LGBTIQ 12 – Top, Bottom, atau Versatile

Bagi yang belum tahu, tiga istilah di atas adalah peran gay di ranjang alias pas ngeseks. Pengertian gampangnya, Top itu yang menempong, Bottom itu yang ditempong, Versatile itu bisa dua-duanya, fleksibel. Khusus Versatile, terbagi lagi menjadi dua: Versatile to Top dan Versatile to Bottom. Ini tidak kaku sebetulnya. Sewaktu-waktu bisa bergeser karena hubungan seks gay tidak melulu tempong-tempongan.

 

Peran tersebut ditentukan oleh gay itu sendiri. Biasanya pertimbangannya soal kenyamanan dan kenikmatan. Seorang Top tentu merasa risih kalau anusnya diobok-obok. Sebaliknya, seorang Bottom akan kewalahan kalau disuruh nggenjot. Sedangkan seorang Versatile bisa memposisikan dirinya sebelum naik ranjang.

 

gay romantisKuncinya komunikasi. Sebelum maju ke medan perang sebaiknya ngobrol dulu. Biar tak tersesat di kamar. Permainan apa yang bisa bikin keduanya puas. Banyak pilihan sih. Dari gaya, bisa mencoba yang biasa—Top di atas, Bottom di bawah—, Men on TopBottom menduduki Top—, doggy style alias anjing kencing, tempong dari samping, monyet memanjat pohon, dan masih banyak lagi. Untuk pemanasan sebelum ke menu utama, bisa mencoba mengulum penis, 69, rimming, jilat putting dada, mandi kucing, kissing, dan lain-lain.

 

Oya, pembagian peran ini tidak identik dengan penampilan. Maksudnya, tidak terkait dengan feminin atau maskulin seorang gay. Jadi, gay yang kekar, macho, gagah perkasa bisa saja memilih peran Bottom. Sebaliknya, gay yang feminin, lembayung sutra, ketimpring, bisa juga memilih peran Top. Sekali lagi, ini soal kenyamaan dan kenikmatan. So, jangan sungkan bertanya sebelum ngeseks.

 

Patut dicatat, pembagian peran ini posisinya setara, seimbang. Tidak ada dominasi pada pihak lain. Jadi, please, jangan merendahkan Bottom atau bangga berlebihan sebagai Top. Ini hubungan seks gay, bukan a la lelaki-perempuan. Beda. Tanpa Bottom, tak ada Top. Tanpa Top, tak ada Bottom. Sama-sama membutuhkan, bukan?

 

Sebetulnya, bagi saya, seks adalah perpaduan antara imajinasi yang diwujudkan dalam gerak fisik, yang bertujuan orgasme bersama. Namanya imajinasi, tentu saja tidak terbatas. Bosan dengan yang ini, mencoba yang itu. Misalnya, mengembangkan variasi baru pakai dildo, madu, atau buah strawberry. Pasti lebih asyik.

 

Nah, silakan pilih sendiri: Top, Bottom, atau Versatile.

 

Kaliasin Surabaya, 24.04.2013, 14.40 WIB

 

 

 

LGBTIQ 11 – Tips Menggaet Lekong

: tips ini buat gay yang masih galau di blantika perhomoan.

 

gay mesraPertama, datang ke tempat ngeber. Jangan di rumah saja kalau merasa sumpek, sendirian, dan tak punya teman gay. Datanglah ke tempat-tempat ngeber. Di sana gay tumpah-ruah. Tinggal pilih saja: brondong, tubang, kurungan, gembala, dan lain-lain. Mau cari BF, teman curhat, atau teman kencan, terserah. Percayalah, kamu tidak sendiri di blantika perhomoan ini.

 

Umumnya di setiap kota ada kok. Yang paling wajib sih di pusat kota atau pusat keramaian, seperti alun-alun. Ada juga tempat ngeber yang sudah terpetakan. Jadi, tinggal datang saja. Contohnya di Surabaya. Datanglah ke Pataya—atau Jl. Kangean, gang kecil samping jembatan Delta Plasa, Surabaya—atau ke Taman Bungkul. Ramainya malam hari. Sekitar jam sepuluh malam ke atas. Coba cari di kota-kota tempat berdomisili. Pasti ada.

 

Bisa juga datang ke tempat-tempat yang identik dengan kehidupan gay, seperti salon kecantikan, mall, gym, kolam renang, taman, dan lain-lain. Perhatikan karakter orang-orang di sana. Percaya diri saja. Tak usah malu atau takut kenalan. Pasti dapat lekong.

 

Kedua, bikin akun jejaring sosial. Bagi yang malas jalan-jalan, silakan bikin akun jejaring sosial. Ada yang khusus gay, seperti manjam, gayromeo, gay, menhunt, gayindo, dan masih banyak lagi. Coba googling saja. Banyak kok. Setelah bikin akun, tinggal pilih-pilih yang aktif di sana. Temukan yang cocok sesuai selera. Bisa juga jejaring sosial umum, seperti Facebook atau Twitter. Gay sekarang banyak yang beredar di sana. Masuk juga ke dalam grup atau fanpage. Pasti kenalan banyak banget.

 

Nah, kalau sudah dapat kenalan, tinggal mengembangkan saja ke beragam aplikasi yang lagi trend, seperti BB, Whatsapp, WeChat, Line, dan lain-lain. Pasti kehidupan berubah ramai kayak pasar.

 

Ketiga, datang ke acara LGBTIQ. Sering sekali diadakan acara bertema homoseksual. Kayak gay night, party, gatering, karaoke, dan lain-lain. Tinggal pintar-pintar mencari infonya. Tak usah ragu untuk gabung. Semuanya sudah jinak kok. Bisa juga datang ke acara yang diadakan LSM LGBTIQ, seperti peringatan hari besar, pemutaran film, diskusi santai, bedah buku, pameran fotografi, dan lain-lain. Lumayan kan. Selain dapat kenalan juga dapat tambahan ilmu.

 

Keempat, gay radar atau ngetopnya disebut gaydar. Ini adalah kemampuan atau kepekaan seseorang untuk mendeteksi orang lain gay atau bukan. Tak usah berpikir ribet. Coba perhatikan teman-teman di sekeliling, teman bergaul sehari-hari. Apa ada indikasi suka sesama jenis. Pas cangkruk di warung kopi, makan di depot, antri di ATM, atau jalan-jalan di mall, tajamkan penglihatan mata dan batin. Nah, kalau terkoneksi, kemungkinan itu ada.

 

Tidak ada patokan baku sih. Tapi, berdasarkan pengalaman, tatapan mata dan gerak tubuh jawabannya. Contohnya seperti ini. Bila lihat pasangan cowok-cewek di mall, perhatikan mata cowoknya. Apakah jelalatan melihat cowok lain yang wara-wiri di sekitarnya. Kalau iya, kemungkinan itu ada.

 

Nah, kalau sudah berhasil menggaet lekong, terserah mau diapain: dijadikan pacar, teman curhat, atau cinta satu malam. Yang pasti, tak lagi merasa galau dan sendiri. Selamat menggaet lekong!

 

Kaliasin Surabaya, 16.04.2013, 12.49 WIB

 

 

LGBTIQ 04 – Internet Binan, Internet Pergerakan

Berbahagialah binan yang hidup di era milenium, karena tak perlu mengalami ini:

Pergi ke toko buku. Memilih kertas dan amplop warna-warni. Mengendus wanginya. Menimbang gambar lelaki-perempuan pelukan dengan seikat kembang dan tulisan “Only For You”. Pulang ke rumah dengan debar tertahan. Pusing merangkai kata-kata biar tak terkesan norak: menginginkan, tapi tak terlihat ngebet. Kata pembuka: Buat Yts (yang tersayang). Melipat kertas dengan bentuk kapal, baju, atau waru. Menyelipkan foto ukuran postcard. Berjalan gegas ke kantor pos. Beli perangko kilat. Menempel dengan lem belepotan. Posisi perangko dimiringkan, sebagai tanda cepat. Menatap berulang-ulang alamat yang dituju. Mencium surat. Menyerahkan pada Pak Pos. Bertanya kapan sampai? Membayar. Menunggu balasan satu minggu, dua minggu, bahkan sebulan. Jingkrak-jingkrak mengambil surat balasan di tata usaha sekolah. Membaca diam-diam di dalam toilet. Menekan surat ke dada, hati melambung ke angkasa. Tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Berlari pulang ke rumah. Bikin surat balasan dengan P.S. kapan bisa ketemuan?

Ribet, ya? Tapi, begitulah saya di tahun 1997. Jangan tanya soal email, HP, apalagi Facebook. Semua itu mimpi. Wartel (warung telepon) mahal. Surat satu-satunya jalan. Padahal, bersisian kabupaten, saya Madiun dan orang yang saya tuju Ponorogo. Kalau naik bis cuma tiga puluh menit. Percaya atau tidak, baru ketemuan setelah setahun surat-suratan. Satu tahun!

Pasti penasaran, kok bisa kenal? Simak baik-baik:

Tiap hari Minggu, jam 10-11 malam, kuping saya menempel di radio AM sebesar kotak sepatu. Khidmat mendengarkan siaran PESTA (Pelabuhan Surat Cinta). Satu kali, penyiar bersuara serak-serak basah itu membacakan kegundahan hati seorang lelaki yang suka lelaki. Merasa begitu sendiri. Tak ada kawan berbagi. Aha, itu yang juga saya rasakan. Di akhir surat, lelaki bernama Lelaki di Lembah Kesunyian itu mengulurkan tali persahabatan via korespondensi. Silakan menghubungi radio tersebut untuk mendapatkan alamatnya. Diiringi backsound radio The Moment-nya Kenny G, hati saya memekar bahagia. Ah, akhirnya menemukan titik cerah, sebuah arah.

Meski orang itu tak seperti di angan-angan, saya tak kecewa. Lega. Bisa bertemu orang dengan perasaan sama, berbagi cerita sambil makan Soto, ngobrol berjam-jam sambil keliling alun-alun Ponoroga, dan tuntas melepaskan gairah terpendam. Lama saya berpikir, apa yang mendasari saya pergi ke Ponorogo? Tak lebih ingin meluahkan segala yang tertahan di badan, pikiran, dan perasaan. Itu thok. Sungguh, menahan beban sendirian begitu menyakitkan.

Tahun 2000. Era milenium datang. Internet mengubah total peta hubungan antar manusia. Pergaulan gay pun gilang-gemilang. Untungnya, saya sudah kerja jadi buruh pabrik. Jadi, bisa ambil paket malam 10 ribu, jam 12 malam sampai 07 pagi. Interaksi satu tahun menyusut satu malam. Luar biasa! Saya takjub dengan nick name asing yang banyak bertebaran di Mirc. Juga puas memelototi gambar lelaki telanjang—di Madiun mentok lihat bintang iklan celana dalam—. Tak jelas gunanya, pokoknya betah duduk di depan komputer, browsing segala macam. Sampai akhirnya, kegiatan itu jelas gunanya, ketika operator nyeletuk,”Mas, nggak bikin email?” Saya bingung,”Apa itu, Mas?” Operator menyahut,”Kotak surat on line.” Saya tambah bingung,”Ndak tahu caranya, Mas. Buatin dong.” Saya cengar-cengir melihat operator mengisi kotak-kotak Yahoo sambil sesekali tanya identitas. Girang hati ini ketika punya email—saya bayangkan punya kotak pos pribadi, yang kalau sewa di Kantor Pos 100 ribu sebulan—. Amboi. Namanya: wongmedion @yahoo.com. Tentu, email itu sekarang sudah mampus. Diganti yang lebih keren: antokserean @gmail.com.

Kenapa sih mau kenalan saja ruwet, belibet bin mbulet? Nggak bisa langsung bilang pada orang yang kita temui,”Hai ganteng, boleh kenalan nggak?” Sedangkan bagi hetero itu enteng-enteng saja. Kenapa mesti surat-suratan dan blusukan di internet? Sebentar, saya jadi ingat celotehan kawan ketika nunggu bis di halte. Dia bisik-bisik,”Tok, bapak itu oke, lho.” Saya melirik bapak dengan tipikal om-om tambun. Saya menggeleng dan bilang,”Udah deketin sana, bilang kalau suka.” Dia memukul bahu saya,”Ngawur, nggak mungkinlah. Iya kalau homo, kalau nggak aku kan bisa digampar habis-habisan.”

Berdasarkan pengalaman, ada tiga pola hubungan gay yang coba saya rumuskan. Pertama, gay radar. Ini yang paling bikin pusing. Seperti memancing ikan, untung-untungan. Dan juga perlu kesabaran ekstra. Kedua, ngeber. Datang ke tempat-tempat gaul gay. Di kota besar, seperti Surabaya dan Jakarta, lokasinya jelas. Sedangkan di daerah, biasanya alun-alun selalu jadi pilihan. Tetapi, tidak semua gay nyaman ngeber. Maka, alternatif ketiga, internet. Chatting di Mirc, YM, Mig33 dll. Atau buka account Manjam, GayRomeo, GayIndo, Facebook dll.

Apapun caranya, sebetulnya ada persoalan lebih besar, yakni keterbukaan. Kenyataan, bahwa relasi gay masih dipandang minor, sehingga hubungan-hubungan yang terbentuk berpusar di bawah permukaan. Bergerak di café, kamar hotel, komunitas, kos-kosan, atau pinggir jalan. Tentu, lompatannya jauh, dari jaman surat ke internet. Dan ini terus bergerak. Melahirkan pribadi-pribadi yang mudah mendapatkan lelaki. Jangan pingsan kalau tahu kabar mencengangkan ini: di desa saya, Madiun, sudah ada warnet!

Tugas yang belum tuntas adalah memanfaatkan teknologi ini untuk pergerakan. Mengisinya dengan pemikiran, sehingga tidak melulu kencan, tapi juga melahirkan pribadi-pribadi yang berani bersuara lantang tentang ragam persoalan LGBT. Jadi, jangan bosan ya kalau seminggu sekali saya ngoceh di website Our Voice, menulis di blog http://www.kampunglanang.wordpress.com, dan posting catatan di Facebook. Ini semua bagian dari proses itu, mewujudkan mimpi perubahan sosial. Kamu berani?

Plemahan Surabaya, 19.04.2011, 09:18 PM

LGBTIQ 03 – Lelaki Bercadar

Bila ingin bertemu saya, datanglah ke Pataya. (*) Tiap Sabtu malam saya di sana. Agenda utama: riset tulisan. Agenda sampingan: senang-senang. Memang, saya jarang ngeber. Mudah masuk angin soalnya. Terakhir ke sana bulan Juli tahun lalu. Itu pun dalam rangka tugas kunjungan lapangan Kursus Gender dan Seksualitas V GAYa NUSANTARA. Tentu, saya keluyuran malam karena maksud dan tujuan tertentu.

Saya duduk sendiri di bantaran Kali Mas. Memperhatikan binan yang lalu-lalang. Baik jalan kaki atau naik sepeda motor. Wajah lama dan wajah baru menyegarkan mata. Saya menyulut sebatang rokok sambil menengok jam di HP. Pukul sebelas malam. Ah, masih pagi. Biasanya, jam dua belas malam ke atas tambah ramai. Sengaja, saya mengambil jarak, menjadi pengamat. Menelisik tingkah-polah, sekaligus pola pergaulan sekarang. Rasanya tidak banyak berubah. Pakaian ngejreng, bahasa binan, dan berkelompok. Kecuali yang hendak cari teman kencan. Biasanya duduk sendiri di kegelapan atau sebaliknya, mendekati yang sendirian, seperti saya. Tetapi, kok nggak ada yang mendekati saya ya? Ada dua kemungkinan: saya kalah ganteng atau mereka yang buta.

Satu jam kemudian saya beringsut, merasa cukup. Memesan kopi di warung Mak Ipah. Beberapa mata menelanjangi dari atas sampai bawah. Saya cuek. Meneguk kopi, menghangatkan badan. Di seberang jalan, saya lihat seorang duduk di atas sepeda motor, lengkap dengan helm dan cadar. Ya, lelaki bercadar. Cadar itu sapu tangan, bandana, atau masker. Menutupi wajah, kecuali mata. Saya penasaran, apa alasan mereka memakai cadar? Pasti bukan untuk menutup aurat. Oya, saya memakai kata “cadar” merujuk sebutan umum di daerah setempat.

Dulu, seorang teman bilang,”Aku nggak pede kalau blak-blakan gitu.” Ada juga yang merasa kontradiktif,”Takut ketahuanlah, Bro. Tapi, lekong ‘kan kebutuhan. Yah, cadar solusinya.” Lebih lanjut, ia mengaku hanya membuka cadar pada teman kencan. Teman lain takut dilihat kolega, teman kerja, atau keluarga,”Wah, urusannya bisa besar kalau mereka tahu aku kelayapan di sini. Sebab pada dasarnya aku orang rumahan.” Memang, macam-macam alasan. Satu hal, fenomena lelaki bercadar sudah ada sejak pertama saya ke Pataya—sekitar tahun 2000-an awal—sampai sekarang. Entah kenapa, tiba-tiba di benak saya terbersit persoalan lebih besar, yakni nilai.

Manusia memberi nilai atas segala. Menurut hemat saya, di Indonesia, gay dinilai negatif. Meski bukti-bukti menunjukkan eksistensi di pelosok negeri (baca Gay Archipelago-nya Tom Boellstorff). Di sisi lain, heteroseksual dinilai positif. Meski fakta menunjukkan relasi heteroseksual tidak selalu ideal, kasus kekerasan dalam rumah tangga atau poligami, misalnya. Persoalannya, penilaian tersebut kerap dilekatkan secara hitam-putih, gebyah uyah, pukul rata, esensialis. Semua tahu, heteronormatif-lah biang keladinya. Saya jengkel ketika seorang teman hetero ngoceh,”Enak dong jadi gay, tiap hari bisa bebas ngewek.” Ingin sekali mencuci otaknya pakai karbol. Selalu, gay dilihat tak jauh dari selangkangan. Sedang hetero luput dari tuduhan itu. Saya menimpali,”Dolly masih buka 24 jam, tuh.” Agak defensif, sih. Biarlah. Setidaknya dia melek kalau Dolly tak mungkin eksis sampai sekarang kalau tak ada yang datang. Memang, menempatkan LGBT dan hetero, saat ini, dengan nilai sama, setidaknya berimbang, masih cita-cita yang terus diperjuangkan.

Lantas, apa hubungannya dengan lelaki bercadar? Kecenderungan manusia, kalau tidak bisa merubah nilai, maka berkompensasi atasnya. Tidak nyaman ngablak, ya pakai cadar. Tak apalah. Tiap orang punya ketahanan mental berbeda-beda. Mungkin bosan dengan istri, maka cari laki. Mungkin lelah pacaran dengan cewek, maka cari pacar cowok. Mungkin sedang cari jati diri. Mungkin ingin nongkrong saja. Mungkin sekedar lewat. Begitu banyak kemungkinan. Kenyataannya, lelaki bercadar tetap ada tiap kali saya ke Pataya. Terlebih di bagian dalam yang remang-remang.

Saya menggeser tempat duduk. Seorang lelaki bercadar cangkruk. Memesan es teh, lalu membuka masker hitam. Hm, manis juga, bibirnya memerah. Brondong usia 20-tahunan. Saya bertanya sopan,”Kenapa pakai cadar?” Dia menjawab malu-malu dengan logat Jawa medok,”Baru pertama ke sini, Mas.” Lalu menyeruput es teh. “Katanya, ini tempat kumpulnya homo ya, Mas?” imbuhnya setengah berbisik. Saya mengangguk. Mesam-mesem.

Plemahan Surabaya, 08.04.2011, 11:20 AM

(*) Pataya adalah salah satu tempat gaul gay di Surabaya. Lokasinya di Jl. Pemuda. Tepatnya, jalan tembus samping Kali Mas. Biasanya, ramai jam sembilan malam ke atas.

LGBTIQ 01 – Ricky Martin di Mata Antok Serean

Saya suka Ricky Martin. Sekarang, tidak dulu.

Dulu melihat pun enggan. Enrique Iglesias tetap nomor satu. Ricky Martin terlalu dandy, licin dari atas sampai bawah. Di mata saya, kurang “laki”. Lihat video Livin’ La Vida Loca atau She Bangs. Nggak banget, ‘kan? Meski ada adegan buka dada, tetap kurang memesona. Apa ya, agak maksa gitu. Lagunya juga biasa saja. Paling-paling saya dengerin Privat Emotion yang duet dengan Meja itu.

Tapi, saya membeliak ketika lihat video I Don’t Care. Gila, dia berubah total! Terlihat ganteng dan laki banget. Terutama dengan kumis tipis dan bulu dagu yang menggoda. Bentuk tubuhnya juga berubah padat berisi. Apalagi pakai kostum ala Hip Hop. So, terlihat sensual: jeans hitam, kaos ketat, dan jaket hitam. Seketika saya ngiler. Sontak menelusuri Youtube untuk mencari versi live. Aha, benar! Di salah satu video, dia tampil seksi abis. Bayangkan, dia membelakangi penonton sambil megal-megol menunjukkan pantatnya yang padat. Busyet, gemes banget, deh. Pingin meremas-remas dan menepuk-nepuknya. Aih, pasti asyik.

Tahun lalu dia coming out sebagai gay. Saya tidak kaget. Desas-desus dia seorang gay telah merebak di awal kemunculannya. Bagi gay yang punya gaydar tajam, itu jelas terlihat. Cara bicara, cara berpakaian, bahasa tubuh, sekaligus status lajangnya cukup jadi alasan kuat. Tapi, memang, selalu butuh waktu untuk meledakkan sesuatu: I am Gay! Seolah pijar baru yang merombak pandangan orang, terutama fans, atasnya. Dia menambah deretan panjang artis dunia yang punya orientasi sejenis: George Michael, Rock Hudson, Elton John, Stephen Gately, Mark Westlife dan masih banyak lagi.

Dan ketika dia diwawancarai Oprah Winfrey, saya senyum-senyum sendiri. Ehem, dia menjawab semua pertanyaan dengan kalem. Video masa lalu diputar. Dia menanggapi dengan santai. Ya, itu memang dia, begitu adanya. Termasuk atraksi sensual di atas panggung—goyang seksi dengan penari perempuan—. Perhatikan setiap konsernya, pasti tak lepas dari perempuan seksi. Tentu ini meruntuhkan imaji penonton. Penonton yang berasumsi dia penggila perempuan tersadar, dia penggila lelaki. Saya sedang menunggu kejutan selanjutnya. Bagaimana ya kalau dia bergoyang seksi dengan lelaki?

Bagian paling menarik dari acara itu adalah video dengan dua anak kembarnya yang lucu-lucu. Aih, gemes banget, deh. Dia telaten nyanyi bareng, main lompat-lompatan, tertawa renyah sambil makan, mandi di kolam renang, dan berlarian di pantai. Benar-benar citra memesona. Bentuk kehidupan bahagia. Terbukti ‘kan, seorang gay bisa menghikmati cinta-kasih dengan nilai positif?

Terus bergulir, hiburan semakin banyak. Saya menemukan videonya di acara The Victoria’s Secret Fashion Show dan NRJ Music Tour dengan lagu yang enak banget, Drop It On Me. Lalu, seorang kawan di Facebook nge-link videonya yang bikin air liur menetes-netes: Ricky Martin Naked. Itu video pembuka konsernya. Menampakkan seluruh bagian tubuhnya, kecuali penis. Ya, bahunya tangguh, dadanya pejal, pahanya liat, dan pantatnya bulat. Ditambah tato menjalar di sekujur tubuhnya. Sempurna! Dan di awal tahun ini, dia kampanye equality, nilai kemanusiaan antar sesama, menghargai perbedaan, yang diwujudkan dalam video The Best Thing About Me Is You. Di sini, dia tampak dewasa, tentu tanpa meninggalkan keseksiannya.

Gunjingan di pergaulan gay pun marak. Asumsi-asumsi bertebaran. Dia top atau bottom? Siapa bf-nya? Suka ngeber di mana? Size-nya berapa? Apakah tawaran Raging Stallion diterima? Bagi yang tidak tahu, Raging Stallion adalah PH yang memproduksi blue film khusus gay. Ya, semacam Vivid yang mengangkat nama Asia Carrera. Ciri khasnya selalu menampilkan aktor berbadan dempal. Saya pikir, akan jadi kolaborasi dahsyat kalau Ricky Martin duet Rocco Siffredi (sayangnya aktor hetero dan beda PH). Itu, lho, bintang Tarzan X yang punya penis 23 cm.

Yang terpenting dari semua itu, dia menjadi maskot baru. Idola. Seorang kawan mengaku lebih percaya diri setelah tahu dia gay. “Ricky Martin saja gay, baik-baik saja, kenapa saya tidak?” ujar kawan saya itu. Oya, sudah nonton film Milk yang diperankan Sean Penn? Atau baca buku Memberi Suara Pada yang Bisu karya Dede Oetomo? Kalau belum, hukumnya wajib. Sebab membuka cakrawala berpikir perihal homoseksual, berikut perubahan sosial yang melingkupinya.

Ehem, dalam rangka menghibur diri sendiri (baca: narsis), kemunculan penulis Antok Serean (ckckck), harapannya akan diikuti teman-teman LGBT yang lain. Sudi meluangkan waktu untuk mencatatkan buah pikirannya, geliat batinnya, cerita hidupnya, agar dokumen diri tak hilang ditelan usia. Sekaligus mencerahkan orang-orang terbelakang itu (baca: homophobia) agar bersikap lebih bijaksana. Walaupun, Antok Serean tidak memiliki nilai populis seperti Ricky Martin: tidak berbadan dempal, tidak berbokong semok, dan tidak bisa goyang lambada.

Plemahan Surabaya, 13 Pebruari, 09:50 AM