Afeksi 34 – Nisan Chairil Anwar

: RIP Chairil Anwar (26 Juli 1922 – 28 April 1949)

 

/bukan kematian benar menusuk kalbu/keridlaanmu menerima segala tiba/tak kutahu setinggi itu atas debu/dan duka maha tuan bertahta/

 

Makam Chairil AnwarPuisi tersebut seperti tombak yang menghujam ulu jantung saya. Sakit, pedih, dan sedih. Saya bisa merasakan kehilangan yang mendalam, seperti perasaan Chairil Anwar kehilangan neneknya, lalu menuliskan dalam puisi berjudul Nisan tersebut.

 

Sejak saat itu, saya tergila-gila dengan karya Chairil Anwar. Memang, zaman Sekolah Dasar saya membaca puisi Aku, yang menjadi bacaan wajib. Namun dampaknya tidak besar. Biasa-biasa saja. Saya membaca ulang puisi-puisi lainnya. Beberapa yang mengena di hati saya adalah Yang Terampas dan Yang Putus, Krawang-Bekasi, Doa, Kesabaran, dan Pemberian Tahu.

 

Datanglah zaman gila. Saya terseret arus euforia film Ada Apa Dengan Cinta. Sumpah! Tokoh Rangga itu Antok Serean banget. Saya berjuang naik angkot Gresik-Surabaya, yang penuh sesak pedagang pasar, antri desak-desakan untuk dapat tiket, lalu menonton dengan takjub. Perjuangan tersebut saya lakukan tiga kali, alias menonton film AADC tiga kali.

 

Aku SumandjayaTidak hanya sampai di situ. Saya terbawa karakter Rangga. Sehari-hari berlagak cuek, sinis, dan tertutup. Rambut gondrong sebahu. Baju dan celana hitam. Ke mana-mana bawa buku. Oh, itu belum apa-apa. Saya berburu buku Aku yang dipegang Rangga. Pokoknya harus dapat. Dan mukjizat itu turun. Saya mendapatkan di toko buku loak Jl. Semarang, Surabaya.

 

Saya juga membeli VCD AADC, sekaligus melengkapi koleksi buku Chairil Anwar. Termasuk karya terjemahannya Pulanglah Dia Si Anak Hilang karya Andre Gide. Saya membacanya, meresapi maknanya, sampai beberapa hapal di luar kepala. Kalau dipikir-pikir, ini kegilaan yang luar biasa. Bagaimana mungkin saya bisa dikendalikan seseorang yang sudah meninggal dunia?

 

Begitulah. Kekuatan karya sastra adalah menginspirasi pembacanya dan tak lekang ditelan zaman. Lihatlah, sampai sekarang karyanya masih dibaca banyak orang.

 

Ada tiga hal yang saya sukai dari karya Chairil Anwar, yakni diksi, visualisasi, dan emosi. Ia tidak sembarangan memilih kata. Penggambaran puisi begitu hidup. Dan ini yang paling penting, yang selalu saya jadikan pegangan dalam menulis: emosi. Tulisan yang ada nyawanya, sehingga pembaca terlibat dan terseret ke dalamnya.

 

Ingat kalimat Chairil Anwar ini “hidup hanya menunda kekalahan”? Yang menonjok di saya justru kalimat ini “nasib adalah kesunyian masing-masing”. Kalau kamu?

 

Chairil AnwarHari ini 64 tahun Chairil Anwar wafat. Saya berharap ruhnya tersenyum bahagia karena begitu banyak orang mengenangnya. Rest in peace, Chairil Anwar.

 

Kaliasin Surabaya, 28.04.2013, 04.19 WIB.