Penjaja Cerita Cinta, Beli Satu Dapat Dua + Bonus

penjaja-cerita-cintakJudul: Penjaja Cerita Cinta

Penulis: @edi_akhiles

Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta

Cetakan I: Desember 2013

Tebal: 192 halaman

 

Sebetulnya, buku dengan misi tertentu mengemban persoalan tertentu pula. Semisal, buku di sampulnya tertulis cerita inspiratif, tapi setelah dibaca berisi banjir bandang air mata. Alih-alih memberi inspirasi, pembaca malah dibikin galau akut. Lantas timbul pertanyaan, di mana letak inspiratifnya? Nah, keselarasan misi di sampul dengan isi di dalamnya menjadi sangat penting, sang penentu secara keseluruhan, pembaca terinspirasi atau tidak.

 

Saya kira, Edi Akhiles, penulis buku ini paham tentang hal itu. Berani mengambil resiko mencantumkan misinya: Cerita Beribu Rasa dan Ragam Teknik Bercerita. Saya tidak akan memuji atau mengkritik, melainkan mendedahkan pencapaian pembaca (saya) setelah tiga kali menyetubuhi Para Penjaja Cinta.

 

I.       Cerita Beribu Rasa

 

Cinta dan Tuhan adalah topik utama dalam buku ini. Kita paham, keduanya abstrak sebagai konsep. Kita juga paham, hal abstrak harus diurai sedemikian rupa agar mewujudkan bentuk. Bagi saya, buku ini buah penghayatan batin penulisnya, penelusuran cinta dan Tuhan, menemukan bentuknya dalam 16 cerita beragam rasa.

 

Penjaja Cerita Cinta menyayat lapis demi lapis makna cinta sang kekasih. Mengesampingkan dua kutub luka dan bahagia; masuk ke lapisan lebih dalam lagi. Kesetiaan bukan kekonyolan, tapi komitmen jiwa menjaga nilai yang dipercayanya. Rindu bukan hampa-kosong, tapi harapan. Perpisahan bukan pengkhianatan, tapi keutuhan. Kenangan bukan sampah, tapi kekuatan. Di sini, pembaca diajak menyelam ke jiwa terdalam, melihat eksistensi cinta dengan persepsi berbeda. Bahwa ada yang lain dari anekdot pergi satu tumbuh seribu. Sengaja digiring menafsir ulang keteguhan cinta melalui kehidupan batin tokoh-tokohnya. Cinta bukan permainan logika, tetapi lelaku hati terus-menerus. Pertanyaan tiada habis dari Nyonya Sri, dan jawaban tak tuntas dari Penjaja Cerita Cinta, saya kira itu gambaran pergulatan batin manusia sepanjang hidup di dunia. Cinta, setiap sayatan di bawahnya memunculkan pertanyaan baru, dan menuntut jawaban baru, tiada habisnya.

 

Cinta pada orangtua mewujud dalam cerita Menggambar Tubuh Mama, Abah, I Love You, dan Lengkingan Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya. Cinta begitu pekat, nyata sekaligus abstrak, hadir namun tak terjelaskan. Sang anak hanya tahu cintanya meluber ke mana-mana, tak sanggup ditampung hatinya lagi, yang melahirkan tulus mengabdi dan berkorban pada orangtuanya. Lebih menyedihkan karena hukum alam memisahkan dengan kematian. Dunia anak-orangtua terpisah, tetapi cinta tetap rekat. Di titik inilah, penulis sukses mengoyak hati pembaca. Menghadapkan dua kenyataan sekaligus: cinta tetap abadi dalam dunia tak abadi ini.

 

Cinta lebih ringan a la anak muda banget terwakili cerita Love is Ketek, Tak Tunggu Balimu, dan Cinta Cantik. Ketiganya mengangkat wilayah permukaan, perasaan mayoritas, umum. Penulis lihai mengulik-ulik, membikin cerita tidak jatuh klise, dengan tetap mengaduk emosi pembaca. Mabuk kepayang atau galau berkepanjangan terjadi pada semua manusia. Bahkan penjelasan ilmiah tak sanggup membendung perasaan ini. Galau ya galau saja, seperti cibiran tokoh di cerita Tak Tunggu Balimu, yang termakan omongannya sendiri tatkala mengalami. Ya, butuh pengalaman demi menuai pengertian. Dan hakikat cinta sejati tidak terletak di fisik, tapi di hati. Hitung-hitungan logika bakal mental, sebab kesejatian cinta tidak terukur apapun, seperti terpapar dalam cerita Cinta Cantik.

 

Dan di lapisan terdalam cinta, ada hal menyatukan manusia, yakni spiritualitas. Saya kira, penulisnya telah sampai ke lapisan ini, mengingat bahasan manusia dengan sang khalik menjadi nafas kata-katanya. Ambil contoh cerita Dijual Murah Surga Seisinya, yang bicara pembalikan makna. Di awal, sang tokoh merasa mapan spiritual karena telah menjalankan ibadah agama (Islam). Cukup. Ternyata, itu kesombongan manusia bak sebutir pasir yang merasa seluas gurun Sahara. Ketika tokoh Pak Tua menjual resep rahasia masuk surga, hanya dengan mahar 50 ribu rupiah, sang tokoh laiknya dibangunkan kesadarannya. Hal menarik yang menjadi kunci inspirasi cerita ini adalah kepekaan melihat pertanda sebagai pengingat mawas diri dan tidak takabur. Sang tokoh memikirkan ulang sejarah hidupnya, dosa-dosanya sepanjang hidup, dan ketamakan di tengah kekayaan melimpah, lalu bangkit menjadi manusia lebih baik lagi. Pak Tua yang dicibirnya melahirkan pemaknaan baru, seperti gumamnya di puncak cerita,”Pak Tua itu telah menyelamatkanku…”

 

Secangkir Kopi Untuk Tuhan, Tamparan Tuhan, Aku Bukan Batu!, dan Si X, Si X, and God menceritakan spiritualitas sejenis, dengan pergulatan batin berbeda. Penulis menarik kehidupan luar (duniawi) ke kehidupan dalam (batin). Bahwa setiap kejadian niscaya berkelindan dengan campur tangan Tuhan. Manusia bijak senantiasa mencari makna di baliknya. Terus-menerus, selama hayat dikandung badan. Dari kematian Simoncelli di arena balap MotoGP, sampai renungan kehidupan setelah mati. Hal ini tidak berhenti di renungan hati, tetapi mewujud tindakan nyata, perbuatan, yakni ibadah (shalat), lelaku menjaga hubungan manusia dengan Tuhan.

 

Cinta dan Tuhan adalah substansi. Penulis buku ini telah mengurai eksistensinya. Saya kira, penulis berhasil menyeret pembaca masuk ke dalam renungannya, menghadirkan beribu rasa, untuk menuai serangkaian makna baru. Walaupun pertanyaan tentang cinta dan Tuhan tiada habisnya. Justru di sini letak keunikan buku ini, tidak hendak memberikan jawaban dengan titik, melainkan melihat pertanyaan dan jawaban tentang cinta dan Tuhan sebagai proses berkesinambungan dalam diri manusia sampai ajal menjemput nantinya.

 

II.    Ragam Teknik Bercerita

 

Buku panduan menulis fiksi berjumlah ratusan, bahkan ribuan. Tapi tetap muncul pertanyaan bagaimana menulis cerpen atau novel? Apa persoalannya? Saya kira, terletak pada pemahaman kata “menulis” itu sendiri. Menulis adalah kata kerja, yang diartikan sebagai proses. Tindakan, bukan hafalan. Tapi tindakan juga percuma apabila tidak dibekali teknik, kemampuan menuangkan ide dalam bentuk cerita. Penulis telah berbaik hati membagikan pengalaman menulis tahun 1995 – sekarang. Pembaca tinggal menyerap ilmunya lalu diterapkan. Segampang itu? Ternyata tidak. Penulis tidak mengajak pembaca menggampangkan proses, justru diajak berjibaku mempelajari teknik menulis dalam 16 contoh cerita variatif. Di sini, saya akan menguraikan hasil telisik teknik menulis yang digunakan dalam mencipta karya ini.

 

Ide. Ide cerita tidak harus bombastis. Yang penting unik, menarik, dan orisinal. Lahir dari pengamatan sehari-hari. Ambil contoh ide cerita Love is Ketek. Umumnya, ketek identik dengan bulu dan bau. Titik. Tapi penulis sangat jeli melihat ketek, sehingga dikaitkan dengan cinta. Hal yang sebelumnya tak terpikir sama sekali. Ini yang bikin pembaca “wow”. Terkejut, terpana, terpesona. Hal serupa juga ditemui dalam cerita Tak Tunggu Balimu. Dari lagu dangdut koplo bisa dikembangkan ke bentuk cerita. Sumber ide yang tak habis digali adalah pengalaman hidupnya sendiri. Penulis piawai memanfaatkan pengalaman menonton MotoGP di Sepang, interaksi dengan Abah, obrolan dengan teman kuliah di Yogyakarta, dan lain-lain. Atau mengolah ide percintaan umum dengan penceritaan baru, seperti cerita Penjaja Cerita Cinta. Atau malah bersumber dari dalam dirinya sendiri. Perenungan manusia dengan Tuhan, seperti mayoritas cerita dalam buku ini. Jadi, penulis seperti bilang tak perlu ke gunung mencari inspirasi. Cukup kenali diri sendiri dan lingkungan, temukan hal unik menyentuh-menggugah-menginspirasi, lalu duduk di depan laptop menuliskannya.

 

Setting. Bisa sangat pekat seperti dalam cerita Menggambar Tubuh Mama atau Tamparan Tuhan. Bisa juga sangat membumi seperti dalam cerita Dijual Murah Surga Seisinya atau Secangkir Kopi Untuk Tuhan. Di sini, penulis mengajak pembaca melihat kemungkinan. Bahwa setting tidak melulu bak alamat jelas, lengkap, detail. Juga imajinatif, tempat yang hanya ada di benak penulis. Yang terpenting, setting bisa menjadi tempat menghidupkan tokoh dengan segala ceritanya.

 

Alur. Linier, flashback, linier + flashback. Contoh linier di cerita Love is Ketek. Contoh flashback di cerita Lengking Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya. Contoh Linier + flashback di cerita Penjaja Cerita Cinta. Pembaca diajarkan memainkan cerita dengan pemahaman konsep waktu dan memainkannya. Bahwa cerita tidak melulu bergerak maju. Juga mundur ke belakang atau gabungan keduanya.

 

Narasi. Ini yang menarik. Masing-masing cerita dengan narasi berbeda. Penjaja Cerita Cinta terbilang sastra banget. Menggunakan kalimat runut, kaya metafora, puitis. Contohnya kalimat “Dari kejauhan, mata ayah kian mendanau, lebih basah dari gerimis yang menggelepar di halaman rumah pucat itu.” Atau narasi gaul abis dalam Love is Ketek. Simak kalimat “Cuma lo yg bisa sesuka ati lo nyakitin ati gue dengan ketek segala! Penting banget ngetek-ngetekin gue lo!” Cerita Si X, Si X, and God, bahkan seluruhnya dialog, dari awal sampai akhir. Jadi, banyak cara menarasikan ide cerita.

 

Diksi. Penulis terlihat berusaha keluar kotak dalam memilih kata. Mencari kata yang jarang dipakai, diletakkan dalam kalimat, memberi kesan beda dan memukau. Contohnya kata “halilintar” dan “helai” dalam kalimat “Suaranya halilintar merobek helai hatiku.” Umumnya, suara direkatkan dengan merdu atau keras, di sini direkatkan halilintar. Umumnya, helai dikaitkan dengan kertas, di sini dikaitkan dengan hati. Alhasil, dari satu kalimat pendek menjadi sangat kuat.

 

Suspensi. Cerita Penjaja Cerita Cinta sangat bagus menjaga penasaran pembaca untuk membaca sampai tuntas. Di antara selang-seling dialog, ketegangan meluncur bertahap bak membuka tabir misteri, yang menggiring pembaca pada klimaks. Di cerita Love is Ketek malah dibuka dengan suspensi kuat “Oke, Fine!” Lalu bergulir suspensi lain dalam bentuk perdebatan antar tokohnya. Atau dengan kejanggalan, seperti rahasia masuk surga dalam cerpen Dijual Murah Surga Seisinya. Mau tak mau, pembaca mencari jawaban rahasia itu di halaman selanjutnya.

 

Sebetulnya, masih banyak lagi yang bisa dipelajari dalam buku ini. Saya cukupkan enam poin, takutnya kepanjangan, malah jadi buku. Intinya, 16 cerita dalam buku ini digarap dengan cara berbeda, yang artinya pembaca bisa menemukan 16 teknik menulis berbeda pula. Silakan baca dengan teliti. Kalau bisa lebih dari satu kali. Pasti melihat keragaman yang saya lihat.

 

III.Bonus

 

Sebelum menutup buku, penulis memberikan bonus Hindari Dosa-dosa Preett Ini dalam Menulis. Ada tiga hal: OverPEDE menganggap diri serba tahu, abai pada detail, dan emosi sesaat. Saya pikir ini sesuatu yang penting yang dianggap tidak penting para penulis. Bahwa menulis bukan proses sekali jadi, melainkan bertahap dan terus-menerus. Menulis tidak hanya mengetik, tapi juga riset, membaca ulang secara detail, dan membongkar-pasang apabila struktur tidak kokoh.

 

Terakhir, dari paparan di atas, sebagai pembaca saya dapat menyerap Cerita Beribu Rasa dan Ragam Teknik Bercerita. Yang artinya, keselarasan misi penulis (Edi Akhiles), isi buku, dan pembaca (saya), berada dalam capaian sama. Sukses!

 

 

Cerpen Homoseksual Membantah Homophobia

covergantengDEPANSepuluh cerpen homoseksual lahir dari tangan Antok Serean, yang disatukan dalam buku GANTENG. Sekilas sinopsis buku tersebut:

 

Buku ini mengangkat sepuluh cerita pendek bertema gay. Cerita cinta beda kelas sosial, cinta pada kekasih yang HIV+, traumatik pelecehan seksual Bapak pada anaknya sendiri, pergulatan hidup pekerja seks gay, kegirangan orangtua tatkala anaknya coming out gay, kritik pada interpretasi agama yang ambigu, dan teropong jiwa aktivis pergerakan LGBT.*)

 

Buku ini tidak bicara self stigma lagi—kebencian gay pada dirinya sendiri—, melainkan keberanian menantang dunia luar yang menekannya. Seorang gay yang tangguh, percaya diri, dan bangga pada orientasi seksualnya.

 

Berikut ini wawancara saya dengan penulisnya:

 

Lina Kelana:

Berapa lama proses kreatifnya?

 

Antok Serean:

Lima tahun. Setiap cerpen saya kerjakan dalam waktu berbeda. Contohnya cerpen Lelaki Terbakar Api, sekali tulis langsung jadi. Sedangkan cerpen Kartu Nama butuh waktu dua minggu. GANTENG merupakan kompilasi sepuluh cerpen terbaik yang saya tulis tahun 2008 sampai 2013.

 

Lina Kelana:

Apa tujuan Anda membukukan cerpen-cerpen tersebut?

 

Antok Serean:

Pertama, setelah bikin lima buku antologi bersama penulis lain dan dua ebook, tahun ini saya ingin bikin karya tunggal. Kedua, sebagai penanda dan kontribusi nyata pada pergerakan sastra dan LGBT, di mana lima tahun terakhir saya mengabdikan diri. Ketiga, ingin mengangkat homoseksual dalam perspektif HAM dan SOGI**)

 

Lina Kelana:

Adakah hambatan dan bagaimana Anda menyikapinya?

 

Antok Serean:

GANTENG adalah karya idealis. Saya melakukan kritik tajam pada homophobia, blak-blakan. Resikonya, saya tidak mendapatkan penerbit besar. Sedangkan untuk cetak sendiri, saya tidak punya uang. Jalan terakhir dengan print on demand (POD). Intinya, dalam keterbatasan, saya ingin tetap berkarya dan berbagi dengan pembaca. Hm, kalau ada penerbit yang berani menerbitkan ulang, tentu saya senang sekali.

 

Lina Kelana:

Cerpen-cerpen Anda mengangkat isu kontroversial. Sepengetahuan saya jarang penulis yang berani menuliskannya. Mengapa Anda terlihat percaya diri?

 

Antok Serean:

Logikanya sederhana. Saya berpendapat homoseksual sah-sah saja. Namun mayoritas orang menolaknya. Istilah kerennya homophobia. Nah, di sinilah peran saya, mengkomunikasikan melalui sastra. Jelas, karya saya berbeda dengan cerita homoseksual di pasaran, yang menampilkan homoseksual cengeng-meratapi nasib-pendosa-galau. Saya menampilkan homoseksual tangguh-percaya diri-bangga pada orientasi seksualnya. Bahkan dalam cerpen Pras Menggugat Pendongeng dan Kartu Nama, saya membongkar kemunafikan dan menampar homophobia. Silakan kalau dianggap kontroversial. Bagi saya, pembaca perlu melihat homoseksual dari perspektif berbeda, sehingga bisa menafsir ulang sejatinya homoseksual.

 

Lina Kelana:

Saya baca salah satu cerpen Anda yang berjudul Ustad Ahmad—tokoh yang dekat dengan agama dan menjaga sikap dari segala cela—ternyata homoseksual. Di sana Anda tak ragu menuliskan detail kejadian. Apakah Anda tidak takut ditolak? Apa yang bisa Anda jelaskan tentang hal ini?

 

Antok Serean:

Oh, ditolak itu sudah biasa, dan saya jalan terus. Dalam Ustad Ahmad, saya bicara hubungan orientasi seksual dengan agama, dalam hal ini Islam. Bagaimana Ustad Ahmad bercinta-kasih dengan Imam, santrinya sendiri, dengan tetap tekun menjalankan ibadah. Hubungan yang selaras dan harmonis. Di sini saya membantah pandangan homoseksual bertentangan dengan agama. Hal yang menghantui pikiran banyak orang.

 

Sebetulnya, cerpen Ustad Ahmad lahir dari pengamatan sehari-hari, di mana banyak teman-teman homoseksual tidak berkonflik dengan agama yang dianutnya. Baik-baik saja. Nah, sebagai cerita, saya fokus pada proses tumbuh-kembang cinta-kasih, sekaligus dimensi agama yang melingkupinya. Saya mengajak pembaca melihat substansi dan tidak terjebak perdebatan ideologi. Jadi, bila ada pertanyaan, apakah ada ustad homoseksual? Oh, ada hehe…

 

Lina Kelana:

Pada cerpen A, saya menemukan adanya kedekatan emosional Anda dengan tokoh dan peristiwa di dalam cerita. Saya menduga A atau temannya adalah Anda sendiri? Apakah benar?

 

Antok Serean:

Saya membebaskan pembaca menginterpretasikan seperti apa. Kalau Anda berasumsi tokoh A saya sendiri, silakan saja. Saya tidak membenarkan atau menyalahkan. Ketika karya lahir, hidupnya di tangan pembaca.

 

Cerpen A terinspirasi dari obrolan saya dengan teman yang HIV+. Saya kagum pada ketegaran dan perjuangannya menghadapi hidup. Semangat berani hidup (bukan berani mati) inilah yang saya masukkan dalam cerpen. Jatuh, bangkit lagi.

 

Sebagai penulis, saya putar otak, bagaimana semangat ini sampai ke pembaca. Pada bagian yang emosinya sangat dalam, saya menggunakan sudut pandang orang pertama. Terutama dialog A dengan kekasihnya, Gio, yang meninggal dunia. Saya juga membuat persoalan tokoh utama pararel dan berlapis—bercermin dari fakta yang masih terjadi sampai sekarang, seperti penolakan orangtua pada anaknya yang homoseksual, pengusiran seorang yang HIV+, pentingnya dukungan orang terdekat, ketakutan pada kematian, dsb. Di akhir cerita, A menjadi juara bagi dirinya sendiri, berhasil melewati semua rintangan itu.

 

Lina Kelana:

Bagaimana tanggapan khalayak pembaca tentang buku ini?

 

Antok Serean:

Sejauh ini sangat bagus. Niat saya bikin buku ini tidak hanya jualan, juga pesannya sampai ke pembaca. Karena tidak beredar di toko buku, maka saya bergerak militan menemui perorangan maupun komunitas. Saya sudah ke Lamongan, Jombang, dan bolak-balik Surabaya. Tanpa sponsor pihak manapun. Terakhir saya bikin bedah buku di GUSDURIANS, Surabaya. Di situ saya mengobrol tentang isi buku GANTENG. Apresiasinya beragam—pujian maupun kritikan—saya terima dengan bahagia. Syukurlah, penjualan buku juga bagus. Saya bawa 10 buku ke Surabaya, laku semua. Balik ke Madiun, kulakan lagi. Lalu blusukan lagi sampai sekarang hehe…

 

Lina Kelana:

Setelah buku ini, adakah keinginan membuat novel atau buku puisi tentang homoseksual? Mengapa?

 

Antok Serean:

Ya. Saya sudah bikin novel dan sekarang sedang proses di penerbit. Semoga tahun depan bisa terbit. Sekarang, saya sedang menulis buku ketiga. Ke depan, saya masih menulis bertema LGBT karena apa yang saya lakukan sejauh ini saya letakkan dalam konteks pergerakan. Namanya pergerakan, saya berharap perubahan lebih baik di masa depan. Bagi kehidupan LGBT dan kemajuan sastra.

 

Lina Kelana:

Apa yang ingin Anda sampaikan pada teman-teman homoseksual?

 

Antok Serean:

Perjuangan masih panjang. Ayo, ambil bagian dalam gerakan.

 

Lina Kelana:

Pesan yang ingin Anda sampaikan ke pembaca secara umum?

 

Antok Serean:

Terima kasih untuk teman-teman yang telah membantu, membeli, membaca, dan mengapresiasi karya saya. Semoga GANTENG bisa menginspirasi dan membuka cakrawala berpikir untuk melihat homoseksual dengan cara yang bijak dan dewasa.

***

 

Judul: GANTENG

Penulis: Antok Serean

Penerbit: www.nulisbuku.com

Cetakan: I, September 2013

Tebal: 150 halaman

Harga: Rp. 40.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Pembelian: 083830133500 a.n Antok Serean

 

*) LGBT: Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender/Transeksual

**) SOGI: Sexual Orientation and Gender Identity

 

Antok Serean, penulis. Cerpennya terbit dalam buku antologi bersama: Sebuah Biola Tanda Cinta, Hanya Ada di Indonesia, Di Balik Kaca, Menagerie 7, Amarah. Ebook: Hari Ini Tak Ada Cinta, Filosofi Embun Pagi. GANTENG adalah kumpulan cerpen pertamanya.

 

Lina Kelana, penulis novel Suwung.

 

Antok Serean – Buku Kumpulan Cerpen GANTENG

http://www.nulisbuku.com/books/view_book/4778/ganteng

Teman-teman, buku saya kumpulan cerpen GANTENG telah terbit independen. Tidak dijual di toko buku. Untuk membeli, silakan pesan via email admin@nulisbuku.com

 

Judul buku: GANTENG

Penulis: Antok Serean

Desain Sampul: Dhecky Fa

Foto Sampul: Arther Panther Olii

Tebal: 150 halaman

Kertas: HVS 13X19 cm

Penerbit: www.nulisbuku.com

Harga: Rp. 40.000,-

 

covergantengBuku ini mengangkat sepuluh cerita pendek bertema gay. Cerita cinta beda kelas sosial, cinta pada kekasih yang HIV+, traumatik pelecehan seksual Bapak pada anaknya sendiri, pergulatan hidup pekerja seks gay, kegirangan orangtua tatkala anaknya coming out gay, kritik pada interpretasi agama yang ambigu, dan teropong jiwa aktivis pergerakan LGBT.

 

Buku ini tidak bicara self stigma lagi—kebencian gay pada dirinya sendiri—, melainkan keberanian menantang dunia luar yang menekannya. Seorang gay yang tangguh, percaya diri, dan bangga pada orientasi seksualnya.

 

Daftar judul cerpen:

1.      Ustad Ahmad

2.      Ganteng

3.      Air dan Api

4.      A

5.      Pras Menggugat Pendongeng

6.      Seekor Burung Merpati Menebus Dosanya Sendiri

7.      Tole

8.      Lelaki Terbakar Api

9.      Pulanglah, Gatot

10.  Kartu Nama

 

“Kamu HIV positif atau bukan, itu tak mengubah cinta aku pada kamu.”

(Cerpen A)

 

“Pak, berpasangan kan tidak harus laki-laki dengan perempuan. Bisa laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan waria, waria dengan laki-laki, atau manusia dengan dirinya sendiri?”

(Cerpen Pras Menggugat Pendongeng)

 

Saya menulis tiga kata itu di cermin kamar mandi dengan jemari: PANGKAS RAMBUT GANTENG. Wajah tampan itu seolah muncul dari balik tulisan. Senyumnya yang manis membangkitkan gairah. Duhai, pemuda tampan, berikan saya seteguk madu asmara. Biar terpuaskan segenap jiwa-raga. Bagilah pesona di setiap jengkal tubuh. Biar hasrat tak lagi mengaduh. Utuh.

(Cerpen Ganteng)

 

Email               : antokserean@gmail.com

Twitter            : @antokserean

Facebook        : Antok Serean

Blog                 : http://www.kampunglanang.wordpress.com  

Ebook Filosofi Embun Pagi

Cover Filosofi Embun PagiVendor Product Number : 16072013230158
ISBN Printed : 16072013230158
ISBN Digital : 16072013230158

Synopsis

Filosofi Embun Pagi berisi 20 cerita sederhana, ringan, inspiratif, dan bermakna dalam. Penghayatan pada hal-hal kecil yang kerap terabaikan. Embun pagi, lengkung pelangi, segelas kopi, atau sejuk air sungai. Juga pengalaman berharga yang tak berarti lagi karena tergilas zaman. Masih ingatkah permainan kasti, gubak sodor, petak umpet, engkling, egrang, enthik, dan lompat tali? Bagaimana rasanya sunat pada calak, bukan dokter? Semua tersaji dalam buku ini. Setiap halamannya menawarkan kesejukan embun di pagi hari, yang di tiap tetesnya mengandung filosofi.

Book’s detail

Author: Antok Serean

Publisher: Gramediana

Publish date : July 16th, 2013

Dimensions (cm):

Pages: 72

Language: -

Price: Rp.29.000,-

Untuk membeli, silakan berkunjung ke website http://gramediana.com

Afeksi 38 – Konser Musik HUT Surabaya Ke-720

Siang ini saya bangun dengan badan remuk. Tulang-tulang seolah rontok saat menggeliat. Saya meraih HP disamping bantal. Ada pesan masuk. Menanyakan apakah saya sakit. Saya minum air putih banyak-banyak. Biar otak kembali encer. Ah, betul. Saya sakit. Pesan tersebut tak ayal menyeret ingatan saya pada hari sebelumnya.

 

Kemarin saya jengkel sendiri. Telah menyusun jadwal membaca, menulis, dan malamnya menonton konser musik. Namun badan tak bisa diajak kerjasama. Lemas, meriang, dan kepala pusing. Apa boleh buat, dua jadwal saya hapus. Diganti makan banyak-banyak, minum obat, dan istirahat total. Segala obat masuk perut. Paracetamol, CTM, vitamin C, dan Sangobion. Harapan terbesar saya bisa lekas sembuh dan melakukan jadwal ketiga.

 

Saya bangkit dari kasur pukul tujuh malam. Badan sudah lumayan. Sempat menghitung kancing baju antara pergi, tidak, pergi, tidak, pergi. Ya, saya putuskan pergi nonton konser musik. Sayang kan, acara setahun sekali. Gratis lagi. Saya segera sikat gigi dan cuci muka. Tak berani mandi. Lalu bergegas pergi ke warung kopi untuk mengembalikan energi. Berjalan santai menuju balai kota Surabaya.

 

SONY DSCSeperti tahun-tahun sebelumnya, konser musik menjadi puncak acara peringatan HUT Surabaya ke-720. Diisi artis Surabaya yang sukses di Jakarta. Tahun ini yang tampil Ahmad Dhani, Nu Dimension, Smash, Last Child, Vierratale, dan lain-lain. Agak kecewa karena tak ada Ari Lasso dan Padi. Sudahlah. Toh, acara ini hanya hura-hura belaka, yang dibalut kepentingan promosi Surabaya dan menyenangkan warganya.

 

Saya selalu merasa dari tahun ke tahun peringatan HUT Surabaya sebatas perayaan belaka. Okelah, hari sebelumnya ada festival makanan khas Surabaya, tari Remo kolosal, dan mal-mal yang banjir diskon. Tapi, apakah itu mencerminkan Surabaya secara keseluruhan? Saya sedih kesenian Ludruk tidak mendapatkan kesempatan layak dalam perayaan ini. Juga prihatin pada identitas kota Surabaya yang kian tergerus zaman, seperti nama-nama pasar tradisional yang diganti ke-Inggris-inggrisan. Pasar Wonokromo diganti Darmo Trace Center, pasar Blauran digencet BJ Junction, dan lain-lain.

 

Apa ya, seperti menggugah kebanggaan semu kejayaan masa lalu. Lihatlah, Ahmad Dhani duet Nu Dimension menyanyi lagu Tanjung Perak. Juga permainan parikan yang terkesan dipaksakan. Selebihnya lagu-lagu cinta yang tak ada hubungannya dengan HUT Surabaya. Dalam hal ini saya memang bodoh. Ini kan acara hura-hura. Jadi, harus disesuaikan dengan selera pasar yang berkembang sekarang. Tujuannya kan pesta, suka-suka.

 

Dan kenapa saya datang menonton konser ini? Hm, tak lebih ingin menjadi bagian euforia pesta-pora kota Surabaya. Sampai dibela-belain berdesak-desakan, menegak-negakkan kepala demi melihat tampang Morgan Smash. Ya, dalam hal ini saya ingin senang-senang belaka. Tak ada hubungannya dengan HUT Surabaya. Sekedar melihat tontonan gratis.

 

Tentu, kalau boleh berharap sih, acaranya lebih menonjolkan identitas Surabaya, seperti pertunjukan Ludruk, cangkrukan yang gayeng, napak tilas sejarah perjuangan kota Surabaya, dan sejenisnya. Barangkali belum terpikirkan. Atau memang pemerintah kota Surabaya berorientasi pada kebutuhan masyarakat? Tolak ukurnya adalah kemeriahan. Ya, ketika jutaan orang berbondong-bondong menonton konser musik, bukankah itu bukti kesuksesan acara? Ah, entahlah.

 

Saya pulang pukul sepuluh malam. Seperti dugaan saya, sakit badan kambuh lagi. Saya makan mie goreng, minum segala macam obat, lalu tepar lagi. Lantas, apa gunanya saya menonton konser seperti tahun-tahun sebelumnya? Sepertinya tak ada, selain bikin badan sakit bertambah sakit.

 

Kaliasin Surabaya, 02.06.2013, 14.00 WIB.