Posts Tagged ‘cerpen gay’

Ngeber, diucapkan laiknya melafalkan “bebek”. Lema ini lazim dipakai gay. Istilah kumpul-kumpul santai, kongkow, nongkrong, cangkrukan. Umumnya, di alun-alun, taman, stadion, café, warung kopi, bantaran sungai, area jembatan. Datang jam sembilan malam ke atas; pulang menjelang pagi.

Karakter manusia, kesamaan saling tarik kesamaan, membentuk kumpulan. Ibu-ibu sosialita eksis arisan. Para hijaber bikin temu tutorial hijab. Penulis betah diskusi karya sastra. Maka, para penggemar pisang berbulu hitam, rela begadang malam-malam.

Ngapain saja sih? Nah, perkara ini, orang awam kerap salah kaprah. Padahal, banyak manfaat positif. Saya merangkumnya berdasarkan pengalaman pribadi. Simak ya.

Pertama, curhat. Kebutuhan dasar ini tak cukup bicara dengan teman hetero. Ada batas abstrak. Sedangkan sesama gay, bicara bebas-lepas-puas, tanpa sekat. Saling paham gejolak pikir dan batin, selaras. Klop!

Kedua, update gosip. Setiap ngeber, selalu dapat hal baru. Celoteh para gay mengalir alami perihal lidah kemayu Syahrini, ciuman panas James Franco, nasib sang duda semok Ricky Martin, jumlah tato Adam Levine, atau rumpik status teman-teman sendiri: siapa jomblo, siapa pasangan baru, siapa pasangan lama, siapa milik umum dan lain sebagainya.

Ketiga, kencan. Ehem, para jomblo akut tebar pesona, menunggu pejantan tangguh. Atau proaktif berkenalan dengan madu segar. Bisa juga ajang kopi darat sosial media, seperti Grindr, JackD, Hornet, Bender dll. Pembuktian, foto dempal di Smartphone bukan bualan.

Keempat, sosialisasi. Pekerja sosial menguatkan jaringan, menyampaikan isu kesehatan, membangun kesadaran HAM, bicara gender dan seksualitas, di lokasi ini. Ngeber, sekalian tambah ilmu. Kalau beruntung, dapat kondom gratis, selebaran gratis, souvenir gratis, Pin BBM gratis, kenalan brondong gratis…

Silakan tambah, bila tahu manfaat lain yang belum tercantum. So, ketimbang meratapi nasib di dalam kamar, mendingan perluas pergaulan dengan ngeber. Yuk, ngeber, yuk!

Madiun, 27.01.2015, 05.54 WIB

Judul: Ganteng
Penulis: Antok Serean
Penerbit: NulisBuku, Jakarta
Cetakan: I, 2013
Tebal: 150 halaman
ISBN: –

Buku GantengBuku ini kompilasi cerpen terbaik saya selama lima tahun proses kreatif. Separuh cerpen pernah saya terbitkan; separuh lainnya baru. Yang pernah terbit: Ustad Ahmad, Ganteng, Air dan Api, Kartu Nama. Yang baru: A, Pras Menggugat Pendongeng, Lelaki Terbakar Api, Pulanglah Gatot, Tole, Seekor Burung Merpati Menebus Dosanya Sendiri.

Ganteng mengangkat sepuluh cerita pendek bertema gay. Cerita cinta beda kelas sosial, cinta pada kekasih yang HIV+, traumatik pelecehan seksual Bapak pada anaknya sendiri, pergulatan hidup pekerja seks gay, kegirangan orangtua tatkala anaknya coming out gay, kritik pada interpretasi agama yang ambigu, dan teropong jiwa aktivis pergerakan LGBT.

Ganteng tidak bicara self stigma lagi—kebencian gay pada dirinya sendiri—, melainkan keberanian menantang dunia luar yang menekannya. Seorang gay yang tangguh, percaya diri, dan bangga pada orientasi seksualnya.

“Kamu HIV positif atau bukan, itu tak mengubah cinta aku pada kamu.”
(Cerpen A)

“Pak, berpasangan kan tidak harus laki-laki dengan perempuan. Bisa laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan waria, waria dengan laki-laki, atau manusia dengan dirinya sendiri?”
(Cerpen Pras Menggugat Pendongeng)

Saya menulis tiga kata itu di cermin kamar mandi dengan jemari: PANGKAS RAMBUT GANTENG. Wajah tampan itu seolah muncul dari balik tulisan. Senyumnya yang manis membangkitkan gairah. Duhai, pemuda tampan, berikan saya seteguk madu asmara. Biar terpuaskan segenap jiwa-raga. Bagilah pesona di setiap jengkal tubuh. Biar hasrat tak lagi mengaduh. Utuh.
(Cerpen Ganteng)

Judul: Sebuah Biola Tanda Cinta
Penulis: Adjie Darmakusuma, Tommy, Yusuf F.R, Insap Al Marshal, Yogi Rezantara, Mahatma, Agust F, Krishna, Indra Rinaldi, Djoko, Sigit, Antok Serean
Penerbit: GAYa NUSANTARA, Surabaya
Cetakan: I, 2008
Tebal: 141 halaman
ISBN: –

Buku Sebuah Biola Tanda CintaTahun 2007. GAYa NUSANTARA ingin membuat buku antologi cerpen bertema gay, naskah dari koleksi Majalah GN. Pak Dede Oetomo memberi kepercayaan pada saya dan Indra Rinaldi untuk menyeleksi 10 cerpen terbaik dari 300 naskah.

Inilah 10 cerpen terbaik tersebut: Iis, Masa Lalu, Satu yang Tak Bisa Lepas, Belakang Langit Biru, Pucuk-pucuk Pinus, Sebuah Biola Tanda Cinta, Surat yang Tak Pernah Terkirim, Saat Hati yang Berbicara, Embun di Atas Bara Kovalima, Sang Diva.

Menjelang proses penerbitan, Pak Dede Oetomo meminta saya dan Indra Rinaldi menyumbangkan cerpen, sebagai bentuk penghargaan. Saya menyumbang cerpen Kampung Lanang; Indra Rinaldi cerpen Surat Buat Bapak. Jadi, total 12 cerpen termuat dalam buku ini.