: cerita cucuk lampah

Lelaki tampan muncul dari balik tirai biru. Mengenakan busana adat Jawa. Di belakangnya, sepasang pengantin memesona mata dalam busana kuning keemasan, disusul putri domas dan manggala, dengan busana serupa. Lelaki tampan itu melangkah pelan, mengikuti gending gamelan, setapak demi setapak. Ekspresi wajah, gerak tangan, dan langkah kaki, seolah berbahasa indah. Puitis mengantarkan sepasang pengantin ke pelaminan, lalu kembali hilang di balik tirai biru.

Tetamu undangan cuek. Lebih memilih makan emping melinjo, minum es degan, atau rokokan. Saya eksis mengambil foto dari berbagai sudut. Lalu membuka kancing baju, mengipas-ngipas dengan bungkus snack. Panas, sumpek, pengap. Saya ngacir ke belakang, dekat pohon rindang. Mengobrol ngalor-ngidul dengan teman lama yang jarang jumpa.

Suasana tenang berubah heboh. Tetamu yang dicekam bosan seketika cerah mata. Ada apa? Simbok di samping saya berseloroh,”Wandu’ne ayu kinyis-kinyis.” Untung saya tinggi. Tanpa berdesakan, bisa menyorot pusat keriuhan. Rupanya lelaki tampan berubah gadis cantik. Busana kedua warna merah muda. Rambutnya digelung panjang, melingkar jatuh di bahu kanan. Kerling matanya menebarkan bius goda. Gerak tangan dan langkah kaki gemulai, menuju pelaminan. Sepasang pengantin nyaris terabaikan. Tetamu terpusat pada gadis cantik itu. Bersiul, berceloteh, menggoda gemas, tertawa bungah.

Saya menyelinap ke barisan depan. Suasana berubah total. Bosan menjadi gayeng. Tetamu tak puas duduk, banyak yang berdiri. Apalagi saat gadis cantik itu meraih pengeras suara, isyarat memberi hiburan. Pembuka, guyonan pengocok perut. Lalu menyanyi Bukak Sithik Joss. Gegap gempita. Suara serak-serak basah, dipadu goyang pinggul, dan goda pada tetamu di barisan depan, melunturkan panas-pengap-sumpek menjadi sejuk-bungah-bahagia. Bahkan, ketika usai, tetamu menjadikan bahan obrolan. Banci bikin acara semarak-ramai-gayeng-heboh-menyenangkan semua orang.

Di kampung saya lagi musim kawin. Eh, musim nikah. Sejak awal tahun, sudah tiga pernikahan. Dua resepsi mengundang cucuk lampah seperti tertutur di atas. Satu resepsi tidak, berhubung acaranya sederhana. Saya sempat guneman dengan sesepuh kampung, yang bertugas mengawal prosesi temu manten. Katanya, sampai Juni 2015, empat pasangan sudah antri minta dinikahkan. Oh. Saya pikir, apa sih enaknya menikah? Entahlah. Saya belum niat ke arah sana. Yang pasti, saya senang sang wadam mendapatkan kesempatan mengekspresikan diri, dihargai sebagai manusia bermartabat, dipandang positif, dan diajeni profesinya.

Madiun, 13.02.2015, 09.06 WIB

*) Wadam: wanita adam. Saya sengaja menggunakan lema ini. Tujuannya, mempopulerkan ke kalangan muda, sekaligus upaya menetralkan nilai. Konon, Orde Baru melarang penggunaan lema ini karena sama dengan nama Nabi Adam. Lalu diganti waria: wanita pria.

: tafsir bebas pemikiran Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer mengkritik para pendoa, sejajar para peminta-minta. Berdoa, dipandang tindakan irasional, percaya membabi-buta pada akhirat, pada janji kosong surga-neraka, pada entitas khayalan. Lantas, abai kenyataan hidup, fakta di depan mata. Di titik inilah beliau melontarkan kritik: Manusia tak berdaya sebab memasrahkan keberdayaan pada kekosongan.

Sikap beliau tegas: Menjunjung daya-upaya manusia, meletakkan individu sebagai poros kekuatan. Perubahan hidup, hanya mungkin dilakukan dengan mengoptimalkan cipta, rasa, raga, dan karsa. Penggambaran lelaku ini bisa dipelajari pada penokohan Nyai Ontosoroh dalam Tetralogi Buru.

Saya kira, sikap beliau bersifat politis dan sosial, bukan pribadi. Dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian, beliau menyesalkan para pendoa, yang asyik-masyuk memuja langit, sementara ketimpangan bertebaran di muka bumi. Sekali lagi, menurut beliau, berdoa adalah sia-sia.

Saya memiliki persepsi serupa tapi berbeda.

Bagi saya, doa untuk kepentingan manusia. Bukan kepentingan sesuatu di luar sana, semisal Tuhan. Berdoa, lelaku menjaga harmoni manusia dengan alam semesta, keselarasan mikrokosmos dengan makrokosmos. Jadi, berdoa, bagi saya, tidak mengemis sesuatu. Melainkan upaya kembali ke pusat diri, esensi, demi menghidupkan segenap potensi. Saya menyebutnya doa syukur. Membebaskan diri dari beragam ikatan dunia, melebur satu dalam semesta, menyerap penuh energi positif, menghidupkan cipta, rasa, raga, karsa, lalu bangkit dengan daya segar. Doa syukur menguatkan keyakinan, membakar semangat, berkarya lebih baik lagi, dalam hidup yang sekali ini.

Awalnya, saya menyimpan hal ini sendiri, menilai sebagai urusan pribadi. Tak yakin, apa berguna bagi orang lain. Namun sekarang, setiap pagi, saya memancarkan energi positif dalam bentuk #doapagi, yang saya bagi melalui status BBM, Facebook, Twitter, dan Path. Tak ada yang salah kan dengan hal ini?

Berguna atau tidak bagi yang baca, saya tak peduli. Saya tak punya kepentingan selain berbagi semangat membuka hari. Sekali lagi, doa syukur untuk kepentingan saya pribadi. Bila itu menggerakkan orang lain, anggaplah bonus manfaat nilai kebaikan.

Madiun, 12.02.2015, 22.33 WIB

Musik, rokok filter, dan kopi hitam. Sesajen wajib sebelum menghadap sang laptop. Selera rokok berubah. Sempat setia StarMild, sekarang selingkuh Apache atau Gudang Garam Surya. Kopi hitam, gelas standar, komposisi 1:1: satu sendok makan gula + satu sendok makan bubuk kopi. Musik, saya uraikan di sini. Monggo dibaca. Semoga bisa jadi bahan referensi.

Saya percaya mood diciptakan, bukan terciptakan. Lagi nggak mood, maka nggak menulis. Ah, itu alasan para pemalas. Cari solusinya dong! Pengalaman bertahun-tahun, musik mampu mengubah mood mampat menjadi cair. Pilih pelan atau menghentak sesuai mood yang diinginkan. Masuk ke irama, syair, dan suara penyanyi. Perlahan, mood berubah.

Ini musik yang setia saya dengarkan dan belum/tidak bosan. Saya pilih sesuai kebutuhan. Urutan sekedar urutan, tidak menunjukkan nilai tertentu. Bosan satu lagu, pindah lagu lain, yang bikin nyaman di otak dan batin.

01. Moonlight Sonata
02. Kitaro: Caravansary
03. OST. Gie. Sita RSD: Donna Donna Donna
04. Norah Jones: Album Come Away With Me, Feels Like Home, Not Too Late
05. Lara Fabian: Adagio, Jet’aime, Nath Je Suis Malade
06. Michael Buble: Kissing A Fool
07. Anggun: Always You, Want You to Want Me, Still Reminds Me

08. Kompilasi Dangdut
(Erie Susan: Hujan), (Evie Tamala: Ada Rindu, Mendamba, Seribu Purnama, Nyanyian Rindu, Sebuah Janji), (Iis Dahlia: Arjun, Payung Hitam, Seroja), (Ine Sinthya: Prasangka, Di Simpang Jalan, Sesal), (Iyeth Bustami: Album Laksmana Raja di Laut), (Rere Reina: Semakin Sayang Semakin Kejam, Cinta di Kepergianmu), (Rita Sugiarto: Biarlah Merana, Cinta Berawan, Dua Kursi, Ku Ingin, Tersisih)

09. Kompilasi Penyanyi Pop Laki-laki
(Muse: Hysteria), (Sting: Desert Rose), (Coldplay: Trouble), (Enrique Iglesias: Ring My Bells), (Westlife: Soledad), (Backstreet Boys: I Need You Tonight), (Air Supply: Making Love Out of Nothing at All), (Randy Pangalila: Lewat Semesta), (Exist: Buih Jadi Permadani), (Anuar Zain: Sedetik Lebih), (Dewa: Kosong), (Ebiet G Ade: Camelia IV), (Glenn Fredly: Akhir Cerita Cinta)

10. Kompilasi Penyanyi Pop Perempuan
(Siti Nurhaliza: Percayalah), (Aishah: Bayangan), (Agnes Mo: Rindu), (RSD: Satu Bintang di Langit Kelam), (Dewi “DEE” Lestari: Pulang), (Jaclyn Victor: Jagalah Diri), (Andien: Detik Tak Bertepi), (KD: Cahaya), (Potret/Melly: Maafkan Saya Soewondo), (Mulan Jameela: Cinta Mati 3), (Ratu/Pinkan Mambo: Di Manakah Kau Ada), (Reza Artamevia: Cinta Kita), (Rita Effendy: Selamat Jalan Kekasih), (Rossa: Bicara Pada Bintang), (Ruth Sahanaya: Keliru), (Sheila Madjid: Ku Mohon), (Titi DJ: Sang Dewi, Sempat Melayani Hatimu), (Vina Panduwinata: September Ceria), (Misha Omar: Pulangkan), (Sarasdewi: Lembayung Bali), (Acha Septriasa & Irwansyah: Ada Cinta)

(Alicia Keys: Never Felt This Way), (Britney Spears: Everytime), (Celine Dion: I Surrender), (Christina Aguilera: Pero Me Acuerdo De Ti), (Jessica Simpson: I Wanna Love You Forever), (Mariah Carey: My All, Through The Rain, Can’t Take That Away), (Utada Hikaru: First Love), (Thr Carpenters: Close to You), (Charice: Note to God), (Fergie: Won’t Let You Fall), (Frente: Bizarre Love Triangle), (Jewel: Foolish Game), (Sade: By Your Side), (Amy Winehouse & Tony Bennett: Body and Soul).

Madiun, 05.02.2014, 15.32 WIB

Akhirnya saya tumbang. Jatuh sakit. Kemarin, seharian terkapar di kasur. Kepala pusing, mata njarem, badan lemas. Saya mengatasi dengan obat warung. Namun Ibu berkicau agar berobat ke Pak Tukiran, dokter langganan di Uteran, Madiun. Saya menurut, disuntik dan diberi segepok obat, dan wejangan: makan yang halus-halus dulu, berhenti minum kopi, istirahat cukup alias kurangi begadang, kurangi makan asam karena gejala maag. Syukurlah, hari ini baikan.

Niat kuda; tenaga ayam. Inginnya tancap gas kemampuan diri, apa daya malah terpuruk lunglai. Di atas kasur, saya berpikir, kok bisa sakit ya? Saya memutar waktu sebulan terakhir. Prinsip Sang Menteri Idola, Susi Pujiastuti, merasuki diri. Kerja, kerja, kerja. Cepat, cepat, cepat. Saya telah bekerja gila-gilaan. Menulis novel populer, riset dan merevisi novel lama, menulis blog, menulis cerpen, bikin inovasi teknik menulis, membaca beragam ilmu lama dan ilmu baru, mencermati perkembangan susastra dan gerakan LGBT di Indonesia, dan sebagainya. Memang, saya merasakan kemajuan luar biasa. Namun di saat yang sama, badan protes, melemah, lalu sakit.

Saya bersyukur diberi sakit. Kesempatan mahal menafsir ulang semua kegiatan, sekaligus tahu batas ketahanan badan. Saya mengubah jadwal. Sebelumnya, tidur 4 jam sehari. Sekarang, meningkatkan 6 jam sehari. Tubuh, jiwa, dan pikiran harus diberi porsi seimbang. Menjaga harmoni, itu intinya. Tetap tidak menurunkan target; lebih efektif menggunakan waktu. Ditambah komplimen makan dan olahraga teratur. Semoga cara ini berdampak sehat walafiat. Amin.

Kala sakit, tersadar pentingnya menghargai sehat. Tiada guna segala pencapaian kalau tak bisa menikmatinya. Sekarang, saya menjadikan sehat sebagai prioritas utama. Penghargaan pada diri sendiri, sekaligus wujud terima kasih pada berkah yang dilimpahkan Sang Pemberi Hidup.

Madiun, 11.02.2015, 08.06 WIB

Tidak! Terbuka adalah hak, bukan kewajiban. Jadi, para LGBT tak perlu risau, galau, bin paranoid. Santai, bebaskan dari tuntutan itu. Keputusan ada di tangan sendiri, bukan orang lain.

Identitas gender seperti data KTP. Bila ada orang bertanya agama kamu apa, bisa menjawab dengan menunjukkan kartu, bungkam alias bukan urusan kamu, atau bilang tidak/belum punya agama. Identitas gender dibentuk LGBT sendiri, di pikiran, rumusan satu dari banyak kategori yang mewakili pribadi. Lesbian, gay, biseksual, transgender, andro, top, bottom, versatile, butchie, femme, dan masih banyak lagi. Tak usah bingung kalau tak ada yang cocok. Hakikatnya, identitas gender hanya label. Tanpa label, ya baik-baik saja.

Yang utama justru penerimaan diri bab orientasi seksual. Prosesnya kadang belibet, muter-muter dalam batin. Pertanyaan dasar para homo, kok suka laki ya, padahal yang lain suka perempuan? Sekali lagi, jangan puyeng, apalagi melarikan diri, itu bikin capek. Hadapi! Kita hidup di zaman terang-benderang ilmu pengetahuan. Jawaban tersedia lengkap. Contoh jawaban, teori Alfred Kinsey. Manusia tak ada heteroseksual absolut atau homoseksual absolut, semua biseksual, dengan kadar berbeda-beda. Lihat ke batin, kira-kira berapa persen ketertarikan itu. Terima apa adanya, sebab tak ada yang salah. Lalu lanjutkan hidup. Nikmati, ekspresikan, raih bahagia. Oya, orientasi seksual tidak beku, tapi cair. Bisa berubah kapan saja. Jadi, jangan kaget kalau pagi suka laki, sore suka perempuan, malam suka waria. Yang penting jujur pada diri sendiri. Itu lebih enak kan?

Kalau niat terbuka, pertimbangkan pada siapa dan untuk kepentingan apa. Orang lain hidup dengan sistem nilai beragam, tak selalu selaras. Malas banget kan niat baik membuka diri direspon khotbah ala ustad ndekek, pitutur ngawur soal kembali ke jalan yang benar, atau dijauhi tanpa alasan yang jelas. Caranya, belajar dari pengalaman. Contoh Dede Oetomo. Setelah urusan batin beres, pengetahuan ngelontok, kesimpulan akhir: homoseksual benar/dibenarkan, bilang ke keluarga dan para sahabat, yang berbuah pelukan hangat. Jangan meniru Jupiter, artis sinetron, yang terbuka di televisi dengan merendahkan dirinya sendiri sebagai pendosa, manusia kotor, hamba laknat, lalu mengaku tobat. Ampun deh! Segitunya.

Sejatinya, sebagai manusia, yang esensi adalah tindakan, bukan label. Apa, bukan siapa. Identitas gender Dede Oetomo seolah lebur, tertutupi beragam aktivitas yang menginspirasi banyak orang. Itu lebih bermanfaat ketimbang meributkan homo-homoan. Akhir celoteh ini, terbuka atau tidak, terserah pribadi masing-masing. Pilih yang bikin damai di batin. Tak ada tuntutan, apalagi keharusan kok. Tetaplah menggenggam kata hati; jadi empu bagi nurani. Tabik.

Madiun, 03.02.2014, 09.55 WIB