Celoteh 4 – HP Koit

Ampun deh. Tiba-tiba HP saya koit. Kontak hilang semua. Jangan tanya kok bisa? Hanya Tuhan yang tahu. Apa boleh buat, saya berkabung nyaris dua minggu. Beli baru? Ah, duit cekak. Tinggal cukup buat rokok.

Syukurlah, honor masuk. Saya googling android dengan spesifikasi murah, harga di bawah satu juta. Bagus, produk terbaru. Pilihan jatuh pada Smartfren C2. Harga normalnya Rp.750.000,-. Saya meluncur ke gerai, menikmati bujuk-rayu custumer service. Aha, ternyata ada promo. Saya dapat murah, Rp.650.000,- Langsung sikat!

Punya HP baru kayak punya pacar baru. Disayang-sayang. Berhari-hari saya mengutak-atik, mengunduh aplikasi Path sampai Grindr. Yang menjengkelkan, saya harus mencari kontak teman-teman yang hilang. Beberapa masih saya catat, kebanyakan hilang. Apa boleh buat, saya kembali ke titik nol.

Sekarang, masa sayang-sayangan masih berjalan. Bagi siapapun kamu, yang mengenal saya, silakan menyapa di Twitter, Facebook, atau Email. Maaf, bukan sombong. Tapi saya kehilangan kontak, dan tak membaginya untuk umum.

Ah, pacar baru ini bikin semangat. Lengkap. Ada BB, Whatsapp, Line. Atau yang bikin mata kinclong, Grindr dan JackD. Oke, saya pacaran dulu.

Madiun, 19.06.2014, 09.29 WIB

Dua Hari Bikin Air dan Api

Cerpen Air dan ApiIde cerpen Air dan Api dari pengalaman pribadi. Tahun 2010, saya menjadi panitia ILGA, yang acaranya digagalkan kelompok Islam fundamentalis. Detik-detik menegangkan di dalam hotel Oval, Surabaya, bersama ratusan delegasi berbagai negara, membuat perasaan campur-aduk. Dikepung orang-orang gila berbaju putih, berdampak trauma, yang bikin saya tak tidur nyenyak. Sebulan setelah kejadian, saya mengikuti healing untuk menyembuhkan trauma itu. Perlahan, saya bisa menstabilkan emosi dan pikiran, melanjutkan kehidupan.

Dari kejadian itu, saya terpikir tiga cerita sekaligus. Pertama, detik-detik menegangkan saat Islam fundamentalis menyerbu hotel Oval. Kedua, narasi tokoh gay pasca mengalami diskriminasi. Ketiga, latar belakang perseteruan kedua kelompok yang tak mungkin disatukan, yang uniknya, hidup bersama di Indonesia. Setelah mempertimbangkan, saya memilih yang ketiga. Alasannya, saya ingin mengangkat yang substansi, ideologis, dan transformasi jiwa tokohnya.

Lalu saya bikin analogi, air untuk ILGA, api untuk Islam fundamentalis. Aku untuk air; kamu untuk api. Sebetulnya itu ekstrim, seolah berbenturan. Di titik lain, saya percaya ada hal yang bisa menyatukan umat manusia. Maka, saya memasukkan landasan cinta. Berbagai kontradiksi, tarik-ulur nilai, perubahan jiwa, saya angkat ke cerita. Tentu, untuk sampai ke pembaca, ide seperti ini dituturkan secara realis. Saya sengaja tak memasukkan banyak kiasan, atau unsur imajinatif lainnya. Langsung ke titik-titik tujuan.

Inilah hasilnya. Aku dan kamu, keduanya lelaki. Di masa lalu, keduanya bertetangga. Aku berkarakter baik-baik; kamu berangasan. Keduanya saling cinta. Aku setia menolong kamu dalam kesusahan. Kamu berhutang kebaikan. Keduanya saling mengisi satu sama lain. Lalu arus hidup memisahkan, aku harus bekerja keluar kota. Puluhan tahun terpisah, tanpa kabar berita. Aku tumbuh menjadi aktivis LGBT; kamu masuk organisasi Islam fundamentalis.

Keduanya bertemu lagi di warung kopi. Kamu mengingatkan aku tentang rencana penyerbuan organisasinya, menyarankan agar tak terlibat. Namun aku keras, tetap pada pendiriannya. Keduanya berdiri di titik ekstrim berbeda. Aku, dengan ideologi keberagaman orientasi seksual harus diperjuangkan hidup adil di masyarakat. Kamu, dengan ideologi harga mati, homoseksual dihapuskan dari muka bumi. Tak terjadi titik temu. Keduanya terus baku hantam. Alhasil, perseteruan dua tokoh mewujud bentrokan dua kelompok. Air dan api, mustahil disatukan.

Saya sengaja pakai alur bolak-balik. Pertemuan di warung kopi sebagai masa kini, lalu bergerak ke kenangan masa lalu, berdebat di warung kopi, meluncur ke masa lalu lagi. Ini untuk memberi efek ketegangan, sekaligus gambaran transformasi jiwa tokohnya. Lalu, penutupnya pas kejadian penyerbuan di hotel. Saya sengaja memberi ending menggantung, untuk merangsang pembaca memikirkan kenyataan yang terjadi saat ini.

Cinta menyatukan umat manusia. Namun otak picik memisahkan, laiknya air dan api.

Madiun, 17.06.2014, 08.03 WIB

Celoteh 3 – 33

Tak ada kue tart, nyala lilin, dan gelak tawa teman-teman. Hanya ada saya dan cermin. Diam menatap lelaki ganteng di dalam sana? Hi, kau, sekarang berusia 33 tahun. Apa yang kau rasakan? Tak ada jawaban. Hanya diam. Perlahan kenangan menampakkan diri satu persatu laiknya hantu di malam sunyi. Gelegak mengguncang batin. Inikah penanda tua, atau justru kelahiran baru? Saya berpaling dari cermin, mengenyahkan kenangan, melabuhkan ketenangan pada sebatang rokok dan segelas kopi. Lalu melamun lagi.

Seumur hidup, saya tak pernah merayakan ulang tahun. Selalu, saya memilih sendiri. Ulang tahun, bak mesin waktu yang menyeret saya ke titik nol. Menyadarkan diri dengan pertumbuhan spiritual, kedewasaan berpikir, dan perubahan tubuh yang tak mampu ditampik. Titik untuk melihat diri sebagai bagian kecil jagad raya, di antara milyaran manusia. Apa yang telah saya lakukan, sedang saya lakukan, akan saya lakukan? Ulang tahun, sejenis pengingat dari gempita keinginan yang dijabarkan lewat lelaku. Dan di ulang tahun ke 33 ini, saya melihat hal yang tak terlihat sebelumnya: kesempatan.

Ya, kesempatan. Jarak antara kekinian dan ajal. Saya tak pesimis, melainkan jujur dan realistis. Ada begitu banyak keinginan yang hidup di dalam diri. Akankah semuanya mewujud kenyataan? Mungkinkah sisa waktu memungkinkan kesempatan? Barangkali serupa hentakan jiwa Chairil Anwar yang merajuk hidup seribu tahun lagi. Kesempatan, mewujudkan yang mungkin dari yang mungkin.

Lalu saya bangkit dari kursi, meninggalkan rokok dan kopi, melihat bocah-bocah yang bermain di halaman rumah. Ah, hidup, rupanya memiliki denyut nadinya sendiri. Yang hadir segera berganti; yang bernyawa nantinya mati. Lagi-lagi, kesempatan. Saya melihat jauh di langit biru. Hanya kesempatan memanfaatkan sisa waktu yang ada, yang membuat segalanya berarti. Syukur atas segala yang telah terlewati, menghayati indah hari ini, dan memupuk harapan di masa depan. Ulang tahun telah menyadarkan, sebagai manusia, saya hanya mampu menggapai yang mungkin dengan ketegaran. Segalanya pinjaman. Hakikatnya, saya tak memiliki apa-apa. Memanfaatkan kesempatan yang ada adalah satu-satunya cara memberi makna.

Di 33 tahun perjalanan, saya telah meraih keberhasilan, sekaligus merasakan sakitnya kegagalan. Barangkali dengan jalan itu cara hidup menempa diri. Dijatuhkan, lalu dibangkitkan. Menikmati segala yang indah sekaligus buruk, agar dewasa melihat segalanya. Sekarang, satu-satunya jalan memanfaatkan kesempatan adalah dengan perjuangan. Mewujudkan segala keinginan di sisa hidup. Sekarang, saatnya kembali menghadirkan diri di tengah jagad raya, sebagai penyampai pesan, menggapai makna.

Madiun, 07.06.2014, 15.40 WIB

 

Pelangi Perempuan dan Herstory

Photo Cerpen Pelangi PerempuanJudul: Pelangi Perempuan
Penulis: Institut Pelangi Perempuan
Penerbit: Institut Pelangi Perempuan, Jakarta
Cetakan: I, Mei 2008
Tebal: 132 halaman
ISBN: 978-979-17983-0-3

Photo Cerpen HerstoryJudul: Herstory
Penulis: Dipayoni
Penerbit: Dipayoni dan KSGK, Surabaya
Cetakan: I, Juni 2012
Tebal: 149 halaman
ISBN: -

Buku yang lahir independen, dari kelompok tertentu, bukan berarti buruk. Justru membuka ruang baru, kesempatan menafsir yang lain, dari serakan di toko buku. Kedua buku di atas diterbitkan independen, dari kelompok lesbian, tak dijual di toko buku. Masing-masing, dengan caranya sendiri, berpijak pada idealisme, tak melulu mengabdi pada pasar.

Keduanya memiliki kesamaan, yakni kompilasi berbagai penulis yang lahir dari lomba menulis. Pelangi Perempuan berisi puisi dan cerpen. Sedangkan Herstory berisi cerpen dan fotografi. Para penulis adalah nama-nama baru, dengan kesegaran ide cerita tentang lesbian. Membacanya, seperti menikmati kesegaran harum bunga di pagi hari. Baru dan wangi.

“menjeritlah rahim ibu bila kubisikkan sebuah rahasia/bila debaran hasratku untuk seorang perempuan” Puisi Bait Untuk Ibu karya Estha Vadose mendebarkan di pembuka, menukik perasaan kasih anak pada ibu, yang mencintai perempuan. Cerpen Bilik Relijius karya Lez Moslem membuai pembaca tentang percintaan perempuan muslim, yang mekar kejujurannya. Bagaimana cinta tumbuh di dalam bilik pesantren yang semuanya perempuan. Indah.

Cerpen Sebuah Pengorbanan karya Liliana Primrose berkisah tentang kompleksitas perempuan-anak-kekasih-orangtua. Cinta diuji ketegaran, pengkhianatan, pengorbanan, perjuangan. Bahwa keteguhan hati tidak berhenti saat cinta bersemi. Justru menuntut serangkaian lelaku tatkala keinginan tak mewujud kenyataan. Kekuatan, lahir dari pendirian menghadapinya.

Dipayoni dan Institut Pelangi Perempuan, melalui buku ini, seperti bicara ke khalayak ramai, lesbian hidup dalam masyarakat. Berbagai persoalan kemanusiaan, didedahkan jujur sekaligus nyata. Mengajak pembaca menyelami yang terdalam dari kehidupan lesbian.

Madiun, 09.06.2014, 09.25 WIB

Memberi Suara Pada yang Bisu

Judul: Memberi Suara Pada yang Bisu

Penulis: Dede Oetomo

Penerbit: Galang Press, Yogyakarta

Cetakan: I, 2001

Tebal: 348 halaman

ISBN: 979-9341-20-5

Memberi Suara Pada yang BisuBisa dibilang buku ini kitab sucinya para homoseksual di Indonesia. Ditulis tokoh pergerakan Dede Oetomo dan dibahas komplit dari beragam aspek. Apalagi diberi pengantar Benedict Anderson, yang tergila-gila Serat Centhini sampai GAYa NUSANTARA. Apa yang kalian cari ada di sini, terutama bagi homoseksual labil yang galau mencari jati diri.

Dede Oetomo membuka pengalaman pribadinya, bagaimana menemukan kepribadiannya sebagai gay. Putra Pasuruan ini bergerak dari lingkup keluarga, sekolah, agama, pergi ke psikolog, sampai melanglang buana ke Amerika. Kegemaran menonton film Hercules dan Tarzan, pengamatan di kolam renang, pura-pura pacaran dengan perempuan, sampai memplokamirkan diri sebagai gay pada semua orang yang dikenal, seolah cermin para homoseksual lain. Kematangannya sebagai akademisi, membuatnya bergerak tidak hanya di lingkup pribadi, melebarkan sayap menyampaikan gagasan ke dunia kampus, media, sosial, dan kritik pada pembuat kebijakan.

Bagian pertama mengulas homoseksualitas di tengah konstruksi budaya Indonesia. Di sini, Dede Oetomo mencari pijakan sejarah di tanah airnya sendiri. Ia menelusuri berbagai homoseksualitas dalam budaya Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Termasuk bahasa khas yang digunakan para homoseksual. Ini semacam bantahan, homoseksual mengakar di Indonesia, bukan warisan dunia Barat.

Bagian kedua membahas homoseks antara penyakit atau gejala alami. Di bagian ini, pandangannya tajam menyikapi pro-kontra homoseksualitas. Hubungan sesama jenis dipandang sebagai gejala alami, yang harus diberi tempat di negeri ini. Berbagai pijakan psikologis yang mendukung, baik di Indonesia maupun Internasional. Juga fenomena sosial yang mencerminkan seksualitas sebagai sesuatu yang cair, yang bisa berubah tergantung konteksnya.

Bagian ketiga mengupas gay, media massa, hak asasi manusia, dan percaturan politik. Jelas, di bagian ini, mengarah ke pergerakan-perubahan. Posisi homoseksual di masa orde baru, upaya memperjuangkan hak asasi manusia, konstruksi sosial dalam televisi, sampai penghargaan yang diterimanya, Pelipa de Soaza 1998.

Bagian keempat membidik kaum gay di tengah ancaman AIDS. Mitos dan realitas, dibongkar dan diletakkan sesuai porsinya. Bahwa tuduhan gay sebagai penyebar AIDS sangat timpang. Dede Oetomo menilai penyakit ini sebagai kasus bersama, lingkup dunia. Untuk itu harus dilepaskan dari batasan orientasi seksual tertentu.

Bagian kelima mengangkat menuju keterbukaan, pemberdayaan, dan emansipasi kaum gay. Nah, di bagian ini, Dede Oetomo menyorot persoalan nyata para homoseksual sebagai pribadi, anggota keluarga, bangga pada diri sendiri, tampil di masyarakat, juga perayaan Mardi Gras dan waria show. Intinya, bagaimana para homoseksual bergerak dari urusan pribadi, membangun kesadaran untuk perubahan bersama, lebih baik lagi.

Bagian keenam memotret homoseks dari kongres ke kongres. Ini sudah masuk wilayah politik. Di sini dijabarkan konferensi bertaraf Internasional bernama ILGA, juga kongres di dalam negeri bernama KLGI. Para aktivis merumuskan strategi, tekanan pada pembuat kebijakan, yang berpihak pada homoseksual.

Detailnya, silakan beli dan baca buku ini. Dijamin tercerahkan.

Madiun, 28.05.2014, 18.14 WIB