homoseksual dalam perspektif HAM dan SOGI**)

Lina Kelana:
Adakah hambatan dan bagaimana Anda menyikapinya?
Antok Serean:
GANTENG adalah karya idealis. Saya melakukan kritik tajam pada homophobia, blak-blakan. Resikonya, saya tidak mendapatkan penerbit besar. Sedangkan untuk cetak sendiri, saya tidak punya uang. Jalan terakhir dengan print on demand (POD). Intinya, dalam keterbatasan, saya ingin tetap berkarya dan berbagi dengan pembaca. Hm, kalau ada penerbit yang berani menerbitkan ulang, tentu saya senang sekali.

Lina Kelana:
Cerpen-cerpen Anda mengangkat isu kontroversial. Sepengetahuan saya jarang penulis yang berani menuliskannya. Mengapa Anda terlihat percaya diri?
Antok Serean:
Logikanya sederhana. Saya berpendapat homoseksual sah-sah saja. Namun mayoritas orang menolaknya. Istilah kerennya homophobia. Nah, di sinilah peran saya, mengkomunikasikan melalui sastra. Jelas, karya saya berbeda dengan cerita homoseksual di pasaran, yang menampilkan homoseksual cengeng-meratapi nasib-pendosa-galau. Saya menampilkan homoseksual tangguh-percaya diri-bangga pada orientasi seksualnya. Bahkan dalam cerpen Pras Menggugat Pendongeng dan Kartu Nama, saya membongkar kemunafikan dan menampar homophobia. Silakan kalau dianggap kontroversial. Bagi saya, pembaca perlu melihat homoseksual dari perspektif berbeda, sehingga bisa menafsir ulang sejatinya homoseksual.

Lina Kelana:
Saya baca salah satu cerpen Anda yang berjudul Ustad Ahmad—tokoh yang dekat dengan agama dan menjaga sikap dari segala cela—ternyata homoseksual. Di sana Anda tak ragu menuliskan detail kejadian. Apakah Anda tidak takut ditolak? Apa yang bisa Anda jelaskan tentang hal ini?
Antok Serean:
Oh, ditolak itu sudah biasa, dan saya jalan terus. Dalam Ustad Ahmad, saya bicara hubungan orientasi seksual dengan agama, dalam hal ini Islam. Bagaimana Ustad Ahmad bercinta-kasih dengan Imam, santrinya sendiri, dengan tetap tekun menjalankan ibadah. Hubungan yang selaras dan harmonis. Di sini saya membantah pandangan homoseksual bertentangan dengan agama. Hal yang menghantui pikiran banyak orang.

Sebetulnya, cerpen Ustad Ahmad lahir dari pengamatan sehari-hari, di mana banyak teman-teman homoseksual tidak berkonflik dengan agama yang dianutnya. Baik-baik saja. Nah, sebagai cerita, saya fokus pada proses tumbuh-kembang cinta-kasih, sekaligus dimensi agama yang melingkupinya. Saya mengajak pembaca melihat substansi dan tidak terjebak perdebatan ideologi. Jadi, bila ada pertanyaan, apakah ada ustad homoseksual? Oh, ada hehe…

Lina Kelana:
Pada cerpen A, saya menemukan adanya kedekatan emosional Anda dengan tokoh dan peristiwa di dalam cerita. Saya menduga A atau temannya adalah Anda sendiri? Apakah benar?
Antok Serean:
Saya membebaskan pembaca menginterpretasikan seperti apa. Kalau Anda berasumsi tokoh A saya sendiri, silakan saja. Saya tidak membenarkan atau menyalahkan. Ketika karya lahir, hidupnya di tangan pembaca.

Cerpen A terinspirasi dari obrolan saya dengan teman yang HIV+. Saya kagum pada ketegaran dan perjuangannya menghadapi hidup. Semangat berani hidup (bukan berani mati) inilah yang saya masukkan dalam cerpen. Jatuh, bangkit lagi.

Sebagai penulis, saya putar otak, bagaimana semangat ini sampai ke pembaca. Pada bagian yang emosinya sangat dalam, saya menggunakan sudut pandang orang pertama. Terutama dialog A dengan kekasihnya, Gio, yang meninggal dunia. Saya juga membuat persoalan tokoh utama pararel dan berlapis—bercermin dari fakta yang masih terjadi sampai sekarang, seperti penolakan orangtua pada anaknya yang homoseksual, pengusiran seorang yang HIV+, pentingnya dukungan orang terdekat, ketakutan pada kematian, dsb. Di akhir cerita, A menjadi juara bagi dirinya sendiri, berhasil melewati semua rintangan itu.

Lina Kelana:
Bagaimana tanggapan khalayak pembaca tentang buku ini?
Antok Serean:
Sejauh ini sangat bagus. Niat saya bikin buku ini tidak hanya jualan, juga pesannya sampai ke pembaca. Karena tidak beredar di toko buku, maka saya bergerak militan menemui perorangan maupun komunitas. Saya sudah ke Lamongan, Jombang, dan bolak-balik Surabaya. Tanpa sponsor pihak manapun. Terakhir saya bikin bedah buku di GUSDURIANS, Surabaya. Di situ saya mengobrol tentang isi buku GANTENG. Apresiasinya beragam—pujian maupun kritikan—saya terima dengan bahagia. Syukurlah, penjualan buku juga bagus. Saya bawa 10 buku ke Surabaya, laku semua. Balik ke Madiun, kulakan lagi. Lalu blusukan lagi sampai sekarang hehe…

Lina Kelana:
Setelah buku ini, adakah keinginan membuat novel atau buku puisi tentang homoseksual? Mengapa?
Antok Serean:
Ya. Saya sudah bikin novel dan sekarang sedang proses di penerbit. Semoga tahun depan bisa terbit. Sekarang, saya sedang menulis buku ketiga. Ke depan, saya masih menulis bertema LGBT karena apa yang saya lakukan sejauh ini saya letakkan dalam konteks pergerakan. Namanya pergerakan, saya berharap perubahan lebih baik di masa depan. Bagi kehidupan LGBT dan kemajuan sastra.

Lina Kelana:
Apa yang ingin Anda sampaikan pada teman-teman homoseksual?
Antok Serean:
Perjuangan masih panjang. Ayo, ambil bagian dalam gerakan.

Lina Kelana:
Pesan yang ingin Anda sampaikan ke pembaca secara umum?
Antok Serean:
Terima kasih untuk teman-teman yang telah membantu, membeli, membaca, dan mengapresiasi karya saya. Semoga GANTENG bisa menginspirasi dan membuka cakrawala berpikir untuk melihat homoseksual dengan cara yang bijak dan dewasa.
***

*) LGBT: Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender/Transeksual
**) SOGI: Sexual Orientation and Gender Identity

Lina Kelana, penulis novel Suwung.

Buku 1 – Memberi Suara Pada yang Bisu

Judul: Memberi Suara Pada yang Bisu
Penulis: Dede Oetomo
Penerbit: Galang Press, Yogyakarta
Cetakan: I, 2001
Tebal: 348 halaman
ISBN: 979-9341-20-5

Memberi Suara Pada yang BisuBisa dibilang buku ini kitab sucinya para homoseksual di Indonesia. Ditulis tokoh pergerakan Dede Oetomo dan dibahas komplit dari beragam aspek. Apalagi diberi pengantar Benedict Anderson, yang tergila-gila Serat Centhini sampai GAYa NUSANTARA. Apa yang kalian cari ada di sini, terutama bagi homoseksual labil yang galau mencari jati diri.

Dede Oetomo membuka pengalaman pribadinya, bagaimana menemukan kepribadiannya sebagai gay. Putra Pasuruan ini bergerak dari lingkup keluarga, sekolah, agama, pergi ke psikolog, sampai melanglang buana ke Amerika. Kegemaran menonton film Hercules dan Tarzan, pengamatan di kolam renang, pura-pura pacaran dengan perempuan, sampai terbuka sebagai gay pada semua orang, seolah cermin para homoseksual lain. Kematangannya sebagai akademisi, membuatnya bergerak tidak hanya di lingkup pribadi, melebarkan sayap menyampaikan gagasan ke dunia kampus, media, sosial, dan kritik pada pembuat kebijakan.

Bagian pertama mengulas homoseksualitas di tengah konstruksi budaya Indonesia. Di sini, Dede Oetomo mencari pijakan sejarah di tanah airnya sendiri. Ia menelusuri berbagai homoseksualitas dalam budaya Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Termasuk bahasa khas yang digunakan para homoseksual. Ini semacam bantahan, homoseksual mengakar di Indonesia, bukan warisan dunia Barat.

Bagian kedua membahas homoseks antara penyakit atau gejala alami. Di bagian ini, pandangannya tajam menyikapi pro-kontra homoseksualitas. Hubungan sesama jenis dipandang sebagai gejala alami, yang harus diberi tempat di negeri ini. Berbagai pijakan psikologis yang mendukung, baik di Indonesia maupun Internasional. Juga fenomena sosial yang mencerminkan seksualitas sebagai sesuatu yang cair, yang bisa berubah tergantung konteksnya.

Bagian ketiga mengupas gay, media massa, hak asasi manusia, dan percaturan politik. Jelas, di bagian ini, mengarah ke pergerakan-perubahan. Posisi homoseksual di masa orde baru, upaya memperjuangkan hak asasi manusia, konstruksi sosial dalam televisi, sampai penghargaan yang diterimanya, Pelipa de Soaza 1998.

Bagian keempat membidik kaum gay di tengah ancaman AIDS. Mitos dan realitas, dibongkar dan diletakkan sesuai porsinya. Bahwa tuduhan gay sebagai penyebar AIDS sangat timpang. Dede Oetomo menilai penyakit ini sebagai kasus bersama, lingkup dunia. Untuk itu harus dilepaskan dari batasan orientasi seksual tertentu.

Bagian kelima menuju keterbukaan, pemberdayaan, dan emansipasi kaum gay. Nah, di bagian ini, Dede Oetomo menyorot persoalan nyata para homoseksual sebagai pribadi, anggota keluarga, bangga pada diri sendiri, tampil di masyarakat, juga perayaan Mardi Gras dan waria show. Intinya, bagaimana para homoseksual bergerak dari urusan pribadi, membangun kesadaran untuk perubahan bersama, lebih baik lagi.

Bagian keenam memotret homoseks dari kongres ke kongres. Ini sudah masuk wilayah politik. Di sini dijabarkan konferensi bertaraf Internasional bernama ILGA, juga kongres di dalam negeri bernama KLGI. Para aktivis merumuskan strategi, tekanan pada pembuat kebijakan, yang berpihak pada homoseksual.

Detailnya, silakan beli dan baca buku ini. Dijamin tercerahkan.

Madiun, 28.05.2014, 18.14 WIB