LGBTIQ 04 – Internet Binan, Internet Pergerakan

Berbahagialah binan yang hidup di era milenium, karena tak perlu mengalami ini:

Pergi ke toko buku. Memilih kertas dan amplop warna-warni. Mengendus wanginya. Menimbang gambar lelaki-perempuan pelukan dengan seikat kembang dan tulisan “Only For You”. Pulang ke rumah dengan debar tertahan. Pusing merangkai kata-kata biar tak terkesan norak: menginginkan, tapi tak terlihat ngebet. Kata pembuka: Buat Yts (yang tersayang). Melipat kertas dengan bentuk kapal, baju, atau waru. Menyelipkan foto ukuran postcard. Berjalan gegas ke kantor pos. Beli perangko kilat. Menempel dengan lem belepotan. Posisi perangko dimiringkan, sebagai tanda cepat. Menatap berulang-ulang alamat yang dituju. Mencium surat. Menyerahkan pada Pak Pos. Bertanya kapan sampai? Membayar. Menunggu balasan satu minggu, dua minggu, bahkan sebulan. Jingkrak-jingkrak mengambil surat balasan di tata usaha sekolah. Membaca diam-diam di dalam toilet. Menekan surat ke dada, hati melambung ke angkasa. Tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Berlari pulang ke rumah. Bikin surat balasan dengan P.S. kapan bisa ketemuan?

Ribet, ya? Tapi, begitulah saya di tahun 1997. Jangan tanya soal email, HP, apalagi Facebook. Semua itu mimpi. Wartel (warung telepon) mahal. Surat satu-satunya jalan. Padahal, bersisian kabupaten, saya Madiun dan orang yang saya tuju Ponorogo. Kalau naik bis cuma tiga puluh menit. Percaya atau tidak, baru ketemuan setelah setahun surat-suratan. Satu tahun!

Pasti penasaran, kok bisa kenal? Simak baik-baik:

Tiap hari Minggu, jam 10-11 malam, kuping saya menempel di radio AM sebesar kotak sepatu. Khidmat mendengarkan siaran PESTA (Pelabuhan Surat Cinta). Satu kali, penyiar bersuara serak-serak basah itu membacakan kegundahan hati seorang lelaki yang suka lelaki. Merasa begitu sendiri. Tak ada kawan berbagi. Aha, itu yang juga saya rasakan. Di akhir surat, lelaki bernama Lelaki di Lembah Kesunyian itu mengulurkan tali persahabatan via korespondensi. Silakan menghubungi radio tersebut untuk mendapatkan alamatnya. Diiringi backsound radio The Moment-nya Kenny G, hati saya memekar bahagia. Ah, akhirnya menemukan titik cerah, sebuah arah.

Meski orang itu tak seperti di angan-angan, saya tak kecewa. Lega. Bisa bertemu orang dengan perasaan sama, berbagi cerita sambil makan Soto, ngobrol berjam-jam sambil keliling alun-alun Ponoroga, dan tuntas melepaskan gairah terpendam. Lama saya berpikir, apa yang mendasari saya pergi ke Ponorogo? Tak lebih ingin meluahkan segala yang tertahan di badan, pikiran, dan perasaan. Itu thok. Sungguh, menahan beban sendirian begitu menyakitkan.

Tahun 2000. Era milenium datang. Internet mengubah total peta hubungan antar manusia. Pergaulan gay pun gilang-gemilang. Untungnya, saya sudah kerja jadi buruh pabrik. Jadi, bisa ambil paket malam 10 ribu, jam 12 malam sampai 07 pagi. Interaksi satu tahun menyusut satu malam. Luar biasa! Saya takjub dengan nick name asing yang banyak bertebaran di Mirc. Juga puas memelototi gambar lelaki telanjang—di Madiun mentok lihat bintang iklan celana dalam—. Tak jelas gunanya, pokoknya betah duduk di depan komputer, browsing segala macam. Sampai akhirnya, kegiatan itu jelas gunanya, ketika operator nyeletuk,”Mas, nggak bikin email?” Saya bingung,”Apa itu, Mas?” Operator menyahut,”Kotak surat on line.” Saya tambah bingung,”Ndak tahu caranya, Mas. Buatin dong.” Saya cengar-cengir melihat operator mengisi kotak-kotak Yahoo sambil sesekali tanya identitas. Girang hati ini ketika punya email—saya bayangkan punya kotak pos pribadi, yang kalau sewa di Kantor Pos 100 ribu sebulan—. Amboi. Namanya: wongmedion @yahoo.com. Tentu, email itu sekarang sudah mampus. Diganti yang lebih keren: antokserean @gmail.com.

Kenapa sih mau kenalan saja ruwet, belibet bin mbulet? Nggak bisa langsung bilang pada orang yang kita temui,”Hai ganteng, boleh kenalan nggak?” Sedangkan bagi hetero itu enteng-enteng saja. Kenapa mesti surat-suratan dan blusukan di internet? Sebentar, saya jadi ingat celotehan kawan ketika nunggu bis di halte. Dia bisik-bisik,”Tok, bapak itu oke, lho.” Saya melirik bapak dengan tipikal om-om tambun. Saya menggeleng dan bilang,”Udah deketin sana, bilang kalau suka.” Dia memukul bahu saya,”Ngawur, nggak mungkinlah. Iya kalau homo, kalau nggak aku kan bisa digampar habis-habisan.”

Berdasarkan pengalaman, ada tiga pola hubungan gay yang coba saya rumuskan. Pertama, gay radar. Ini yang paling bikin pusing. Seperti memancing ikan, untung-untungan. Dan juga perlu kesabaran ekstra. Kedua, ngeber. Datang ke tempat-tempat gaul gay. Di kota besar, seperti Surabaya dan Jakarta, lokasinya jelas. Sedangkan di daerah, biasanya alun-alun selalu jadi pilihan. Tetapi, tidak semua gay nyaman ngeber. Maka, alternatif ketiga, internet. Chatting di Mirc, YM, Mig33 dll. Atau buka account Manjam, GayRomeo, GayIndo, Facebook dll.

Apapun caranya, sebetulnya ada persoalan lebih besar, yakni keterbukaan. Kenyataan, bahwa relasi gay masih dipandang minor, sehingga hubungan-hubungan yang terbentuk berpusar di bawah permukaan. Bergerak di café, kamar hotel, komunitas, kos-kosan, atau pinggir jalan. Tentu, lompatannya jauh, dari jaman surat ke internet. Dan ini terus bergerak. Melahirkan pribadi-pribadi yang mudah mendapatkan lelaki. Jangan pingsan kalau tahu kabar mencengangkan ini: di desa saya, Madiun, sudah ada warnet!

Tugas yang belum tuntas adalah memanfaatkan teknologi ini untuk pergerakan. Mengisinya dengan pemikiran, sehingga tidak melulu kencan, tapi juga melahirkan pribadi-pribadi yang berani bersuara lantang tentang ragam persoalan LGBT. Jadi, jangan bosan ya kalau seminggu sekali saya ngoceh di website Our Voice, menulis di blog http://www.kampunglanang.wordpress.com, dan posting catatan di Facebook. Ini semua bagian dari proses itu, mewujudkan mimpi perubahan sosial. Kamu berani?

Plemahan Surabaya, 19.04.2011, 09:18 PM

LGBTIQ 03 – Lelaki Bercadar

Bila ingin bertemu saya, datanglah ke Pataya. (*) Tiap Sabtu malam saya di sana. Agenda utama: riset tulisan. Agenda sampingan: senang-senang. Memang, saya jarang ngeber. Mudah masuk angin soalnya. Terakhir ke sana bulan Juli tahun lalu. Itu pun dalam rangka tugas kunjungan lapangan Kursus Gender dan Seksualitas V GAYa NUSANTARA. Tentu, saya keluyuran malam karena maksud dan tujuan tertentu.

Saya duduk sendiri di bantaran Kali Mas. Memperhatikan binan yang lalu-lalang. Baik jalan kaki atau naik sepeda motor. Wajah lama dan wajah baru menyegarkan mata. Saya menyulut sebatang rokok sambil menengok jam di HP. Pukul sebelas malam. Ah, masih pagi. Biasanya, jam dua belas malam ke atas tambah ramai. Sengaja, saya mengambil jarak, menjadi pengamat. Menelisik tingkah-polah, sekaligus pola pergaulan sekarang. Rasanya tidak banyak berubah. Pakaian ngejreng, bahasa binan, dan berkelompok. Kecuali yang hendak cari teman kencan. Biasanya duduk sendiri di kegelapan atau sebaliknya, mendekati yang sendirian, seperti saya. Tetapi, kok nggak ada yang mendekati saya ya? Ada dua kemungkinan: saya kalah ganteng atau mereka yang buta.

Satu jam kemudian saya beringsut, merasa cukup. Memesan kopi di warung Mak Ipah. Beberapa mata menelanjangi dari atas sampai bawah. Saya cuek. Meneguk kopi, menghangatkan badan. Di seberang jalan, saya lihat seorang duduk di atas sepeda motor, lengkap dengan helm dan cadar. Ya, lelaki bercadar. Cadar itu sapu tangan, bandana, atau masker. Menutupi wajah, kecuali mata. Saya penasaran, apa alasan mereka memakai cadar? Pasti bukan untuk menutup aurat. Oya, saya memakai kata “cadar” merujuk sebutan umum di daerah setempat.

Dulu, seorang teman bilang,”Aku nggak pede kalau blak-blakan gitu.” Ada juga yang merasa kontradiktif,”Takut ketahuanlah, Bro. Tapi, lekong ‘kan kebutuhan. Yah, cadar solusinya.” Lebih lanjut, ia mengaku hanya membuka cadar pada teman kencan. Teman lain takut dilihat kolega, teman kerja, atau keluarga,”Wah, urusannya bisa besar kalau mereka tahu aku kelayapan di sini. Sebab pada dasarnya aku orang rumahan.” Memang, macam-macam alasan. Satu hal, fenomena lelaki bercadar sudah ada sejak pertama saya ke Pataya—sekitar tahun 2000-an awal—sampai sekarang. Entah kenapa, tiba-tiba di benak saya terbersit persoalan lebih besar, yakni nilai.

Manusia memberi nilai atas segala. Menurut hemat saya, di Indonesia, gay dinilai negatif. Meski bukti-bukti menunjukkan eksistensi di pelosok negeri (baca Gay Archipelago-nya Tom Boellstorff). Di sisi lain, heteroseksual dinilai positif. Meski fakta menunjukkan relasi heteroseksual tidak selalu ideal, kasus kekerasan dalam rumah tangga atau poligami, misalnya. Persoalannya, penilaian tersebut kerap dilekatkan secara hitam-putih, gebyah uyah, pukul rata, esensialis. Semua tahu, heteronormatif-lah biang keladinya. Saya jengkel ketika seorang teman hetero ngoceh,”Enak dong jadi gay, tiap hari bisa bebas ngewek.” Ingin sekali mencuci otaknya pakai karbol. Selalu, gay dilihat tak jauh dari selangkangan. Sedang hetero luput dari tuduhan itu. Saya menimpali,”Dolly masih buka 24 jam, tuh.” Agak defensif, sih. Biarlah. Setidaknya dia melek kalau Dolly tak mungkin eksis sampai sekarang kalau tak ada yang datang. Memang, menempatkan LGBT dan hetero, saat ini, dengan nilai sama, setidaknya berimbang, masih cita-cita yang terus diperjuangkan.

Lantas, apa hubungannya dengan lelaki bercadar? Kecenderungan manusia, kalau tidak bisa merubah nilai, maka berkompensasi atasnya. Tidak nyaman ngablak, ya pakai cadar. Tak apalah. Tiap orang punya ketahanan mental berbeda-beda. Mungkin bosan dengan istri, maka cari laki. Mungkin lelah pacaran dengan cewek, maka cari pacar cowok. Mungkin sedang cari jati diri. Mungkin ingin nongkrong saja. Mungkin sekedar lewat. Begitu banyak kemungkinan. Kenyataannya, lelaki bercadar tetap ada tiap kali saya ke Pataya. Terlebih di bagian dalam yang remang-remang.

Saya menggeser tempat duduk. Seorang lelaki bercadar cangkruk. Memesan es teh, lalu membuka masker hitam. Hm, manis juga, bibirnya memerah. Brondong usia 20-tahunan. Saya bertanya sopan,”Kenapa pakai cadar?” Dia menjawab malu-malu dengan logat Jawa medok,”Baru pertama ke sini, Mas.” Lalu menyeruput es teh. “Katanya, ini tempat kumpulnya homo ya, Mas?” imbuhnya setengah berbisik. Saya mengangguk. Mesam-mesem.

Plemahan Surabaya, 08.04.2011, 11:20 AM

(*) Pataya adalah salah satu tempat gaul gay di Surabaya. Lokasinya di Jl. Pemuda. Tepatnya, jalan tembus samping Kali Mas. Biasanya, ramai jam sembilan malam ke atas.

LGBTIQ 02 – Refleksi Pergerakan LGBTI Indonesia

(Catatan diskusi 10 Maret 2011 di GAYa NUSANTARA)

“Itu ‘kan mobil Pak Dede,” ujar Igo sambil menghentikan motornya. Saya turun dari boncengan,”Iya.” Igo tampak senang. Berulangkali ingin ikut acara GN, tapi gagal karena benturan jadwal. Setelah memarkir motor, saya mengajaknya ke ruang tengah. Benar, Pak Dede sudah datang, sedang asyik ngobrol dengan Mas Rudy. Tikar sudah terhampar. Yogie sibuk dengan laptopnya dan di dapur Mas Tono mengatur kue-kue ke nampan. Saya mengambil HP,”Ah, masih jam 18.10 menit.”

Sambil menunggu, saya diskusi ringan,”Terima kasih oleh-olehnya dari New York, Pak.” Pak Dede tersenyum,”Sepertinya saya harus lebih disiplin menulis, Tok.” Tempo hari dia ke New York. Dua cerita perjalanan tersebut dibagi ke milis dan website http://www.gayanusantara.or.id. Dua ilmu saya dapat: tentang organisasi LGBT Indonesia di Amerika bernama Satu Pelangi dan rumah singgah LGBT yang terusir dari rumah di bawah naungan gereja Trinity. Chocco turun dari lantai dua dan mengembangkan topik pembicaraan tentang skripsinya. Mahasiswi jurusan sejarah itu ingin mengangkat kehidupan gay era tahun 70-80-an. Saya beringsut ke teras, melihat teman-teman yang datang. Tampak Sam, Umi, Jimmy, Irvan, dan teman-teman lain bercengkerama. Foto-foto pameran masih terpajang. Saya gabung dengan Yogie dan Igo yang mengapresiasi foto tersebut. “Ini lokasinya di mana?” tunjuk saya pada foto pintu kayu bertuliskan kapur “Khusus PSK”. Yogie menjelaskan kalau mengambil objek itu di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Sedangkan Igo berkeliling memperhatikan foto demi foto, berhenti sejenak di foto demonstrasi di depan gedung Grahadi, Surabaya. Tepat pukul tujuh malam,”Teman-teman, silakan masuk ke ruang tengah karena acara akan dimulai.”

Randy memberi pengantar singkat, bahwa diskusi kali ini masih rangkaian peringatan Hari Solidaritas Gay dan Lesbian, 01 Maret 2011, lalu. Yogie mengutak-atik laptop. Wajah Pak Dede muncul dalam video singkat. Dia bicara tentang cikal-bakal pemilihan tanggal 01 Maret, termasuk latar-belakangnya. Video selesai. Randy memberi pengantar lanjutan dan menyerahkan jalannya diskusi pada saya, selaku moderator. Saya meraih bolpoin dan notebook sembari melirik Yogie yang sibuk dengan handycam-nya.

Saya membuka acara,”Selamat malam teman-teman semua. Diskusi malam hari ini melanjutkan diskusi tanggal 01 Maret kemarin. Kemarin kita mengaitkan film Milk yang dibintangi Sean Penn dengan pergerakan teman-teman komunitas. Secara tidak langsung, film tersebut membangkitkan semangat dan motivasi untuk berbuat lebih baik lagi. Terlebih, kondisi sekarang banyak kelompok minoritas yang ditekan, seperti Ahmadiyah. Maka, pada malam hari ini, kita coba menggali lebih dalam sejarah pergerakan LGBTI di Indonesia. Bicara pergerakan, tentu tak lepas dari perubahan. Perubahan itu yang coba kita refleksikan. Kebetulan di sini ada Pak Dede, Mas Rudy, dan Mas Tono yang babad alas berdirinya organisasi gay pertama di Indonesia. Nanti kita belajar dari mereka. Sekaligus, minta gambaran tentang kondisi di Jogjakarta pada 17 Maret 2000, tempat merumuskan Hari Solidaritas Gay dan Lesbian. Selanjutnya, saya persilakan pada Pak Dede Oetomo.”

“Terima kasih, Antok,” Pak Dede mengambil alih diskusi. Duduk bersandar di kursi sambil lesehan. Peserta tampak hikmat menyimak. Bicara pergerakan, sesungguhnya waria memulai lebih dulu. Istilah wadam atau wanita-adam diterima secara luas dalam masyarakat Jawa. Bisa ditelusuri dalam koran terbitan tahun 1967, 1968, dan 1969. Juga bermunculan surat-surat pembaca, seperti Oh Mama Oh Papa. Atau arsip tua yang disimpan Perpustakaan Nasional berjudul “Jalan Sampoerna” karya Sucipto, lelaki asal Situbondo, Jawa Timur. Di arsip ini tercatat tahun 1913. Arus modernitas memberi sumbangsih tersendiri. Mulai menjamurnya salon-salon kecantikan di daerah yang dikelola wadam, sehingga terbentuk komunitas-komunitas kecil. Ini belum termasuk tempat-tempat ngeber, semisal Taman Surya, Surabaya, dan acara kumpul-kumpul, seperti perayaan ulang tahun. Hingga muncul organisasi Perwakos dan Himpunan Waria Indonesia (HIWA). Sayang sekali, sekitar akhir 1979 sampai 1980 awal ada polemik sebutan wadam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) keberatan dengan kata “Adam” karena mengadopsi nama nabi Islam. Dan menuntut pemerintah mengubahnya. “Soeharto menggantinya dengan waria atau wanita-pria dan dipakai sampai sekarang. Tapi, masih banyak generasi tua yang menyebutnya wadam,” jelas Pak Dede.

Cornell University membuka cakrawala berpikir Pak Dede. Kebetulan di kampus itu ada organisasi gay. Uniknya, didirikan di rumah seorang Roomo. Dia mengasah keberanian dengan ikut kegiatan, seperti Cornell Gay Liberation. Awalnya tidak muluk-muluk, dengan membantu pasang pamflet atau spanduk. Lama-kelamaan mengarah ke diskusi kritis pergerakan gay. Di akhir 1980, tulisannya dimuat majalah psikologi ANDA. Dia memakai nama samaran X dan menyatakan secara terbuka sebagai gay. Respon pembaca sangat positif. 15 surat diterimanya. Semangatnya semakin berkobar. Dari Amerika, dia membayangkan perubahan di Indonesia. Lalu pada Mei 1981, dia membaca berita menggembirakan di majalah TEMPO, yakni lesbian menikah di Jakarta. Dia pun mengirimkan surat pembaca sebagai bentuk dukungan, lengkap dengan kotak pos agar bisa dihubungi. Lagi-lagi, mendapat limpahan surat. Dengan mesin ketik dia membalas surat-surat itu. Korespondensi, istilah kerennya.

Adalah Robert yang menyarankan untuk menghubungkan kawan korespondensi satu sama lain. Terbukti, itu efektif. Bersama Candra dan Frans, dia memikirkan langkah ke depan. Maka, tibalah momentum itu. Pada 01 Maret 1982, dunia mencatat berdirinya organisasi gay pertama di Indonesia bernama Lambda Indonesia (LI) yang menerbitkan Buletin G: Gaya Hidup Ceria. Kemudian berkembang ke kota-kota lain, seperti di Yogjakarta, pada tahun 1985 berdiri Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY). Terus bergulir, hingga ke bentuk Yayasan GAYa NUSANTARA seperti sekarang ini. Peristiwa penting lainnya adalah meningkatnya kasus HIV & AIDS di Indonesia, yang menyeret media untuk membicarakan homoseksual. Pada waktu itu, RCTI sebagai televisi swasta pertama di Indonesia meliput aktivitas di kantor GN. Dan tidak ada tekanan dari pihak manapun. Ledakan aktivis terjadi tahun 1990-an. Organisasi gay bermunculan di berbagai kota di Indonesia. Dan pasca reformasi, pergerakan mengarah ke isu Hak Asasi Manusia (HAM).

Jeda sejenak. Saya coba memancing,”Pak Dede, bisa diceritakan kondisi tanggal 17 Maret 2000 ketika mencanangkan Hari Solidaritas Gay dan Lesbian?”

“Mungkin agak egosentris,” akunya. Seorang teman aktivis, Faisal, mengajaknya membicarakan ini. Lantas dimatangkan dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang ketika itu secara eksplisit mendukung penuh eksistensi LGBT. Jaringan lain, seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Indonesia Gay Society (IGS), dan LKIS juga mendukung penuh. Maka, dideklarasikan tanggal 01 Maret sebagai Hari Solidaritas Gay dan Lesbian Indonesia. Pertimbangannya, pada tanggal tersebut Lambda Indonesia (LI) pertama kali berdiri. Ini belum final, masih bisa dikomunikasikan dengan organisasi lain. Mengingat, pernah ada Persatuan Lesbian Indonesia (Perlesin) dan Himpunan Waria Indonesia (HIWA). Yang terpenting, tonggak itu telah ditancapkan sebagai pertanda pergerakan LGBTI di Indonesia.

Sam yang sedari tadi ngemil jajan melontarkan pernyataan,”Menurut saya, pergerakan LGBT sekarang menurun setelah kasus ILGA kemarin. Ada ketakutan di teman-teman komunitas untuk bergerak di ruang publik.” Pak Dede menanggapi,”Mungkin di komunitas menurun, tapi kegiatan aktivis saya rasa tidak. Harus dilihat lebih jeli komunitas mana dulu. Satu catatan penting, kasus ILGA kemarin juga berdampak positif. Hampir semua media di seluruh dunia memberitakannya, kita lebih dikenal, dan wacana seksualitas terangkat ke permukaan.” Mas Sigit menambahkan,”Di forum LGBTiQ, teman-teman aktivis terguncang karena mendapat tekanan pihak lain, sekaligus menyadari ada musuh baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Memang, cenderung cooling down dulu.”

Enno menyambung dengan mengungkapkan kegelisahannya,”Bagaimana ya caranya memberi pemahaman pada teman-teman komunitas bahwa dirinya diperjuangkan? Rasanya sulit sekali mengajak mereka memiliki pola pikir seperti aktivis di film Milk kemarin. Dan juga mengubah pandangan masyarakat umum yang menilai negatif karena perilaku teman-teman sendiri. Lha, kalau teman-teman sendiri “ngucing” di pinggir jalan, apa bedanya dengan yang di Dolly?” Pak Dede menjawab dengan lugas,”Oh, itu dua hal yang berbeda. Pertama, mengajak teman-teman terlibat masuk pergerakan. Menyampaikan ideologi memang tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa. Ini sekaligus cambuk untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan mereka. Mungkin mengingatkan secara halus, seperti nasib pribumi zaman Belanda, memang enak ikut Belanda terus? Hm, tentang seperti Dolly, itu yang salah di penilaian masyarakat. Seharusnya Dolly diatur sehingga semua pihak bisa beraktivitas di situ. Saya menilai “ngucing” tidak negatif, kalau itu yang mereka inginkan. Cara merubahnya ya dengan membangun nilai baru, masyarakat yang harus diubah, itu ‘kan inti pergerakan.”

Saya tergelitik untuk mengembangkan diskusi lebih luas,”Pak Dede, sebenarnya bagaimana pergerakan LGBT di Indonesia sekarang dibandingkan negara-negara lain?”

Pak Dede menukas,”Negara mana dulu?”

Saya bilang,”Yang terpikir kawasan Asia Tenggara.”

“Oke, Asia Tenggara. Sebetulnya, Indonesia termasuk maju. Dalam berorganisasi, Indonesia dan India bagus, Malaysia belajar dari kita. Dari penanganan AIDS, kita sama dengan Thailand. Mungkin yang kurang dari tampilan publik. Maksudnya, acara-acara seperti pawai. Philipina bagus. Tapi ingat, kelemahan Philipina bersifat sentralistik, organisasi adanya di Manila, tidak merata seperti di Indonesia.”

Tepat pukul sembilan malam. Saya menutup diskusi,”Saya tidak memberi kesimpulan, hanya dua catatan. Pertama, pergerakan LGBTI di Indonesia dimulai jauh sebelum Lambda Indonesia berdiri dan terus bergulir sampai sekarang. Kedua, penetapan tanggal 01 Maret sebagai Hari Solidaritas Gay dan Lesbian Indonesia belum final. Masih bisa dikomunikasikan dengan beragam jaringan, kesepakatan semua pihak. Terima kasih atas kehadirannya malam ini.” Tepuk tangan. Masing-masing beranjak dari duduknya, ngobrol-ngobrol santai. Saya mendekati beberapa teman untuk wawancara, keperluan riset tulisan. Selanjutnya, merapikan tikar. Semua bergerak ke teras. Mengeluarkan motornya satu-persatu, kecuali saya. Lagi-lagi, saya pulang nebeng Igo,”Go, anterin saya pulang ya.” Igo mengangguk. Seperti pawai, motor-motor bergerak di bawah langit Surabaya nan cerah.

Plemahan, 11 Maret 2011, 01:49 PM

Peringatan Hari Solidaritas Gay dan Lesbian Nasional 2011

Anak tangga menahan hentakan kaki saya.

“Gie, sudah jam enam.”

“Iya, Mas.”

Yogie beranjak dari komputer, mengikuti saya ke lantai satu. Erick sudah menunggu,”Ramai sekali ya.” Saya terkekeh. Memperhatikan jajaran kursi yang kosong melompong. Memang, sesuai hasil rapat, tepat jam enam film harus diputar, mengingat durasinya dua jam. Lampu mati, film Milk yang dibintangi Sean Penn mulai. Mas Inung menyusul. Praktis, penontonnya hanya empat orang. Ah, terasa dingin. Di luar, gerimis tipis menyisip di celah-celah genting.

Saya tersenyum. Melirik ruang tengah yang tiba-tiba riuh. Rupanya kawan-kawan sudah datang: Gita Nasution, Randy, Mas Sigit, Mas Rafael, Mas Tono, Mas Rudy. Saya beranjak, keluar ke teras. Tampak Dian dan Davi dari Dipayoni buru-buru parkir motor karena kehujanan. Saya balik ke bioskop mini itu untuk membagikan kue-kue ringan. Suara Ricky Martin mengagetkan saya, ada sms masuk: Mas, acaranya di mana? Saya melangkah lagi ke teras, mendapati Shyntia dan kawannya—mahasiswa Unair yang magang di GN—kebingungan. “Makasih banyak sudah datang ya,” saya membimbing mereka. Hikmat. Harvey Milk menyita perhatian kawan-kawan semua. Separuh cerita, Iqbal dan kawan-kawan CMars bergabung. Alhasil, jajaran kursi itu akhirnya terpenuhi.

Jam delapan malam film usai. Dilanjutkan diskusi di ruang tengah. Sambil lesehan, menyaksikan video wawancara Pak Dede Oetomo sebelum berangkat ke New York. Dia menjelaskan, 1 Maret dipilih sebagai Hari Solidaritas Gay dan Lesbian Nasional bertolak dari sejarah terbentuknya organisasi gay pertama di Indonesia 1 Maret 1982, yakni Lambda Indonesia. Sejarah mencatat, pendeklarasian pertama kali dilakukan pada 17 Maret 2000. Dilakukan oleh kawan-kawan Indonesia Gay Society (IGS) di lembaga Indonesia-Perancis, Jogjakarta. Sebuah acara sederhana yang diikuti 100 gay, lesbian, dan simpatisan dari berbagai kalangan. Dan di tahun 2011, GAYa NUSANTARA menggelar pemutaran film, diskusi, dan pameran foto bertema “Fundamentalisme dan Diskriminasi”.

“Dari awal, saya merasa tidak layak jadi moderator. Tapi, karena bos menunjuk, saya tak bisa menolak,” ucap Mas Inung sambil tergelak. Sebab, sebetulnya dia berada di luar kehidupan gay: seorang heteroseksual, punya anak dan istri, tumbuh dalam keluarga kiai. Tapi, karena simpati yang tinggi, dia berusaha memberi kontribusi pergerakan berbagai kelompok minoritas, termasuk gay dan lesbian. Berbagai resiko, seperti tuduhan gay, dia terjang. Maka, dalam diskusi tersebut, justru dia ingin mendengar unek-unek kawan-kawan gay dan lesbian.

Terkait film Milk, dia menilai film yang sangat bagus. Harvey Milk hanya orang biasa yang keberadaannya tidak diakui, merasakan dan melihat diskriminasi di sekelilingnya, dan berusaha merubah keadaan yang membelenggu. Harapan, jalan Castro menjadi area gay-friendly, menggerakkannya membuka bisnis kamera, yang menggiringnya ke panggung politik. “Hidup tanpa harapan adalah hidup yang tidak layak dijalani,” kutip Mas Inung.

Mas Sigit memberi komentar berbeda,“Saya suka adegan pembuka. Ketika Harvey Milk bilang ‘usia saya empat puluh tahun dan belum melakukan sesuatu yang membanggakan’.” Dia yang berusia empat puluh tahun merasa termotivasi, bahwa usia bukan hambatan untuk mewujudkan mimpi besar. Dia salut, Harvey Milk bukan sosok yang gila kekuasaan. Masuk ke medan politik semata-mata karena empatinya yang tinggi atas ketimpangan di sekelilingnya.

Dian dari Dipayoni menyampaikan pendapatnya,”Saya tidak sekuat Harvey Milk untuk melakukan perubahan sosial seperti itu. Yang bisa saya lakukan saat ini dengan mengoptimalkan kawan-kawan Dipayoni.” Lebih lanjut, dia menilai perlunya strategi pergerakan. Seperti pilihan Harvey Milk. Ketika marak razia dan penangkapan homoseksual di USA, dia pindah ke San Fransisco untuk menggalang kekuatan lebih besar. Terbukti, setelah gagal di putaran pertama, Harvey Milk akhirnya terpilih menjadi anggota Dewan Pengawas kota San Fransisco tahun 1977, dan berhasil menolak kebijakan yang merugikan homoseksual di sektor pekerjaan dan tempat tinggal.

Mas Inung yang duduk di samping saya menoleh,”Tok, gantian kamu yang ngomong.” Saya bicara tak jauh dari kegiatan yang saya geluti, tulis-menulis. Saya percaya, tulisan bisa membawa perubahan. Bila Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer menyeret saya menekuni sastra, maka Memberi Suara Pada yang Bisu karya Dede Oetomo menginspirasi saya masuk pergerakan LGBT. Peristiwa Stonewall Inn yang ada di buku itu sangat melecut. Dan gambaran sempurna saya dapatkan usai nonton Milk. Menulis menjadi pilihan karena saya melihat jumlah penulis dari komunitas LGBT sangat minim. Saya ingin memberi kontribusi melalui jalur ini. Sama dengan pendapat Dian, saya melakukan strategi. Selain mengajak kawan-kawan di komunitas LGBT, saya mencoba mengembangkan jaringan dengan kawan-kawan penulis lain di Surabaya, seperti DKS, komunitas Esok, komunitas Dbuku Bibliopolis, Unesa, Unair, dan lain-lain. Jembatan ilmu, istilah saya. Banyak yang tidak diketahui kawan-kawan di luar komunitas LGBT, dan saya menyediakan diri sebagai jembatan itu. Saya suka narasi penutup film Milk,”Kalau satu orang pejuang mati, maka sepuluh, seratus, seribu orang akan bangkit.”

Eno unjuk suara. Dia mengeluhkan banyaknya kawan-kawan LGBT yang sulit diajak berpikir serius. “Gimana ya, dalam pergaulan sehari-hari, memang sulit mengajak kawan-kawan punya pola pikir seperti dalam film itu. Kebanyakan maunya senang-senang mulu. Giliran diajak bicara masa depan, harapan ke arah lebih baik, ribet,” keluhnya.

Tak terasa sudah jam sembilan malam. Mas Inung menyitir dua kalimat. Pertama, hidup tanpa harapan adalah hidup yang tidak layak dijalani. Kedua, melanjutkan harapan dengan tindakan nyata demi perubahan. Randy mengucapkan terima kasih pada semua yang hadir. Acara kelar, dilanjutkan obrolan ringan. Saya melangkah ke teras. Gerimis masih mengguyur kota Surabaya. Saya menjawil Eno,”No, anterin saya pulang ke kos ya.” Eno tersenyum,”Iya, Mas.”

Selamat Hari Solidaritas Gay dan Lesbian Nasional!

Plemahan, 02 Maret 2011, 02:33 PM

LGBTIQ 01 – Ricky Martin di Mata Antok Serean

Saya suka Ricky Martin. Sekarang, tidak dulu.

Dulu melihat pun enggan. Enrique Iglesias tetap nomor satu. Ricky Martin terlalu dandy, licin dari atas sampai bawah. Di mata saya, kurang “laki”. Lihat video Livin’ La Vida Loca atau She Bangs. Nggak banget, ‘kan? Meski ada adegan buka dada, tetap kurang memesona. Apa ya, agak maksa gitu. Lagunya juga biasa saja. Paling-paling saya dengerin Privat Emotion yang duet dengan Meja itu.

Tapi, saya membeliak ketika lihat video I Don’t Care. Gila, dia berubah total! Terlihat ganteng dan laki banget. Terutama dengan kumis tipis dan bulu dagu yang menggoda. Bentuk tubuhnya juga berubah padat berisi. Apalagi pakai kostum ala Hip Hop. So, terlihat sensual: jeans hitam, kaos ketat, dan jaket hitam. Seketika saya ngiler. Sontak menelusuri Youtube untuk mencari versi live. Aha, benar! Di salah satu video, dia tampil seksi abis. Bayangkan, dia membelakangi penonton sambil megal-megol menunjukkan pantatnya yang padat. Busyet, gemes banget, deh. Pingin meremas-remas dan menepuk-nepuknya. Aih, pasti asyik.

Tahun lalu dia coming out sebagai gay. Saya tidak kaget. Desas-desus dia seorang gay telah merebak di awal kemunculannya. Bagi gay yang punya gaydar tajam, itu jelas terlihat. Cara bicara, cara berpakaian, bahasa tubuh, sekaligus status lajangnya cukup jadi alasan kuat. Tapi, memang, selalu butuh waktu untuk meledakkan sesuatu: I am Gay! Seolah pijar baru yang merombak pandangan orang, terutama fans, atasnya. Dia menambah deretan panjang artis dunia yang punya orientasi sejenis: George Michael, Rock Hudson, Elton John, Stephen Gately, Mark Westlife dan masih banyak lagi.

Dan ketika dia diwawancarai Oprah Winfrey, saya senyum-senyum sendiri. Ehem, dia menjawab semua pertanyaan dengan kalem. Video masa lalu diputar. Dia menanggapi dengan santai. Ya, itu memang dia, begitu adanya. Termasuk atraksi sensual di atas panggung—goyang seksi dengan penari perempuan—. Perhatikan setiap konsernya, pasti tak lepas dari perempuan seksi. Tentu ini meruntuhkan imaji penonton. Penonton yang berasumsi dia penggila perempuan tersadar, dia penggila lelaki. Saya sedang menunggu kejutan selanjutnya. Bagaimana ya kalau dia bergoyang seksi dengan lelaki?

Bagian paling menarik dari acara itu adalah video dengan dua anak kembarnya yang lucu-lucu. Aih, gemes banget, deh. Dia telaten nyanyi bareng, main lompat-lompatan, tertawa renyah sambil makan, mandi di kolam renang, dan berlarian di pantai. Benar-benar citra memesona. Bentuk kehidupan bahagia. Terbukti ‘kan, seorang gay bisa menghikmati cinta-kasih dengan nilai positif?

Terus bergulir, hiburan semakin banyak. Saya menemukan videonya di acara The Victoria’s Secret Fashion Show dan NRJ Music Tour dengan lagu yang enak banget, Drop It On Me. Lalu, seorang kawan di Facebook nge-link videonya yang bikin air liur menetes-netes: Ricky Martin Naked. Itu video pembuka konsernya. Menampakkan seluruh bagian tubuhnya, kecuali penis. Ya, bahunya tangguh, dadanya pejal, pahanya liat, dan pantatnya bulat. Ditambah tato menjalar di sekujur tubuhnya. Sempurna! Dan di awal tahun ini, dia kampanye equality, nilai kemanusiaan antar sesama, menghargai perbedaan, yang diwujudkan dalam video The Best Thing About Me Is You. Di sini, dia tampak dewasa, tentu tanpa meninggalkan keseksiannya.

Gunjingan di pergaulan gay pun marak. Asumsi-asumsi bertebaran. Dia top atau bottom? Siapa bf-nya? Suka ngeber di mana? Size-nya berapa? Apakah tawaran Raging Stallion diterima? Bagi yang tidak tahu, Raging Stallion adalah PH yang memproduksi blue film khusus gay. Ya, semacam Vivid yang mengangkat nama Asia Carrera. Ciri khasnya selalu menampilkan aktor berbadan dempal. Saya pikir, akan jadi kolaborasi dahsyat kalau Ricky Martin duet Rocco Siffredi (sayangnya aktor hetero dan beda PH). Itu, lho, bintang Tarzan X yang punya penis 23 cm.

Yang terpenting dari semua itu, dia menjadi maskot baru. Idola. Seorang kawan mengaku lebih percaya diri setelah tahu dia gay. “Ricky Martin saja gay, baik-baik saja, kenapa saya tidak?” ujar kawan saya itu. Oya, sudah nonton film Milk yang diperankan Sean Penn? Atau baca buku Memberi Suara Pada yang Bisu karya Dede Oetomo? Kalau belum, hukumnya wajib. Sebab membuka cakrawala berpikir perihal homoseksual, berikut perubahan sosial yang melingkupinya.

Ehem, dalam rangka menghibur diri sendiri (baca: narsis), kemunculan penulis Antok Serean (ckckck), harapannya akan diikuti teman-teman LGBT yang lain. Sudi meluangkan waktu untuk mencatatkan buah pikirannya, geliat batinnya, cerita hidupnya, agar dokumen diri tak hilang ditelan usia. Sekaligus mencerahkan orang-orang terbelakang itu (baca: homophobia) agar bersikap lebih bijaksana. Walaupun, Antok Serean tidak memiliki nilai populis seperti Ricky Martin: tidak berbadan dempal, tidak berbokong semok, dan tidak bisa goyang lambada.

Plemahan Surabaya, 13 Pebruari, 09:50 AM