Bedah Buku Lesbian: Un Soir du Paris (Satu Petang di Paris)

“Jangan. Jangan lepaskan cium ini untuk memandangku. Kau akan melihat titik bening yang nyaris tergulir di sudut mataku dan kau akan mulai memberiku serangkaian pertanyaan yang tak akan mampu kujawab. Semoga jemarimu tak peka pada basah yang telah mulai meluncur. Aku tak bisa menghentikannya dan aku juga tak punya pembelaan apa-apa. Semoga kau tak merasa. Semoga…” (Nukilan cerpen Un Soir du Paris karya Stefanny Irawan)

CCCL Surabaya, 09 Oktober 2010.

Tepat pukul tujuh malam. Separuh ruangan sudah terisi. Para penyaji telah duduk di tempatnya masing-masing. Mas Harry Q-Munnity membuka acara dengan memperkenalkan latar-belakang dua narasumber: Soe Tjen Marching dan Stefanny Irawan. Selanjutnya, alur acara diserahkan pada moderator: Maria Mustika.

Dengan gaya centil, Maria Mustika bertanya tentang penggunaan subjek aku dan kamu dalam cerpen Un Soir du Paris. Stefanny Irawan menjawab dengan lugas. Ini memang sengaja, untuk menunjukkan pemahaman yang berbeda dari dua tokoh utama: sudut pandang orang pertama memahaminya sebagai perkenalan awal, sedangkan sudut pandang orang kedua memahaminya sebagai orang yang telah kenal sebelumnya. Cerpen yang berakhir sedih ini terinspirasi oleh film yang ditonton penulisnya—penulis cerpen lupa judulnya—. Selesai dibuat pada 17 Desember 2006.

“Buku ini sebuah gebrakan!” ujar Soe Tjen Marching dengan ceplas-ceplos. Dia menilai buku ini bagus. Sebab menampilkan realitas hubungan perempuan dengan perempuan yang selalu ditampik eksistensinya. Meski di sana-sini nilai heteronormatif masih terasa, tapi ini bentuk resistensi cerpen bertema lesbian dibaca khalayak lebih luas. Diharapkan, penerbitan Q Stories dan Un Soir du Paris membuka cakrawala berpikir tentang perempuan. Dia menegaskan, lesbian terkungkung oleh nilai heteronormatif dan patriarki sekaligus. Untuk itu, literatur yang berpihak pada lesbian patut diapresiasi.

Sesi diskusi berlangsung seru. Yuni dari CMars menyoroti buku sebagai medium perubahan. Taufik Monyong menganalisa persoalan paling mendasar LGBT terkait kebudayaan khas Indonesia, sekaligus perlunya ruang-ruang diskusi di masyarakat. Antok Serean melempar wacana genre sastra LGBT di Indonesia. Dan Akhol mengungkapkan esensi persoalan di masyarakat adalah diskriminasi.

Acara ditutup oleh Mas Harry Q-Munnity dan ucapan terima-kasih oleh Taufik Monyong. Selanjutnya, tanda-tangan dari penulis dan obrolan santai. Pukul sembilan malam pengunjung meninggalkan CCCL. (Antok Serean)

Daftar cerpen dan penulis buku Un Soir du Paris:

Kata Pengantar oleh Oka Rusmini: Percakapan Perempuan.

  1. Cahaya Sunyi Ibu, Triyanto Triwikromo.
  2. Danau, Linda Christanty.
  3. Dua Perempuan dengan HP-nya, Seno Gumira Ajidarma.
  4. Hari Ini Esok dan Kemarin, Maggie Tiojakin.
  5. Lelaki yang Menetas di Tubuhku, Ucu Agustin.
  6. Mata Indah, Clara NG.
  7. Menulis Langit, Abmi Handayani.
  8. Potongan-Potongan Cerpen di Kartu Pos, Agus Noor.
  9. Saga, Shantined.
  10. Sebilah Pisau Roti, Cok Sawitri.
  11. Tahi Lalat di Punggung Istriku, Ratih Kumala.
  12. Un Soir du Paris (Satu Petang di Paris), Stefanny Irawan.

Penutup dari Redaksi SepociKopi.

Kos Plemahan, 10.10.2010, 00.13 AM.