Dua Hari Bikin Air dan Api

Cerpen Air dan ApiIde cerpen Air dan Api dari pengalaman pribadi. Tahun 2010, saya menjadi panitia ILGA, yang acaranya digagalkan kelompok Islam fundamentalis. Detik-detik menegangkan di dalam hotel Oval, Surabaya, bersama ratusan delegasi berbagai negara, membuat perasaan campur-aduk. Dikepung orang-orang gila berbaju putih, berdampak trauma, yang bikin saya tak tidur nyenyak. Sebulan setelah kejadian, saya mengikuti healing untuk menyembuhkan trauma itu. Perlahan, saya bisa menstabilkan emosi dan pikiran, melanjutkan kehidupan.

Dari kejadian itu, saya terpikir tiga cerita sekaligus. Pertama, detik-detik menegangkan saat Islam fundamentalis menyerbu hotel Oval. Kedua, narasi tokoh gay pasca mengalami diskriminasi. Ketiga, latar belakang perseteruan kedua kelompok yang tak mungkin disatukan, yang uniknya, hidup bersama di Indonesia. Setelah mempertimbangkan, saya memilih yang ketiga. Alasannya, saya ingin mengangkat yang substansi, ideologis, dan transformasi jiwa tokohnya.

Lalu saya bikin analogi, air untuk ILGA, api untuk Islam fundamentalis. Aku untuk air; kamu untuk api. Sebetulnya itu ekstrim, seolah berbenturan. Di titik lain, saya percaya ada hal yang bisa menyatukan umat manusia. Maka, saya memasukkan landasan cinta. Berbagai kontradiksi, tarik-ulur nilai, perubahan jiwa, saya angkat ke cerita. Tentu, untuk sampai ke pembaca, ide seperti ini dituturkan secara realis. Saya sengaja tak memasukkan banyak kiasan, atau unsur imajinatif lainnya. Langsung ke titik-titik tujuan.

Inilah hasilnya. Aku dan kamu, keduanya lelaki. Di masa lalu, keduanya bertetangga. Aku berkarakter baik-baik; kamu berangasan. Keduanya saling cinta. Aku setia menolong kamu dalam kesusahan. Kamu berhutang kebaikan. Keduanya saling mengisi satu sama lain. Lalu arus hidup memisahkan, aku harus bekerja keluar kota. Puluhan tahun terpisah, tanpa kabar berita. Aku tumbuh menjadi aktivis LGBT; kamu masuk organisasi Islam fundamentalis.

Keduanya bertemu lagi di warung kopi. Kamu mengingatkan aku tentang rencana penyerbuan organisasinya, menyarankan agar tak terlibat. Namun aku keras, tetap pada pendiriannya. Keduanya berdiri di titik ekstrim berbeda. Aku, dengan ideologi keberagaman orientasi seksual harus diperjuangkan hidup adil di masyarakat. Kamu, dengan ideologi harga mati, homoseksual dihapuskan dari muka bumi. Tak terjadi titik temu. Keduanya terus baku hantam. Alhasil, perseteruan dua tokoh mewujud bentrokan dua kelompok. Air dan api, mustahil disatukan.

Saya sengaja pakai alur bolak-balik. Pertemuan di warung kopi sebagai masa kini, lalu bergerak ke kenangan masa lalu, berdebat di warung kopi, meluncur ke masa lalu lagi. Ini untuk memberi efek ketegangan, sekaligus gambaran transformasi jiwa tokohnya. Lalu, penutupnya pas kejadian penyerbuan di hotel. Saya sengaja memberi ending menggantung, untuk merangsang pembaca memikirkan kenyataan yang terjadi saat ini.

Cinta menyatukan umat manusia. Namun otak picik memisahkan, laiknya air dan api.

Madiun, 17.06.2014, 08.03 WIB

Sebulan Bikin Kampung Lanang

Cerpen Kampung LanangCerpen Kampung Lanang lahir dari gelisah. Saya sebal, kenapa sih homoseksual Indonesia dituduh ikut-ikutan Barat. Seolah tak ada dalam budaya lokal, hanya dampak modernitas. Kala gelisah, hati dan pikiran saya bergerak cepat. Melamun, jalan terindah melabuhkan gelisah.

Lamunan awal berisi homoseksual khas Indonesia, seperti warok-gemblak, bissu, ludruk, mairilan, dan lain-lain. Hm, gimana ya kalau mereka berkumpul di satu tempat? Lamunan bergerak ke perkampungan di lereng bukit. Begitu asri, banyak pepohonan, rumah-rumah dibangun dengan citarasa tradisional, bersanding modern-minimalis. Aha, ketemu setting. Tokoh-tokoh hidup di dalamnya. Satu ide meletup, semua tokoh itu laki-laki.

Nah, setting sudah jadi. Saya cari nama Indonesia banget. Apa ya? Lokasi di lereng bukit, biasanya dusun, desa, atau kampung. Akhirnya saya pilih kampung. Kenapa? Karena sreg saja. Pertanyaan selanjutnya, nama kampung. Hm, kan semua penghuni laki-laki. Gimana kalau kampung laki-laki? Ah, kurang Indonesia. Setelah saya pikir, saya ubah laki-laki dengan padanan kata Jawa. Laki-laki = Lanang. Sip. Jadilah, Kampung Lanang.

Selanjutnya alur cerita. Awalnya, saya ingin mendedahkan tetek-bengek kehidupan gay di Kampung Lanang. Setelah dipikir-pikir, itu pasti membosankan. Mau tak mau terjebak cerita cinta, seks, atau konflik sosial. Tiba-tiba, entah datang dari mana, seorang tokoh muncul. Tokoh laki-laki muda, pendatang, pertama kali datang ke Kampung Lanang. Aha, ketemu. Alur cerita memusat ke tokoh itu, yang mencari jati diri, dan menemukan cermin di sana. Persoalan lain, nama tokoh itu. Awalnya mau pakai “aku” atau “saya” saja. Tapi tak sreg. Lalu pakai nama gaul seperti Rio, Andre, Nino. Tak sreg juga. Mendekati detik-detik terakhir hendak menulis, saya memakai nama sendiri, Antok. Kenapa? Saya tak tahu. Sreg saja.

Begitulah. Kampung Lanang dan Antok hidup dalam imajinasi saya. Jelas.

Seperti biasa, saya tak menggunakan outline detail. Garis besarnya saja. Rumusnya seperti ini: Antok → Kampung Lanang → Kehidupan Kampung Lanang → Menemukan Jati diri → Pulang → Tamat. Kenapa? Karena saya ingin tokoh menentukan jalan hidupnya sendiri. Artinya, saya membebaskan tokoh Antok, yang hidup dalam diri saya, bercerita. Ini mungkin bila ruh tokoh sangat kuat. Saya tinggal duduk, melepaskan Antok Serean, menghidupkan tokoh Antok, membiarkannya mengalir melalui jemari merangkai kata per kata.

Saya pikir prosesnya cepat, satu atau dua hari saja. Ternyata satu bulan. Pembukaan lancar. Antok datang ke Kampung Lanang. Disambut satpam. Masuk gay laboratorium. Cari penginapan. Lalu, macet. Antok ngambek. Tak mau cerita. Baiklah, saya tak bisa memaksa. Saya biarkan naskah berhenti sampai di situ.

Seminggu kemudian, Antok ingin bercerita lagi. Kali ini melompat jauh. Padang pasir. Lokasi yang tak terpikir sebelumnya. Rupanya, Antok menyimpan ketakutan, yang digambarkan dengan hukuman rajam. Mimpi. Antok bangun, keluar kamar, berkenalan dengan teman satu penginapan, Indra. Nah, sampai di sini, cerita mulai lancar. Antok dan Indra mengunjungi pesta lajang. Di pesta lajang bertemu tokoh spiritual. Tak ada namanya. Hanya bilang,”Tak ada yang perlu kamu takutkan, Tok.” Intinya, tokoh spiritual memberi wejangan untuk berpijak pada hati nurani, itu kebenaran dan kekuatan sejati. Sampai di sini, saya rehat lagi. Entah berapa hari. Lupa.

Lalu Antok hidup lagi. Kali ini bercerita tentang hiruk-pikuk Kampung Lanang bikin pesta pernikahan. Tentu, pernikahan sepasang laki-laki. Wah, saya senang sekali, karena semua tokoh di awal muncul semua. Warok-gemblak, bissu, mairilan, juga perwakilan lesbian dan waria. Heboh banget. Lokasinya di alun-alun. Juga ada penyair dan prosesi pemberkatan. Nah, di puncak acara, Antok mendapatkan lemparan bunga dari pengantin. Seru!

Sialnya, cerita macet. Antok malah galau mendapatkan bunga itu, terserang melankolis akut, ogah bercerita. Seingat saya, satu minggu lebih. Dan, ketika enak-enak tidur, tengah malam, Antok membangunkan saya, menuntut bercerita. Saya duduk, menuliskan cerita selanjutnya. Kali ini bersifat spiritual. Antok duduk bersila, meditasi. Antok melepaskan dunia luar, masuk ke dalam dirinya sendiri. Sampai satu titik, Antok bisa bercakap-cakap dengan dirinya sendiri, mendengar suara hatinya sendiri. Dan, menemukan pencerahan.

Sip. Bagian terakhir. Antok lancar bercerita, sebagai pribadi baru percaya diri. Sebagai pemanis, Antok mendapatkan hadiah buku berjudul Memberi Suara Pada yang Bisu. Selesai. Tepat sebulan, lengkap dengan mengeditnya, cerpen Kampung Lanang lahir. Bagaimana kabar Antok sekarang? Aha, masih hidup dalam imajinasi saya, belum tergerak bercerita lagi. Barangkali nanti. Dengan cerita lain lagi.

Rumah Madiun, 01 Mei 2014, 21.45 WIB

Menagerie 7

Judul: Menagerie 7

Penulis: Adri Basuki, Andrei Aksana, Anto Leo, Antok Serean, Bagus Utama, Djenar Maesa Ayu, Erik Siahaan, Erza Setyadharma, Herlinatiens, N. Wibowo, Nisrina Lubis, Oka Rusmini, Putri Kartini, Ratih Kumala, Santo, Satmoko Budi Santoso, Seno Gumira Ajidarma, Stefani Hid, Stefanny Irawan, Ve Handojo, Uji Handoko, Decky Leos, Gadis Arivia, Adi Wahono

Penerbit: Yayasan Lontar, Jakarta

Cetakan: I, 2010

Tebal: vii + 257 halaman

ISBN: 978-979-8083-74-7

 

Buku Menagerie 7Bisa dibilang buku ini versi internasional Di Balik Kaca karena berbahasa Inggris. Buku keempat saya masing mengangkat cerpen Kampung Lanang, yang diterjemahkan Village of Men. Bedanya, ditambah puisi, komik, dan fotografi. Oya, buku ini dijual internasional lho, di Amazon.

Saya tidak terlibat proses terjemahan. Pihak Yayasan Lontar meminta bantuan para penerjemah. Saya hanya mengoreksi bila ada yang salah. Begitulah.

Di Balik Kaca

Judul: Di Balik Kaca

Penulis: Adri Basuki, Andrei Aksana, Anto Leo, Antok Serean, Bagus Utama, Djenar Maesa Ayu, Erik Siahaan, Erza Setyadharma, Herlinatiens, N. Wibowo, Nisrina Lubis, Oka Rusmini, Putri Kartini, Ratih Kumala, Santo, Satmoko Budi Santoso, Seno Gumira Ajidarma, Stefani Hid, Stefanny Irawan, Ve Handojo

Penerbit: Yayasan Lontar, Jakarta

Cetakan: I, 2010

Tebal: vii + 209 halaman

ISBN: 978-979-8083-75-4

 

Buku Di Balik KacaBuku ketiga sungguh membanggakan. Lihat, nama saya berjajar dengan para penulis kondang. Luar biasa, bukan? Saya tercengang saat pertama kali menerima buku ini. Bungah.

Dalam buku ini, saya menyumbangkan cerpen Kampung Lanang. Ya, cerpen yang ada di buku pertama. Memang, Yayasan Lontar sengaja menerbitkan ulang karya penulis yang telah terbit. Jadi, cerpen dalam buku ini tersebar di berbagai buku sebelumnya, lalu disatukan ulang dalam Di Balik Kaca. Begitulah.

Sejarahnya panjang. Pihak Yayasan Lontar, Pak John McGlynn, menghubungi saya, meminta cerpen Kampung Lanang diterbitkan ulang. Saya mengiyakan. Tak tahu proses produksinya. Tahu-tahu, tahun 2010, dikabari kalau buku terbit. Wah, senangnya. Saya menerima kiriman buku dengan takjub.

Tak sengaja juga, ketika saya di Jakarta, buku ini diluncurkan. Saya diminta sebagai narasumber. Oya, peluncuran buku ini bagian dari acara QFilmFestival 2010. Lokasinya di Goethe House, Jakarta. Acaranya ramai sekali. Saya baca cerpen, dialog interaktif, dan bagi-bagi hadiah. Yang menyenangkan, banyak teman-teman LGBTIQ hadir di sana, merayakan sastra.

 

Sebuah Biola Tanda Cinta

Judul: Sebuah Biola Tanda Cinta

Penulis: Adjie Darmakusuma, Tommy, Yusuf F.R, Insap Al Marshal, Yogi Rezantara, Mahatma, Agust F, Krishna, Indra Rinaldi, Djoko, Sigit, Antok Serean

Penerbit: GAYa NUSANTARA, Surabaya

Cetakan: I, 2008

Tebal: 141 halaman

ISBN: -

 

Buku Sebuah Biola Tanda CintaIni buku pertama saya. Judulnya romantis ya: Sebuah Biola Tanda Cinta. Diambil dari salah satu cerpen dalam buku ini. Ya, ini buku keroyokan, kumpulan cerpen 12 penulis. Saya menyumbangkan cerpen fenomenal Kampung Lanang.

Idenya Pak Dede Oetomo. Tahu kan siapa beliau? Akhir 2007, saya dan beliau menuju Malang dengan membawa setumpuk naskah, menemui Indra Rinaldi. Ngobrol di salah satu café, tukar-pikiran, sampai titik temu bikin buku kumpulan cerpen khas gay. Di situ, merumuskan cerpen seperti apa yang dipilih. Beliau mempercayakan seleksi pada saya dan Indra Rinaldi. Masing-masing diberi kebebasan menginterpretasikan naskah.

Awalnya, mau dibikin selang-seling cerpen-puisi. Setelah proses berjalan, puisi dikesampingkan. Saya harus memilih 300, dimampatkan jadi 10. Naskah berasal dari cerpen yang terbit di majalah GAYa NUSANTARA. Saya dan Indra Rinaldi mengajukan cerpen jagoan, lalu diambil kesepakatan. Di detik terakhir, Pak Dede Oetomo meminta saya dan Indra Rinaldi menyumbang cerpen. Alhasil, total 12 cerpen.

Almarhumah Lan Fang memberikan pengantar buku ini. Saya kutip sedikit ya: “12 cerpen yang terangkum dalam kumpulan cerpen ini, tidak sekedar menyajikan gairah ketertarikan secara fisik atau adukan emosional. Ada satu benang merah yang selalu terbaca dalam kisah-kisah hubungan cinta sesama jenis ini. Pada tokohnya, bukan saja kerap mendapatkan cibiran atau pelecehan di kehidupan dunia yang memandang dari segi hitam putih saja. Tetapi juga sebenarnya, para tokohnya, juga menyimpan berbagai kecamuk perasaan yang mengakibatkan mereka lari kepada dunia abu-abu.”

Saya ingat peluncuran buku ini, sebab pertama kali muncul ke masyarakat sebagai penulis. Ya, lokasinya di toko buku Togamas, Jl. Diponegoro, Surabaya. Saya dan Indra Rinaldi sebagai narasumber. Ernest JK Wen sebagai pembahas. Ovan sebagai pembawa acara. Acara sukses besar. Peserta tumplek-blek, sampai tak kebagian kursi. Dan, esok harinya, foto saya muncul di Jawa Pos. Amboi.

Buku ini memberi kesan mendalam. Saya menemukan rasa percaya diri untuk menulis. Juga, cerpen Kampung Lanang saya nilai sebagai salah satu yang berhasil. Karena itu pula, blog ini saya beri nama Kampung Lanang. Langkah awal dari langkah panjang menjadi penulis.