Erna, Nina, Niken. Sahabat juang di Surabaya menyapa di BBM. Berbagi kabar gembira, melahirkan perpustakaan independen. Saya terlecut, bisa bantu apa? Posisi di Madiun. Kalau di Surabaya, siap gotong-royong, kerja tanpa bayaran, demi menjadi bagian literasi. Sejauh ini, hanya bisa menyumbang pemikiran dan berbagi naskah cerpen terbaik. Saya terharu menatap foto-foto pembukaan Parikesit & No Label Library, di Jl. Kutisari Gang I No.07 Surabaya, tanggal 14 Pebruari 2015. Semoga ke depan bertumbuh, berkembang, berbuah kebaikan bagi semua orang. Amin.

Saya mengenang sejarah. Mimpi masa kecil bikin perpustakaan pribadi dan taman bacaan untuk umum. Sampai sekarang belum menjadi kenyataan. Demi menjaga mimpi, saya mengabdikan diri pada orang-orang yang punya mimpi sama, punya langkah maju lebih dulu. Inilah sekelumit cerita selama hidup di Surabaya.

Diana AV Sasa. Pertama kenal dalam peluncuran buku Para Penggila Buku di C2O Library, Surabaya. Dia memikat saya dengan kobaran semangat perubahan setiap kali bicara literasi. Entah apa yang merasukinya. Kegilaan pada buku dan baca-tulis adalah kegilaan tanpa batas. Tetek-bengek proses kreatif, perkembangan industri buku, koleksi bacaan dalam dan luar negeri, ngelontok dalam otaknya. Jujur, saya sempat sungkan. Pasalnya, dia lebih maskulin ketimbang saya yang flamboyan. Maklum, saat itu saya masih jadi pemuda “baik-baik” dan membentengi diri dari mo-li-mo. Belum paham jeroan hidup.

Antok Serean & Dbuku BibliopolisDbuku Bibliopolis, anak rohani Diana AV Sasa. Saya cawe-cawe bersama puluhan pegiat literasi di Surabaya. Pembukaan di Royal Plaza semarak. Saya duduk cantik di depan, menerima tamu. Kirana Kejora, Vicky Burki, Suparto Brata, Budi Darma, dan nama besar lain hadir. Inilah pesta literasi, pecinta buku tumplek-blek jadi satu. Di ujung acara, Diana AV Sasa tak sanggup menahan air mata, berderai jatuh mengucapkan terima kasih. Saya mrebes mili.

Perjalanan perpustakaan laiknya perjalanan hidup. Berliku-liku, jatuh-bangun, menguatkan mental penggeraknya. Dbuku Bibliopolis kehabisan energi. Terpaksa pindah ke rumah mungil di Karangrejo. Sekarang, Diana AV Sasa menempuh jalan sunyi, menghidupkan anak rohaninya di kota kecil Magetan, Jawa Timur. Lihatlah, tempaan keras tak menyurutkan langkahnya. Terus bergerak, berpijak pada keyakinan, dunia literasi adalah hidupnya. Angkat topi untuk Diana AV Sasa.

Antok Serean - Moderator Rumah Baca TjarakaSaya ditelepon nomor asing, meminta menjadi moderator pembukaan perpustakaan Tjaraka. Saya mengiyakan. Datang, jumpa sahabat lama. Nisa, Niken, Suparto Brata, Adi Toha, Shofa, dan lainnya. Di tengah acara, Lina Kelana, Aksan, datang jauh dari Lamongan. Acara santai, akrab, dan gayeng. Setelah makan malam, saya izin pamit karena ada keperluan. Batin dan pikir terasa kaya. Kelahiran Tjaraka laiknya kelahiran bayi mungil. Berkah hidup di dunia.

C2O Library. Kathleen Azali membuka rumahnya dan koleksi buku langkanya untuk umum. Tak terhitung saya bekerjasama dan hadir dalam acaranya. Takjub dengan buku-buku asing yang tak mungkin didapatkan di pasaran Indonesia. Di perpustakaan ini, saya bertemu banyak orang dari beragam latar belakang, beragam visi hidup, dan beragam kepentingan. Semuanya memperkaya jiwa. Sering, saya rindu duduk lesehan, bercakap apa saja sampai lupa pulang.

Balik ke masa kini. Parikesit & No Label Library adalah bayi yang menggeliat sehat menyapa semesta. Saya berharap, suatu saat bisa mengunjunginya. Melihat dari dekat pancaran semangat di jiwanya. Sekarang, saya hanya bisa menyambung doa kesehatan dari kota kecil Madiun. Semoga masa depan cerah berpihak pada orang-orang yang berdikari menghidupkan budaya literasi. Amin.

Madiun, 17.02.2015, 07.49 WIB

Tahun 2013 saya ke Kediri, bercakap dengan teman gerakan LGBT. Diskusi soal agama, pasang-surut gerakan, dan dilema identitas gender. Dia mengeluh, diperlakukan tidak adil dalam suatu acara. Panitia menilainya sebagai lesbian. Padahal, dia priawan. Memang, saat itu diksi priawan belum populer. Dia dialog dengan panitia, yang berkeras membagi peserta dalam tiga kategori: hetero, gay, dan lesbian. Dengan mangkel dan nggerundel, dia mengikuti acara dalam barisan lesbian, yang tidak mewakili identitas gendernya.

Sekarang, tahun 2015. Poedjiati Tan mengunggah ucapan di Grup ILGA Facebook: For the first time third gender Indonesia “Priawan” declare for their gender identity and we call them Priawan. Congratulation for Persatuan Priawan Indonesia. Ardhanary Institute mengunggah status Facebook, mengucapkan selamat atas terbentuknya Persatuan Priawan Indonesia. Semangat berjuang untuk terwujudnya pengakuan identitas gender Priawan. Akun Persatuan Priawan Facebook berbagi kabar bahagia: Puji syukur atas terbentuknya Persatuan Priawan Indonesia. Persatuan Priawan Indonesia adalah jaringan kerja antar priawan dan pusat informasi mengenai priawan Indonesia. Bersama berjuang untuk hak-hak priawan. Griya Patria, Jakarta, 15 Pebruari 2015.

Priawan, dalam kenyataan hidup, kehadirannya sama dengan kehidupan itu sendiri. Namun kerap diabaikan, ada dianggap tiada. Hidup dalam ruang sunyi, tak terbaca khalayak ramai. Sekarang, zaman berubah, era berganti, manusia tergerak bangkit, memperjuangkan yang setara bagi hidupnya. Kelahiran Persatuan Priawan Indonesia bak teriakan nyaring menggugah siapapun yang terpejam. Bukalah mata raga, mata jiwa. Priawan ada, bagian tak terpisahkan dari keragaman seksualitas Indonesia. Maka, pengakuan identitas gender Priawan adalah wajib, tak terbantahkan.

Saya turut gembira, meski tak berkontribusi apa-apa. Laksana melihat cerah matahari pagi memancarkan harapan indah menghangatkan muka bumi. Memang, sudah saatnya, individu maupun kelompok LGBTIQ, berdikari di atas kaki sendiri. Berjuang dengan caranya sendiri, berkelindan dalam jaringan, membangun kekuatan bersama, mencerahkan orang-orang yang masih memandang sebelah mata. Salut untuk Persatuan Priawan Indonesia. Semoga kobaran semangat tetap terjaga, kian berdaya, menciptakan yang terbaik bagi kemajuan priawan Indonesia. Selamat. Salam juang!

Madiun, 18.02.2015, 07.48 WIB

: cerita cucuk lampah

Lelaki tampan muncul dari balik tirai biru. Mengenakan busana adat Jawa. Di belakangnya, sepasang pengantin memesona mata dalam busana kuning keemasan, disusul putri domas dan manggala, dengan busana serupa. Lelaki tampan itu melangkah pelan, mengikuti gending gamelan, setapak demi setapak. Ekspresi wajah, gerak tangan, dan langkah kaki, seolah berbahasa indah. Puitis mengantarkan sepasang pengantin ke pelaminan, lalu kembali hilang di balik tirai biru.

Tetamu undangan cuek. Lebih memilih makan emping melinjo, minum es degan, atau rokokan. Saya eksis mengambil foto dari berbagai sudut. Lalu membuka kancing baju, mengipas-ngipas dengan bungkus snack. Panas, sumpek, pengap. Saya ngacir ke belakang, dekat pohon rindang. Mengobrol ngalor-ngidul dengan teman lama yang jarang jumpa.

Suasana tenang berubah heboh. Tetamu yang dicekam bosan seketika cerah mata. Ada apa? Simbok di samping saya berseloroh,”Wandu’ne ayu kinyis-kinyis.” Untung saya tinggi. Tanpa berdesakan, bisa menyorot pusat keriuhan. Rupanya lelaki tampan berubah gadis cantik. Busana kedua warna merah muda. Rambutnya digelung panjang, melingkar jatuh di bahu kanan. Kerling matanya menebarkan bius goda. Gerak tangan dan langkah kaki gemulai, menuju pelaminan. Sepasang pengantin nyaris terabaikan. Tetamu terpusat pada gadis cantik itu. Bersiul, berceloteh, menggoda gemas, tertawa bungah.

Saya menyelinap ke barisan depan. Suasana berubah total. Bosan menjadi gayeng. Tetamu tak puas duduk, banyak yang berdiri. Apalagi saat gadis cantik itu meraih pengeras suara, isyarat memberi hiburan. Pembuka, guyonan pengocok perut. Lalu menyanyi Bukak Sithik Joss. Gegap gempita. Suara serak-serak basah, dipadu goyang pinggul, dan goda pada tetamu di barisan depan, melunturkan panas-pengap-sumpek menjadi sejuk-bungah-bahagia. Bahkan, ketika usai, tetamu menjadikan bahan obrolan. Banci bikin acara semarak-ramai-gayeng-heboh-menyenangkan semua orang.

Di kampung saya lagi musim kawin. Eh, musim nikah. Sejak awal tahun, sudah tiga pernikahan. Dua resepsi mengundang cucuk lampah seperti tertutur di atas. Satu resepsi tidak, berhubung acaranya sederhana. Saya sempat guneman dengan sesepuh kampung, yang bertugas mengawal prosesi temu manten. Katanya, sampai Juni 2015, empat pasangan sudah antri minta dinikahkan. Oh. Saya pikir, apa sih enaknya menikah? Entahlah. Saya belum niat ke arah sana. Yang pasti, saya senang sang wadam mendapatkan kesempatan mengekspresikan diri, dihargai sebagai manusia bermartabat, dipandang positif, dan diajeni profesinya.

Madiun, 13.02.2015, 09.06 WIB

*) Wadam: wanita adam. Saya sengaja menggunakan lema ini. Tujuannya, mempopulerkan ke kalangan muda, sekaligus upaya menetralkan nilai. Konon, Orde Baru melarang penggunaan lema ini karena sama dengan nama Nabi Adam. Lalu diganti waria: wanita pria.

: tafsir bebas pemikiran Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer mengkritik para pendoa, sejajar para peminta-minta. Berdoa, dipandang tindakan irasional, percaya membabi-buta pada akhirat, pada janji kosong surga-neraka, pada entitas khayalan. Lantas, abai kenyataan hidup, fakta di depan mata. Di titik inilah beliau melontarkan kritik: Manusia tak berdaya sebab memasrahkan keberdayaan pada kekosongan.

Sikap beliau tegas: Menjunjung daya-upaya manusia, meletakkan individu sebagai poros kekuatan. Perubahan hidup, hanya mungkin dilakukan dengan mengoptimalkan cipta, rasa, raga, dan karsa. Penggambaran lelaku ini bisa dipelajari pada penokohan Nyai Ontosoroh dalam Tetralogi Buru.

Saya kira, sikap beliau bersifat politis dan sosial, bukan pribadi. Dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian, beliau menyesalkan para pendoa, yang asyik-masyuk memuja langit, sementara ketimpangan bertebaran di muka bumi. Sekali lagi, menurut beliau, berdoa adalah sia-sia.

Saya memiliki persepsi serupa tapi berbeda.

Bagi saya, doa untuk kepentingan manusia. Bukan kepentingan sesuatu di luar sana, semisal Tuhan. Berdoa, lelaku menjaga harmoni manusia dengan alam semesta, keselarasan mikrokosmos dengan makrokosmos. Jadi, berdoa, bagi saya, tidak mengemis sesuatu. Melainkan upaya kembali ke pusat diri, esensi, demi menghidupkan segenap potensi. Saya menyebutnya doa syukur. Membebaskan diri dari beragam ikatan dunia, melebur satu dalam semesta, menyerap penuh energi positif, menghidupkan cipta, rasa, raga, karsa, lalu bangkit dengan daya segar. Doa syukur menguatkan keyakinan, membakar semangat, berkarya lebih baik lagi, dalam hidup yang sekali ini.

Awalnya, saya menyimpan hal ini sendiri, menilai sebagai urusan pribadi. Tak yakin, apa berguna bagi orang lain. Namun sekarang, setiap pagi, saya memancarkan energi positif dalam bentuk #doapagi, yang saya bagi melalui status BBM, Facebook, Twitter, dan Path. Tak ada yang salah kan dengan hal ini?

Berguna atau tidak bagi yang baca, saya tak peduli. Saya tak punya kepentingan selain berbagi semangat membuka hari. Sekali lagi, doa syukur untuk kepentingan saya pribadi. Bila itu menggerakkan orang lain, anggaplah bonus manfaat nilai kebaikan.

Madiun, 12.02.2015, 22.33 WIB

Musik, rokok filter, dan kopi hitam. Sesajen wajib sebelum menghadap sang laptop. Selera rokok berubah. Sempat setia StarMild, sekarang selingkuh Apache atau Gudang Garam Surya. Kopi hitam, gelas standar, komposisi 1:1: satu sendok makan gula + satu sendok makan bubuk kopi. Musik, saya uraikan di sini. Monggo dibaca. Semoga bisa jadi bahan referensi.

Saya percaya mood diciptakan, bukan terciptakan. Lagi nggak mood, maka nggak menulis. Ah, itu alasan para pemalas. Cari solusinya dong! Pengalaman bertahun-tahun, musik mampu mengubah mood mampat menjadi cair. Pilih pelan atau menghentak sesuai mood yang diinginkan. Masuk ke irama, syair, dan suara penyanyi. Perlahan, mood berubah.

Ini musik yang setia saya dengarkan dan belum/tidak bosan. Saya pilih sesuai kebutuhan. Urutan sekedar urutan, tidak menunjukkan nilai tertentu. Bosan satu lagu, pindah lagu lain, yang bikin nyaman di otak dan batin.

01. Moonlight Sonata
02. Kitaro: Caravansary
03. OST. Gie. Sita RSD: Donna Donna Donna
04. Norah Jones: Album Come Away With Me, Feels Like Home, Not Too Late
05. Lara Fabian: Adagio, Jet’aime, Nath Je Suis Malade
06. Michael Buble: Kissing A Fool
07. Anggun: Always You, Want You to Want Me, Still Reminds Me

08. Kompilasi Dangdut
(Erie Susan: Hujan), (Evie Tamala: Ada Rindu, Mendamba, Seribu Purnama, Nyanyian Rindu, Sebuah Janji), (Iis Dahlia: Arjun, Payung Hitam, Seroja), (Ine Sinthya: Prasangka, Di Simpang Jalan, Sesal), (Iyeth Bustami: Album Laksmana Raja di Laut), (Rere Reina: Semakin Sayang Semakin Kejam, Cinta di Kepergianmu), (Rita Sugiarto: Biarlah Merana, Cinta Berawan, Dua Kursi, Ku Ingin, Tersisih)

09. Kompilasi Penyanyi Pop Laki-laki
(Muse: Hysteria), (Sting: Desert Rose), (Coldplay: Trouble), (Enrique Iglesias: Ring My Bells), (Westlife: Soledad), (Backstreet Boys: I Need You Tonight), (Air Supply: Making Love Out of Nothing at All), (Randy Pangalila: Lewat Semesta), (Exist: Buih Jadi Permadani), (Anuar Zain: Sedetik Lebih), (Dewa: Kosong), (Ebiet G Ade: Camelia IV), (Glenn Fredly: Akhir Cerita Cinta)

10. Kompilasi Penyanyi Pop Perempuan
(Siti Nurhaliza: Percayalah), (Aishah: Bayangan), (Agnes Mo: Rindu), (RSD: Satu Bintang di Langit Kelam), (Dewi “DEE” Lestari: Pulang), (Jaclyn Victor: Jagalah Diri), (Andien: Detik Tak Bertepi), (KD: Cahaya), (Potret/Melly: Maafkan Saya Soewondo), (Mulan Jameela: Cinta Mati 3), (Ratu/Pinkan Mambo: Di Manakah Kau Ada), (Reza Artamevia: Cinta Kita), (Rita Effendy: Selamat Jalan Kekasih), (Rossa: Bicara Pada Bintang), (Ruth Sahanaya: Keliru), (Sheila Madjid: Ku Mohon), (Titi DJ: Sang Dewi, Sempat Melayani Hatimu), (Vina Panduwinata: September Ceria), (Misha Omar: Pulangkan), (Sarasdewi: Lembayung Bali), (Acha Septriasa & Irwansyah: Ada Cinta)

(Alicia Keys: Never Felt This Way), (Britney Spears: Everytime), (Celine Dion: I Surrender), (Christina Aguilera: Pero Me Acuerdo De Ti), (Jessica Simpson: I Wanna Love You Forever), (Mariah Carey: My All, Through The Rain, Can’t Take That Away), (Utada Hikaru: First Love), (Thr Carpenters: Close to You), (Charice: Note to God), (Fergie: Won’t Let You Fall), (Frente: Bizarre Love Triangle), (Jewel: Foolish Game), (Sade: By Your Side), (Amy Winehouse & Tony Bennett: Body and Soul).

Madiun, 05.02.2014, 15.32 WIB